LOGINBrody langsung melepaskannya, di matanya masih tersisa sedikit kejernihan."Emma, kamu benar-benar nggak mengenaliku? Aku Brody, orang yang paling kamu cintai."Emma hanya menutupi dirinya, jelas masih belum sadar sepenuhnya. Dia bergumam, "Brody? Nggak kenal. Mana Carlos? Mana Carlos-ku?"Brody tertegun di tempat. Akhirnya, dia merasakan bagaimana rasanya hati yang benar-benar mati.Sebelumnya, dia masih bisa menipu dirinya sendiri, mengatakan bahwa Emma hanya sedang marah sesaat dan sengaja membuatnya kesal, tidak mungkin berhenti mencintainya dan jatuh cinta pada orang lain.Namun, keadaan saat ini dengan jelas memberitahunya bahwa di hati Emma, dirinya sudah lama tidak lagi penting! Orang yang paling Emma cintai jelas sudah bukan dia lagi!"Emma ...." Tangan Brody terulur, tetapi hanya membungkus tubuh Emma dengan jasnya. "Dulu aku sudah menyakitimu sampai seperti itu, sekarang gimana mungkin aku masih berani menyakitimu?"Dia tersenyum pahit, lalu duduk kembali di kursi pengemudi.
Emma duduk di restoran Michelin yang elegan, menatap hidangan Prancis yang dulu sangat dia sukai. Namun, kini sama sekali tidak berselera.Brody memandangnya dengan hati-hati dan berkata pelan, "Emma, kamu nggak suka? Mau ganti restoran?""Nggak perlu." Dia menatap Brody tanpa ekspresi. "Apa pun yang ingin kamu katakan, katakan saja. Setelah ini kita putus sepenuhnya, nggak akan bertemu lagi.""Putus sepenuhnya?" Hati Brody terasa ditusuk oleh kata itu. Matanya memerah dan suara seraknya terdengar seperti tercekat."Emma, hubungan kita lebih dari 20 tahun ... kamu benar-benar ingin melepaskannya?""Brody, masih ada yang perlu dibicarakan di antara kita? Aku sudah kasih tempat untuk keluargamu.""Emma, jangan bilang begitu. Anak itu bukan milikku." Wajah Brody penuh penyesalan, "Aku sudah bilang, aku hanya mengakui anak yang kamu lahirkan ...."Brody menatapnya dengan cemas, berusaha mencari sisa cinta di wajahnya. Namun, yang dia dapat hanya tatapan dingin."Brody, cepat bicara. Aku ma
"Brody!" Begitu mendengar kabar dia akan pulang, nenek Brody sudah duduk di sofa menunggu sejak lama."Di mana Emma?" Dia segera melihat ke belakangnya, tapi tidak ada siapa pun."Nenek, dia nggak akan kembali." Luka di wajah Brody belum sembuh. Melihat kondisi Brody, neneknya langsung merasa sakit hati."Nenek, ini aku kembalikan." Brody mengulurkan tangan. Di telapak tangannya, masih gelang giok yang telah diperbaiki dengan benang emas."Emma nggak mau?" Neneknya tertegun, lalu menepuk dada dengan penuh penyesalan."Semua gara-gara wanita hina itu, cucu menantuku sampai kabur!"Brody tidak berkata apa-apa, hanya mendengarkan makiannya."Wanita itu sekarang malah jadi gila, bahkan nggak bisa mengontrol diri di rumah. Aku sudah suruh orang mengirimnya kembali ke GIlbert. Melihatnya saja sudah menyebalkan! Semua gara-gara dia. Kalau nggak, Emma-ku yang baik itu nggak mungkin pergi ....""Tapi, wanita itu juga membuatku sadar sesuatu."Neneknya segera menarik Brody mendekat dan berbisik
Melihat wajah Emma yang marah, Brody tidak membantah. Dia hanya tersenyum tipis.Emma semakin kesal melihat sikapnya. "Brody, kita sudah cerai. Jangan ganggu aku lagi. Kalau kamu terus seperti ini, tokoku juga nggak bisa jalan!"Brody hanya berdiri di sana, menundukkan kepala seperti murid yang sedang dimarahi."Emma, aku nggak tahu cara mendekati orang lain. Aku hanya bisa seperti ini. Dulu aku juga mengejarmu dengan cara seperti ini."Emma tertegun.Memang, Brody tidak pernah pandai mendekati wanita. Dia hanya tahu menunjukkan rasa memiliki dengan cara yang canggung, memakai identitasnya sebagai tuan muda Keluarga Sukarsa agar orang lain tidak mendekati Emma. Dulu, Emma malah tertarik pada cinta yang canggung seperti itu, mengira Brody hanya akan seperti itu padanya selamanya. Siapa sangka, orang seperti itu juga bisa menyakitinya?"Brody, nggak perlu seperti ini." Emma tertawa sinis, "Aku sudah bilang jelas. Kita nggak mungkin lagi."Emma melanjutkan, "Aku dan Carlos juga akan menik
