Share

Bab 2

Author: Maharsa
Emma menatap perjanjian cerai yang sudah ditandatangani itu, hatinya terasa seperti diremas kuat. Frida benar-benar berhasil melakukannya.

Bagus sekali.

Selanjutnya mereka bertiga akan hidup dengan baik, sementara dia mulai hari ini hanya akan hidup untuk dirinya sendiri.

"Emma, hadiah apa yang paling kamu inginkan?" Brody tiba-tiba mendekat dan alisnya sedikit berkerut, "Kenapa aku nggak tahu?"

Sambil berkata demikian, Brody hendak mengambilnya, tapi Emma buru-buru menyimpannya. Brody mengangkat alis saat bertanya, "Sekarang kamu ada yang dirahasiain dari aku?"

Emma tersenyum tipis. "Toh kamu juga rahasia-rahasiaan sama aku, sampai buat orang lain hamil tiga bulan baru aku tahu?"

Ekspresinya langsung berubah. Dia tanpa sadar melirik Frida dan suaranya diturunkan, "Bukannya kita sudah sepakat nggak bahas hal ini lagi? Aku sudah jelaskan sama kamu kenapa aku mempertahankan anak ini ...."

Brody berhenti sejenak, lalu nadanya tiba-tiba melunak, "Aku menyembunyikannya darimu karena takut kamu meninggalkanku."

Takut dia pergi?

Namun Brody, apa yang paling kamu takuti, justru itulah yang paling mudah kamu kehilangan.

Mata Frida tiba-tiba memerah. "Semua ini salahku ... aku nggak seharusnya jadi penawar untuk Pak Brody malam itu, apalagi sampai ketahuan nenek Pak Brody kalau aku hamil. Aku nggak pernah berniat merusak hubungan kalian, aku benar-benar nggak sengaja ...."

Sambil berbicara, air matanya tampak menggenang, seolah dia yang paling tersakiti.

Brody langsung berbalik untuk menenangkannya dengan suara yang lembut luar biasa, "Jangan ngomong sembarangan, kenapa ini bisa jadi salahmu?"

Emma tidak tahan melihatnya. Dia berbalik dan hendak pergi. Baru saat itu Brody tersadar, lalu segera mengejarnya dan bertanya, "Emma, kamu mau ke mana?"

"Keluar, ada urusan."

Brody mengernyit. "Di luar hujan deras, aku antar kamu."

Setelah berkata demikian, dia menoleh lagi pada para pelayan, "Frida nggak boleh kena air dingin, suhu kamar dinaikkan dua derajat. Belakangan ini nafsu makannya kurang, jangan pakai yang aneh-aneh kalau masak sup."

Selama sepuluh menit penuh, dia memberi instruksi dengan sangat rinci karena takut melewatkan satu pun pantangan bagi ibu hamil.

Emma berdiri di pintu masuk, diam-diam menatapnya. Akhirnya setelah selesai memberi instruksi, dia masuk ke dalam mobil. Emma menatap Brody, lalu tiba-tiba tersenyum. "Brody, nanti kamu pasti akan jadi ayah yang baik."

Brody tertegun, seolah tidak menyangka Emma akan mengatakan hal itu.

Dia meraih pergelangan tangan Emma, nada bicaranya menyiratkan sedikit rasa sakit yang tertahan. "Emma, cuma anak yang lahir dari rahimmu yang akan aku akui. Kamu tahu aku nggak punya pilihan. Jangan bicara seperti itu, ya?"

Telapak tangannya masih hangat seperti dulu, tapi Emma sudah tidak bisa merasakan kehangatan itu lagi. Emma tidak menjawab, dia hanya diam menatap ke luar jendela.

Suasana di dalam mobil langsung menjadi sunyi mencekam.

Mobil perlahan melaju. Di tengah keheningan, Brody mengganti topik untuk mencairkan suasana, "Emma, hujan sederas ini, kamu mau ngapain ke Jalan Cipto?"

Emma baru saja hendak menjawab, ketika ponsel Brody telah berdering.

"Pak Brody ... perutku tiba-tiba sakit sekali ...." Suara Frida yang tercekat tangis terdengar dari pengeras suara.

Ekspresi Brody langsung berubah. "Jangan takut, aku segera kembali!"

