Share

Bab 8

Penulis: Maharsa
Hari-hari berikutnya, Brody sepertinya mulai menyadari sesuatu. Dia mulai tidak pernah meninggalkan Emma sedetik pun. Dia menempel pada Emma sepanjang hari, bahkan saat Emma ke kamar mandi pun dia menunggu di luar.

Kadang dari sudut matanya dia melihat Frida berdiri di sudut dengan mata merah, tapi dia hanya mengernyit dan pura-pura tidak melihat.

"Emma."

Suatu pagi, Brody tiba-tiba mengeluarkan sebuah undangan berlapis emas. Matanya berbinar seperti saat masih muda. "Hari ini ulang tahun ke-100 sekolah. Teman-teman bilang ingin ngumpul. Kamu sudah beberapa hari di rumah, sekalian keluar jalan-jalan, ketemu teman lama, ya?"

Emma menatap lambang sekolah yang tercetak emas di undangan itu, lalu tiba-tiba teringat 10 tahun lalu, Brody juga berdiri di depan kelas sambil memegang tiket pertandingan basket. "Emma, mau ikut nggak?"

Kalau begitu, pergi saja. Bagaimanapun, ini mungkin yang terakhir kalinya.

Di hari pertemuan itu, Brody terus menggenggam tangannya.

Teman-teman lama menggoda bahwa pasangan paling populer masih serasi seperti dulu. Ada juga yang menyebut bagaimana dulu Brody rela antre semalaman demi membelikannya album edisi terbatas.

Brody tersenyum sambil merangkul pinggang Emma. Ujung jarinya mengusap pelan di sana, seolah-olah sedang membujuknya tanpa kata-kata.

"Masih ingat kapsul waktu kita?" Ketua kelas tiba-tiba membawa sebuah kotak. "Surat yang kita tulis sepuluh tahun lalu, sekarang dikembalikan ke pemiliknya."

Semua orang maju satu per satu untuk mengambil.

Saat Emma hendak membuka miliknya, Brody tiba-tiba mematung.

Ponselnya berdering. Nama yang muncul "Frida". Dia ragu sejenak dan melirik Emma, tapi akhirnya tetap pergi ke lorong untuk menjawab.

Semenit kemudian dia kembali dengan wajah pucat, "Emma, dia jatuh, sekarang di rumah sakit ...."

"Pergilah," potong Emma dengan tenang. "Anaknya lebih penting."

Brody tampak lega dan mencium keningnya. "Aku segera kembali."

Emma menatap punggungnya yang pergi tergesa-gesa, lalu berjalan ke kotak kapsul waktu dan menemukan surat milik Brody. Di amplop tertulis "Untuk Brody usia 26 tahun". Emma ragu sejenak, tapi tetap membukanya.

Kertas suratnya sudah menguning, tapi tulisannya masih jelas terbaca. Enam belas tahun yang lalu, Brody menulis dengan tulisan yang penuh semangat:

[ Untuk Brody usia 26 tahun: Sekarang kamu pasti sudah menikahi Emma, 'kan? Aku iri sekali sama kamu. Kehidupanmu sekarang adalah impianku. Jadi, kamu harus memperlakukan Emma dengan sangat baik dan mencintainya. Kalau nggak, aku nggak akan memaafkanmu. ]

[ Kamu harus ingat untuk memberinya susu hangat setiap hari, pencernaannya agak lemah. Kamu harus menemaninya ke Islandia melihat aurora, dia sudah membicarakannya selama tujuh tahun. Kamu harus ingat dia paling tidak suka hari hujan dan dia alergi daun ketumbar. ]

[ Satu lagi, kamu harus ingat dia takut gelap. Jadi, jangan pernah biarkan dia berjalan sendirian di malam hari. ]

Di bagian akhir surat, ada satu baris tulisan kecil, ditujukan untuknya.

[ Emma, kalau aku nggak memperlakukanmu dengan baik 10 tahun kemudian, tinggalkan aku dan jangan pernah memaafkanku. ]

Emma mengusap pelan baris tulisan itu, air matanya akhirnya jatuh.

"Baik," katanya pelan ke udara. "Aku dengar nasihatmu."

Setelah acara selesai, dia berpamitan dan memeluk setiap teman sekelas.

Ketua kelas berkata dengan mata memerah, "Nanti perayaan berikutnya kita datang sama-sama lagi, ya!"

Tidak akan ada berikutnya lagi. Setelah pergi, Emma langsung naik taksi menuju pengadilan agama. Hari ini tepat hari perjanjian cerai itu berlaku. Emma akhirnya bisa mengambil akta cerai dan mengakhiri pernikahan ini.

Petugas memastikan kembali, "Bu Emma, Anda sudah mempertimbangkannya dengan matang?"

"Sudah." Melihat cap resmi itu ditekan, hati Emma seakan hancur, tapi juga anehnya terasa lega.