"Emma, lihat aku."Brody berdiri di belakangnya, suaranya penuh keluhan. Emma hanya membuka pintu toko seperti biasa, sama sekali menganggapnya tidak ada."Emma, dengarkan aku."Brody terus mengikuti masuk ke dalam toko, melihatnya dengan terampil menyalakan mesin, mencuci cangkir dan piring. Dia tertegun sejenak. Sesuatu yang dulu dia abaikan, tiba-tiba muncul di ingatannya....."Brody, nanti aku mau menjalani hidup yang santai dan bebas," ucap Emma sambil duduk di bawah langit penuh bintang dengan berselimut dan bahu mereka saling bersandar."Emma, apa pun hidup yang kamu inginkan, aku akan menemanimu." Suara anak laki-laki itu masih polos. Bayangan tersebut adalah sosok mereka saat SMP."Brody, kamu nggak akan mengerti." Gadis itu hanya tersenyum. Anak laki-laki itu malah panik, "Kenapa aku nggak akan mengerti?"Gadis itu ragu sejenak, lalu berkata, "Brody, kamu nanti pasti akan menjadi penerus keluarga. Kamu akan memikul tanggung jawab keluarga dan tekanan perusahaan. Kamu akan te
"Emma, malam ini kamu mau makan apa?"Carlos mendorong troli belanja, berjalan bersama Emma di supermarket. Emma menyebut beberapa menu sambil tersenyum dan Carlos mengiakan satu per satu. Matanya terpancar senyuman dan dia menggenggam tangan Emma lebih erat.Mereka keluar dari supermarket dengan belanjaan penuh."Aku mau kembali ke toko dulu, siapin biji kopi untuk besok." Emma mengayunkan tangan mereka yang saling menggenggam, "Pelukis besar, kamu mau ikut?"Carlos mencium keningnya. "Tentu saja."Kebersamaan mereka yang mesra terlihat oleh semua orang.....Tiba-tiba, Brody melangkah maju dan menarik Emma dengan keras ke dalam pelukannya. Sorot matanya tampak penuh posesif."Emma!" Brody mencengkeram bahunya erat, kecemburuan memenuhi dirinya saat mencium kening Emma."Kenapa! Kenapa kamu membiarkan pria lain sentuh kamu! Emma, kenapa kamu bisa melakukan ini padaku!"Mata Brody memerah, hatinya seperti diremas hingga sakit."Kamu tahu nggak, betapa sakitnya hatiku waktu aku melihatm
Hari-hari berikutnya, Brody sepertinya mulai menyadari sesuatu. Dia mulai tidak pernah meninggalkan Emma sedetik pun. Dia menempel pada Emma sepanjang hari, bahkan saat Emma ke kamar mandi pun dia menunggu di luar.Kadang dari sudut matanya dia melihat Frida berdiri di sudut dengan mata merah, tapi
Emma terbangun di tengah rasa sakit yang tajam. Dia membuka mata dan mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Saat menoleh sedikit, dia melihat Brody duduk di samping tempat tidur. Ada bayangan gelap tipis di bawah matanya."Emma, kamu sudah bangun, ya." Dia langsung mendekat sambil membungkuk
"Emma! Akhirnya kamu bangun juga!"Keesokan harinya saat membuka mata, Emma melihat Brody berbaring di sampingnya. Brody mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Emma dengan sorot mata penuh kecemasan. "Kenapa nggak panggil aku kalau kamu demam? Kamu tahu nggak betapa paniknya aku waktu pulang dan me
Kedua kalinya, Emma memergokinya di rumah sakit sedang menemani mahasiswi itu untuk pemeriksaan kehamilan.Dengan mata merah, dia menjelaskan, "Emma, setengah bulan lalu aku ke luar negeri untuk negosiasi kerja sama, lalu mengalami kecelakaan mobil. Dia yang mempertaruhkan nyawanya, menyelamatkanku