Setelah menutup telepon, dia langsung menatap Emma. "Emma, dari sini ke Jalan Cipto juga sudah nggak jauh, kamu bisa naik taksi sendiri?"

"Ya," jawab Emma dengan tenang, lalu membuka pintu dan turun dari mobil.

Hujan deras langsung membasahi seluruh tubuhnya. Dia berdiri di pinggir jalan, melihat mobil Brody yang melaju tanpa ragu, Emma tiba-tiba tersenyum.

'Padahal tinggal sedikit lagi, kamu akan tahu aku mau pergi ke mana, Brody.'

Hujan dan angin terlalu kencang, tidak ada taksi yang bisa dihentikan. Emma berjalan sendirian di tengah hujan deras, payungnya terbalik ditiup angin. Air hujan bercampur dengan air mata mengaburkan pandangannya.

Saat akhirnya sampai di pengadilan agama, seluruh tubuhnya sudah dalam keadaan sangat berantakan.

"Halo, aku ingin mengurus perceraian." Dia menyerahkan perjanjian cerai yang dijaganya dengan baik, kertasnya sama sekali tidak basah.

Petugas itu melihatnya, lalu melihat perjanjian itu. "Setelah melewati masa tunggu satu bulan, kamu bisa datang kembali untuk mengambil akta cerai."

Keluar dari pengadilan, hujan sudah berhenti. Emma mendongak menatap langit yang tiba-tiba cerah, rasa sakit di dadanya sedikit mereda. Sepertinya hari-hari setelah perceraian nanti juga akan seperti hari ini, setiap hari perlahan menjadi cerah.

Saat kembali ke vila, ruang tamu tampak kosong melompong. Dari lantai atas terdengar suara lembut Brody, "Pangeran kecil bertemu seekor rubah ...."

Dia sedang membacakan cerita untuk pendidikan janin kepada Frida.

Kepala Emma terasa berat dan pusing, dia langsung masuk ke dalam selimut dan tertidur. Entah setelah berapa lama berlalu, tenggorokannya terasa kering seperti terbakar.

"Air ...." Dia memanggil beberapa kali, tapi yang terdengar hanya suara cerita dari kamar sebelah.

"Pak Brody, aku harap nanti anak kita seperti kamu, tampan dan pintar ...," ucap Frida dengan suara yang manja.

"Jangan merendahkan diri." Brody tertawa pelan. "Mirip kamu juga bagus, kamu baik hati, lembut, polos ...."

Bahkan tanpa melihat pun, Emma bisa membayangkan wajah Frida yang tersipu saat ini. Mereka seperti pasangan suami istri sungguhan, sedang menenun mimpi indah untuk anak yang akan lahir.

Emma berusaha bangun untuk meraih gelas air, tapi karena tubuhnya lemas, dia malah menjatuhkan gelas itu.

Gelas kaca itu pecah berkeping-keping. Dia berjongkok untuk memungutnya, tapi karena pandangannya menggelap, dia langsung terjatuh ke lantai.

Telapak tangannya tertusuk pecahan hingga berdarah. Dia menggertakkan gigi, membersihkannya sedikit demi sedikit, lalu mencari obat penurun panas dan menelannya.

Sepanjang proses itu, tawa dari kamar sebelah tidak pernah berhenti.

Saat kembali berbaring di tempat tidur, Emma tiba-tiba teringat waktu kuliah dulu ketika dia demam. Brody sampai memanjat masuk ke asrama putri tengah malam, menjaga di samping tempat tidurnya selama tiga hari tiga malam.

Saat itu, dia berkata dengan mata merah, "Emma, kalau kamu sakit, aku lebih sakit darimu."

'Sekarang? Brody, apa kamu masih ingat kalimat itu?'