Sebelum pergi, Emma menonaktifkan seluruh identitasnya, lalu membeli tiket pesawat satu arah. Saat naik pesawat, langit senja di luar jendela tampak merah seperti darah.

Saat melihat ke luar, dia tiba-tiba teringat saat usia 18 tahun, Brody pernah mencegatnya di jalan pulang sekolah dan berkata, "Emma, kamu milikku. Kamu nggak akan bisa lari."

'Brody, kamu salah. Kali ini, aku benar-benar pergi. Dan sekali pergi, aku tidak akan pernah kembali lagi.'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 22

    Brody langsung melepaskannya, di matanya masih tersisa sedikit kejernihan."Emma, kamu benar-benar nggak mengenaliku? Aku Brody, orang yang paling kamu cintai."Emma hanya menutupi dirinya, jelas masih belum sadar sepenuhnya. Dia bergumam, "Brody? Nggak kenal. Mana Carlos? Mana Carlos-ku?"Brody tertegun di tempat. Akhirnya, dia merasakan bagaimana rasanya hati yang benar-benar mati.Sebelumnya, dia masih bisa menipu dirinya sendiri, mengatakan bahwa Emma hanya sedang marah sesaat dan sengaja membuatnya kesal, tidak mungkin berhenti mencintainya dan jatuh cinta pada orang lain.Namun, keadaan saat ini dengan jelas memberitahunya bahwa di hati Emma, dirinya sudah lama tidak lagi penting! Orang yang paling Emma cintai jelas sudah bukan dia lagi!"Emma ...." Tangan Brody terulur, tetapi hanya membungkus tubuh Emma dengan jasnya. "Dulu aku sudah menyakitimu sampai seperti itu, sekarang gimana mungkin aku masih berani menyakitimu?"Dia tersenyum pahit, lalu duduk kembali di kursi pengemudi.

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 21

    Emma duduk di restoran Michelin yang elegan, menatap hidangan Prancis yang dulu sangat dia sukai. Namun, kini sama sekali tidak berselera.Brody memandangnya dengan hati-hati dan berkata pelan, "Emma, kamu nggak suka? Mau ganti restoran?""Nggak perlu." Dia menatap Brody tanpa ekspresi. "Apa pun yang ingin kamu katakan, katakan saja. Setelah ini kita putus sepenuhnya, nggak akan bertemu lagi.""Putus sepenuhnya?" Hati Brody terasa ditusuk oleh kata itu. Matanya memerah dan suara seraknya terdengar seperti tercekat."Emma, hubungan kita lebih dari 20 tahun ... kamu benar-benar ingin melepaskannya?""Brody, masih ada yang perlu dibicarakan di antara kita? Aku sudah kasih tempat untuk keluargamu.""Emma, jangan bilang begitu. Anak itu bukan milikku." Wajah Brody penuh penyesalan, "Aku sudah bilang, aku hanya mengakui anak yang kamu lahirkan ...."Brody menatapnya dengan cemas, berusaha mencari sisa cinta di wajahnya. Namun, yang dia dapat hanya tatapan dingin."Brody, cepat bicara. Aku ma

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 20

    "Brody!" Begitu mendengar kabar dia akan pulang, nenek Brody sudah duduk di sofa menunggu sejak lama."Di mana Emma?" Dia segera melihat ke belakangnya, tapi tidak ada siapa pun."Nenek, dia nggak akan kembali." Luka di wajah Brody belum sembuh. Melihat kondisi Brody, neneknya langsung merasa sakit hati."Nenek, ini aku kembalikan." Brody mengulurkan tangan. Di telapak tangannya, masih gelang giok yang telah diperbaiki dengan benang emas."Emma nggak mau?" Neneknya tertegun, lalu menepuk dada dengan penuh penyesalan."Semua gara-gara wanita hina itu, cucu menantuku sampai kabur!"Brody tidak berkata apa-apa, hanya mendengarkan makiannya."Wanita itu sekarang malah jadi gila, bahkan nggak bisa mengontrol diri di rumah. Aku sudah suruh orang mengirimnya kembali ke GIlbert. Melihatnya saja sudah menyebalkan! Semua gara-gara dia. Kalau nggak, Emma-ku yang baik itu nggak mungkin pergi ....""Tapi, wanita itu juga membuatku sadar sesuatu."Neneknya segera menarik Brody mendekat dan berbisik