Air mata mengalir ke bantal. Dia memejamkan mata, membiarkan kegelapan menenggelamkannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 22

    Brody langsung melepaskannya, di matanya masih tersisa sedikit kejernihan."Emma, kamu benar-benar nggak mengenaliku? Aku Brody, orang yang paling kamu cintai."Emma hanya menutupi dirinya, jelas masih belum sadar sepenuhnya. Dia bergumam, "Brody? Nggak kenal. Mana Carlos? Mana Carlos-ku?"Brody tertegun di tempat. Akhirnya, dia merasakan bagaimana rasanya hati yang benar-benar mati.Sebelumnya, dia masih bisa menipu dirinya sendiri, mengatakan bahwa Emma hanya sedang marah sesaat dan sengaja membuatnya kesal, tidak mungkin berhenti mencintainya dan jatuh cinta pada orang lain.Namun, keadaan saat ini dengan jelas memberitahunya bahwa di hati Emma, dirinya sudah lama tidak lagi penting! Orang yang paling Emma cintai jelas sudah bukan dia lagi!"Emma ...." Tangan Brody terulur, tetapi hanya membungkus tubuh Emma dengan jasnya. "Dulu aku sudah menyakitimu sampai seperti itu, sekarang gimana mungkin aku masih berani menyakitimu?"Dia tersenyum pahit, lalu duduk kembali di kursi pengemudi.

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 21

    Emma duduk di restoran Michelin yang elegan, menatap hidangan Prancis yang dulu sangat dia sukai. Namun, kini sama sekali tidak berselera.Brody memandangnya dengan hati-hati dan berkata pelan, "Emma, kamu nggak suka? Mau ganti restoran?""Nggak perlu." Dia menatap Brody tanpa ekspresi. "Apa pun yang ingin kamu katakan, katakan saja. Setelah ini kita putus sepenuhnya, nggak akan bertemu lagi.""Putus sepenuhnya?" Hati Brody terasa ditusuk oleh kata itu. Matanya memerah dan suara seraknya terdengar seperti tercekat."Emma, hubungan kita lebih dari 20 tahun ... kamu benar-benar ingin melepaskannya?""Brody, masih ada yang perlu dibicarakan di antara kita? Aku sudah kasih tempat untuk keluargamu.""Emma, jangan bilang begitu. Anak itu bukan milikku." Wajah Brody penuh penyesalan, "Aku sudah bilang, aku hanya mengakui anak yang kamu lahirkan ...."Brody menatapnya dengan cemas, berusaha mencari sisa cinta di wajahnya. Namun, yang dia dapat hanya tatapan dingin."Brody, cepat bicara. Aku ma

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 20

    "Brody!" Begitu mendengar kabar dia akan pulang, nenek Brody sudah duduk di sofa menunggu sejak lama."Di mana Emma?" Dia segera melihat ke belakangnya, tapi tidak ada siapa pun."Nenek, dia nggak akan kembali." Luka di wajah Brody belum sembuh. Melihat kondisi Brody, neneknya langsung merasa sakit hati."Nenek, ini aku kembalikan." Brody mengulurkan tangan. Di telapak tangannya, masih gelang giok yang telah diperbaiki dengan benang emas."Emma nggak mau?" Neneknya tertegun, lalu menepuk dada dengan penuh penyesalan."Semua gara-gara wanita hina itu, cucu menantuku sampai kabur!"Brody tidak berkata apa-apa, hanya mendengarkan makiannya."Wanita itu sekarang malah jadi gila, bahkan nggak bisa mengontrol diri di rumah. Aku sudah suruh orang mengirimnya kembali ke GIlbert. Melihatnya saja sudah menyebalkan! Semua gara-gara dia. Kalau nggak, Emma-ku yang baik itu nggak mungkin pergi ....""Tapi, wanita itu juga membuatku sadar sesuatu."Neneknya segera menarik Brody mendekat dan berbisik

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 19

    Melihat wajah Emma yang marah, Brody tidak membantah. Dia hanya tersenyum tipis.Emma semakin kesal melihat sikapnya. "Brody, kita sudah cerai. Jangan ganggu aku lagi. Kalau kamu terus seperti ini, tokoku juga nggak bisa jalan!"Brody hanya berdiri di sana, menundukkan kepala seperti murid yang sedang dimarahi."Emma, aku nggak tahu cara mendekati orang lain. Aku hanya bisa seperti ini. Dulu aku juga mengejarmu dengan cara seperti ini."Emma tertegun.Memang, Brody tidak pernah pandai mendekati wanita. Dia hanya tahu menunjukkan rasa memiliki dengan cara yang canggung, memakai identitasnya sebagai tuan muda Keluarga Sukarsa agar orang lain tidak mendekati Emma. Dulu, Emma malah tertarik pada cinta yang canggung seperti itu, mengira Brody hanya akan seperti itu padanya selamanya. Siapa sangka, orang seperti itu juga bisa menyakitinya?"Brody, nggak perlu seperti ini." Emma tertawa sinis, "Aku sudah bilang jelas. Kita nggak mungkin lagi."Emma melanjutkan, "Aku dan Carlos juga akan menik