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 19

    Melihat wajah Emma yang marah, Brody tidak membantah. Dia hanya tersenyum tipis.Emma semakin kesal melihat sikapnya. "Brody, kita sudah cerai. Jangan ganggu aku lagi. Kalau kamu terus seperti ini, tokoku juga nggak bisa jalan!"Brody hanya berdiri di sana, menundukkan kepala seperti murid yang sedang dimarahi."Emma, aku nggak tahu cara mendekati orang lain. Aku hanya bisa seperti ini. Dulu aku juga mengejarmu dengan cara seperti ini."Emma tertegun.Memang, Brody tidak pernah pandai mendekati wanita. Dia hanya tahu menunjukkan rasa memiliki dengan cara yang canggung, memakai identitasnya sebagai tuan muda Keluarga Sukarsa agar orang lain tidak mendekati Emma. Dulu, Emma malah tertarik pada cinta yang canggung seperti itu, mengira Brody hanya akan seperti itu padanya selamanya. Siapa sangka, orang seperti itu juga bisa menyakitinya?"Brody, nggak perlu seperti ini." Emma tertawa sinis, "Aku sudah bilang jelas. Kita nggak mungkin lagi."Emma melanjutkan, "Aku dan Carlos juga akan menik

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 18

    "Emma, lihat aku."Brody berdiri di belakangnya, suaranya penuh keluhan. Emma hanya membuka pintu toko seperti biasa, sama sekali menganggapnya tidak ada."Emma, dengarkan aku."Brody terus mengikuti masuk ke dalam toko, melihatnya dengan terampil menyalakan mesin, mencuci cangkir dan piring. Dia tertegun sejenak. Sesuatu yang dulu dia abaikan, tiba-tiba muncul di ingatannya....."Brody, nanti aku mau menjalani hidup yang santai dan bebas," ucap Emma sambil duduk di bawah langit penuh bintang dengan berselimut dan bahu mereka saling bersandar."Emma, apa pun hidup yang kamu inginkan, aku akan menemanimu." Suara anak laki-laki itu masih polos. Bayangan tersebut adalah sosok mereka saat SMP."Brody, kamu nggak akan mengerti." Gadis itu hanya tersenyum. Anak laki-laki itu malah panik, "Kenapa aku nggak akan mengerti?"Gadis itu ragu sejenak, lalu berkata, "Brody, kamu nanti pasti akan menjadi penerus keluarga. Kamu akan memikul tanggung jawab keluarga dan tekanan perusahaan. Kamu akan te

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 17

    "Emma, malam ini kamu mau makan apa?"Carlos mendorong troli belanja, berjalan bersama Emma di supermarket. Emma menyebut beberapa menu sambil tersenyum dan Carlos mengiakan satu per satu. Matanya terpancar senyuman dan dia menggenggam tangan Emma lebih erat.Mereka keluar dari supermarket dengan belanjaan penuh."Aku mau kembali ke toko dulu, siapin biji kopi untuk besok." Emma mengayunkan tangan mereka yang saling menggenggam, "Pelukis besar, kamu mau ikut?"Carlos mencium keningnya. "Tentu saja."Kebersamaan mereka yang mesra terlihat oleh semua orang.....Tiba-tiba, Brody melangkah maju dan menarik Emma dengan keras ke dalam pelukannya. Sorot matanya tampak penuh posesif."Emma!" Brody mencengkeram bahunya erat, kecemburuan memenuhi dirinya saat mencium kening Emma."Kenapa! Kenapa kamu membiarkan pria lain sentuh kamu! Emma, kenapa kamu bisa melakukan ini padaku!"Mata Brody memerah, hatinya seperti diremas hingga sakit."Kamu tahu nggak, betapa sakitnya hatiku waktu aku melihatm

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 7

    Emma tidak sanggup mendengarkan lagi. Dia berbalik dan berjalan menuju kolam renang di halaman belakang.Angin malam terasa dingin. Baru saja dia duduk di tepi kolam, Frida sudah menyusul."Bu Emma." Dia mengelus perutnya yang membesar sambil tersenyum manis, "Pak Brody bilang setelah anak ini lahir

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 3

    "Emma! Akhirnya kamu bangun juga!"Keesokan harinya saat membuka mata, Emma melihat Brody berbaring di sampingnya. Brody mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Emma dengan sorot mata penuh kecemasan. "Kenapa nggak panggil aku kalau kamu demam? Kamu tahu nggak betapa paniknya aku waktu pulang dan me

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 2

    Emma menatap perjanjian cerai yang sudah ditandatangani itu, hatinya terasa seperti diremas kuat. Frida benar-benar berhasil melakukannya.Bagus sekali.Selanjutnya mereka bertiga akan hidup dengan baik, sementara dia mulai hari ini hanya akan hidup untuk dirinya sendiri."Emma, hadiah apa yang pali

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 1

    Kedua kalinya, Emma memergokinya di rumah sakit sedang menemani mahasiswi itu untuk pemeriksaan kehamilan.Dengan mata merah, dia menjelaskan, "Emma, setengah bulan lalu aku ke luar negeri untuk negosiasi kerja sama, lalu mengalami kecelakaan mobil. Dia yang mempertaruhkan nyawanya, menyelamatkanku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status