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 18

    "Emma, lihat aku."Brody berdiri di belakangnya, suaranya penuh keluhan. Emma hanya membuka pintu toko seperti biasa, sama sekali menganggapnya tidak ada."Emma, dengarkan aku."Brody terus mengikuti masuk ke dalam toko, melihatnya dengan terampil menyalakan mesin, mencuci cangkir dan piring. Dia tertegun sejenak. Sesuatu yang dulu dia abaikan, tiba-tiba muncul di ingatannya....."Brody, nanti aku mau menjalani hidup yang santai dan bebas," ucap Emma sambil duduk di bawah langit penuh bintang dengan berselimut dan bahu mereka saling bersandar."Emma, apa pun hidup yang kamu inginkan, aku akan menemanimu." Suara anak laki-laki itu masih polos. Bayangan tersebut adalah sosok mereka saat SMP."Brody, kamu nggak akan mengerti." Gadis itu hanya tersenyum. Anak laki-laki itu malah panik, "Kenapa aku nggak akan mengerti?"Gadis itu ragu sejenak, lalu berkata, "Brody, kamu nanti pasti akan menjadi penerus keluarga. Kamu akan memikul tanggung jawab keluarga dan tekanan perusahaan. Kamu akan te

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 17

    "Emma, malam ini kamu mau makan apa?"Carlos mendorong troli belanja, berjalan bersama Emma di supermarket. Emma menyebut beberapa menu sambil tersenyum dan Carlos mengiakan satu per satu. Matanya terpancar senyuman dan dia menggenggam tangan Emma lebih erat.Mereka keluar dari supermarket dengan belanjaan penuh."Aku mau kembali ke toko dulu, siapin biji kopi untuk besok." Emma mengayunkan tangan mereka yang saling menggenggam, "Pelukis besar, kamu mau ikut?"Carlos mencium keningnya. "Tentu saja."Kebersamaan mereka yang mesra terlihat oleh semua orang.....Tiba-tiba, Brody melangkah maju dan menarik Emma dengan keras ke dalam pelukannya. Sorot matanya tampak penuh posesif."Emma!" Brody mencengkeram bahunya erat, kecemburuan memenuhi dirinya saat mencium kening Emma."Kenapa! Kenapa kamu membiarkan pria lain sentuh kamu! Emma, kenapa kamu bisa melakukan ini padaku!"Mata Brody memerah, hatinya seperti diremas hingga sakit."Kamu tahu nggak, betapa sakitnya hatiku waktu aku melihatm

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 8

    Hari-hari berikutnya, Brody sepertinya mulai menyadari sesuatu. Dia mulai tidak pernah meninggalkan Emma sedetik pun. Dia menempel pada Emma sepanjang hari, bahkan saat Emma ke kamar mandi pun dia menunggu di luar.Kadang dari sudut matanya dia melihat Frida berdiri di sudut dengan mata merah, tapi

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 4

    Emma terbangun di tengah rasa sakit yang tajam. Dia membuka mata dan mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Saat menoleh sedikit, dia melihat Brody duduk di samping tempat tidur. Ada bayangan gelap tipis di bawah matanya."Emma, kamu sudah bangun, ya." Dia langsung mendekat sambil membungkuk

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 3

    "Emma! Akhirnya kamu bangun juga!"Keesokan harinya saat membuka mata, Emma melihat Brody berbaring di sampingnya. Brody mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Emma dengan sorot mata penuh kecemasan. "Kenapa nggak panggil aku kalau kamu demam? Kamu tahu nggak betapa paniknya aku waktu pulang dan me

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 1

    Kedua kalinya, Emma memergokinya di rumah sakit sedang menemani mahasiswi itu untuk pemeriksaan kehamilan.Dengan mata merah, dia menjelaskan, "Emma, setengah bulan lalu aku ke luar negeri untuk negosiasi kerja sama, lalu mengalami kecelakaan mobil. Dia yang mempertaruhkan nyawanya, menyelamatkanku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status