共有

Bab 4

作者: Maharsa
Emma terbangun di tengah rasa sakit yang tajam. Dia membuka mata dan mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Saat menoleh sedikit, dia melihat Brody duduk di samping tempat tidur. Ada bayangan gelap tipis di bawah matanya.

"Emma, kamu sudah bangun, ya." Dia langsung mendekat sambil membungkuk, suaranya dipenuhi kelegaan, "Ada bagian yang nggak nyaman?"

Emma membuka mulut, tapi tenggorokannya kering hingga tidak bisa mengeluarkan suara.

Dia ingat pemandangan terakhir yang dilihatnya adalah punggung Brody yang pergi tergesa-gesa sambil menggendong Frida, serta derap kuda yang berlari ke arahnya.

"Frida nggak sengaja terluka." Brody tiba-tiba berkata dengan cemas, "Dia punya gangguan pembekuan darah, sekarang darahnya nggak berhenti mengalir, sementara persediaan darah di rumah sakit nggak cukup ...."

Hati Emma perlahan mencelos.

"Satu-satunya golongan darah yang cocok adalah milikmu." Brody menggenggam tangannya. "Emma, kamu donor sedikit darah untuknya, ya?"

Konyol, benar-benar konyol.

Emma langsung menarik tangannya dengan keras. Gerakan itu menarik luka di tulang rusuknya, membuatnya meringis karena sakit.

Brody membiarkannya terinjak-injak kuda tanpa penjelasan sepatah kata pun. Kalimat pertama yang diucapkannya sekarang malah menyuruh Emma untuk menyelamatkan Frida dalam kondisi penuh luka seperti ini?

"Aku nggak mau." Suaranya serak, setiap katanya bagaikan pisau yang mengiris.

Brody mengerutkan kening, "Demi anak di dalam perutnya, kamu bersabarlah sedikit, ya? Setelah anaknya lahir, semuanya akan berakhir."

Seluruh tubuh Emma terasa dingin. Dia menatap mata Brody, ingin menemukan sedikit rasa bersalah atau kepedulian. Namun, di mata yang telah dia cintai selama 20 tahun itu, hanya ada kecemasan dan desakan.

"Pak Brody, kondisi Bu Frida nggak terlalu baik ...." Perawat mengingatkan dengan pelan di depan pintu.

Brody langsung berdiri, lalu menopang Emma untuk bangkit dengan hampir setengah memaksa. "Emma, anggap aku mohon sama kamu."

Emma diseret ke ruang pengambilan darah.

Saat jarum menusuk pembuluh darahnya, rasa sakit membuatnya hampir tidak bisa bernapas.

"Sakit sekali?" tanya perawat dengan heran, "Nggak mungkin, aku sudah melakukannya dengan sangat pelan."

Emma menggelengkan kepala, tapi air matanya tidak bisa berhenti mengalir.

Selama bertahun-tahun ini, dia paling takut jarum. Dulu setiap kali diambil darah, Brody selalu menutup matanya, lalu membujuk dengan lembut, "Emma yang patuh ya, sebentar saja sudah selesai."

Sekarang, masih sama-sama diambil darah, tapi Brody malah berdiri di luar ruang pengambilan sambil berkali-kali melihat jam, bahkan tidak memberikan satu tatapan pun kepadanya.

Setelah 400cc darah diambil, pandangan Emma mulai menggelap.

Perawat membantunya duduk untuk beristirahat, tapi dia melihat Brody berlari ke arah ruang rawat Frida tanpa menoleh sedikit pun. Emma berjalan tertatih mengikutinya, lalu berdiri di luar pintu yang sedikit terbuka.

Di atas ranjang, Frida terlihat pucat, pergelangan tangannya dibalut perban tebal.

Brody duduk di samping sambil menggenggam tangannya erat, sorot matanya tampak begitu lembut.

"Jangan takut, sudah nggak apa-apa." Dia menenangkan dengan pelan, "Anaknya juga baik-baik saja."

Tatapan Emma jatuh ke pergelangan tangan Frida. Di sana terpasang rangkaian tasbih yang sangat dikenalnya.

Itu adalah tasbih yang dia dapatkan dari Gunung Wuda tiga tahun lalu. Saat itu, Brody memakainya dengan serius sambil berkata, "Aku nggak akan melepasnya seumur hidup."

Namun sekarang, benda itu muncul di pergelangan tangan wanita lain. Brody bahkan memberikan tasbih yang dia dapatkan dengan penuh ketulusan itu kepada Frida. Dada Emma terasa sakit luar biasa. Dia tidak sanggup melihat lebih lama lagi, langsung berbalik pergi.

Setelah kembali ke ruang rawat, dia meringkuk di atas ranjang, membiarkan air matanya membasahi bantal. Ternyata saat hati benar-benar hancur, rasa sakitnya memang bisa sampai membuat sulit bernapas.

Keesokan paginya, perawat datang untuk pemeriksaan.

"Bu Emma, tolong lengkapi laporan medisnya." Perawat menyerahkan sebuah formulir.

Emma mengisinya secara refleks. Dia berhenti sejenak di bagian status pernikahan, lalu menulis dengan tegas.

[ Belum menikah. ]

"Bu Emma, apakah ini salah isi?" tanya perawat dengan heran, "Anda menulis belum menikah, padahal Pak Brody adalah suami Anda, bukan?"

"Bukan." Emma berkata dengan tenang, "Dia sebentar lagi bukan suamiku lagi."

"Emma, apa yang kamu katakan?"

Pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka keras. Brody berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tidak percaya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 22

    Brody langsung melepaskannya, di matanya masih tersisa sedikit kejernihan."Emma, kamu benar-benar nggak mengenaliku? Aku Brody, orang yang paling kamu cintai."Emma hanya menutupi dirinya, jelas masih belum sadar sepenuhnya. Dia bergumam, "Brody? Nggak kenal. Mana Carlos? Mana Carlos-ku?"Brody tertegun di tempat. Akhirnya, dia merasakan bagaimana rasanya hati yang benar-benar mati.Sebelumnya, dia masih bisa menipu dirinya sendiri, mengatakan bahwa Emma hanya sedang marah sesaat dan sengaja membuatnya kesal, tidak mungkin berhenti mencintainya dan jatuh cinta pada orang lain.Namun, keadaan saat ini dengan jelas memberitahunya bahwa di hati Emma, dirinya sudah lama tidak lagi penting! Orang yang paling Emma cintai jelas sudah bukan dia lagi!"Emma ...." Tangan Brody terulur, tetapi hanya membungkus tubuh Emma dengan jasnya. "Dulu aku sudah menyakitimu sampai seperti itu, sekarang gimana mungkin aku masih berani menyakitimu?"Dia tersenyum pahit, lalu duduk kembali di kursi pengemudi.

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 21

    Emma duduk di restoran Michelin yang elegan, menatap hidangan Prancis yang dulu sangat dia sukai. Namun, kini sama sekali tidak berselera.Brody memandangnya dengan hati-hati dan berkata pelan, "Emma, kamu nggak suka? Mau ganti restoran?""Nggak perlu." Dia menatap Brody tanpa ekspresi. "Apa pun yang ingin kamu katakan, katakan saja. Setelah ini kita putus sepenuhnya, nggak akan bertemu lagi.""Putus sepenuhnya?" Hati Brody terasa ditusuk oleh kata itu. Matanya memerah dan suara seraknya terdengar seperti tercekat."Emma, hubungan kita lebih dari 20 tahun ... kamu benar-benar ingin melepaskannya?""Brody, masih ada yang perlu dibicarakan di antara kita? Aku sudah kasih tempat untuk keluargamu.""Emma, jangan bilang begitu. Anak itu bukan milikku." Wajah Brody penuh penyesalan, "Aku sudah bilang, aku hanya mengakui anak yang kamu lahirkan ...."Brody menatapnya dengan cemas, berusaha mencari sisa cinta di wajahnya. Namun, yang dia dapat hanya tatapan dingin."Brody, cepat bicara. Aku ma

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 20

    "Brody!" Begitu mendengar kabar dia akan pulang, nenek Brody sudah duduk di sofa menunggu sejak lama."Di mana Emma?" Dia segera melihat ke belakangnya, tapi tidak ada siapa pun."Nenek, dia nggak akan kembali." Luka di wajah Brody belum sembuh. Melihat kondisi Brody, neneknya langsung merasa sakit hati."Nenek, ini aku kembalikan." Brody mengulurkan tangan. Di telapak tangannya, masih gelang giok yang telah diperbaiki dengan benang emas."Emma nggak mau?" Neneknya tertegun, lalu menepuk dada dengan penuh penyesalan."Semua gara-gara wanita hina itu, cucu menantuku sampai kabur!"Brody tidak berkata apa-apa, hanya mendengarkan makiannya."Wanita itu sekarang malah jadi gila, bahkan nggak bisa mengontrol diri di rumah. Aku sudah suruh orang mengirimnya kembali ke GIlbert. Melihatnya saja sudah menyebalkan! Semua gara-gara dia. Kalau nggak, Emma-ku yang baik itu nggak mungkin pergi ....""Tapi, wanita itu juga membuatku sadar sesuatu."Neneknya segera menarik Brody mendekat dan berbisik

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 19

    Melihat wajah Emma yang marah, Brody tidak membantah. Dia hanya tersenyum tipis.Emma semakin kesal melihat sikapnya. "Brody, kita sudah cerai. Jangan ganggu aku lagi. Kalau kamu terus seperti ini, tokoku juga nggak bisa jalan!"Brody hanya berdiri di sana, menundukkan kepala seperti murid yang sedang dimarahi."Emma, aku nggak tahu cara mendekati orang lain. Aku hanya bisa seperti ini. Dulu aku juga mengejarmu dengan cara seperti ini."Emma tertegun.Memang, Brody tidak pernah pandai mendekati wanita. Dia hanya tahu menunjukkan rasa memiliki dengan cara yang canggung, memakai identitasnya sebagai tuan muda Keluarga Sukarsa agar orang lain tidak mendekati Emma. Dulu, Emma malah tertarik pada cinta yang canggung seperti itu, mengira Brody hanya akan seperti itu padanya selamanya. Siapa sangka, orang seperti itu juga bisa menyakitinya?"Brody, nggak perlu seperti ini." Emma tertawa sinis, "Aku sudah bilang jelas. Kita nggak mungkin lagi."Emma melanjutkan, "Aku dan Carlos juga akan menik

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 18

    "Emma, lihat aku."Brody berdiri di belakangnya, suaranya penuh keluhan. Emma hanya membuka pintu toko seperti biasa, sama sekali menganggapnya tidak ada."Emma, dengarkan aku."Brody terus mengikuti masuk ke dalam toko, melihatnya dengan terampil menyalakan mesin, mencuci cangkir dan piring. Dia tertegun sejenak. Sesuatu yang dulu dia abaikan, tiba-tiba muncul di ingatannya....."Brody, nanti aku mau menjalani hidup yang santai dan bebas," ucap Emma sambil duduk di bawah langit penuh bintang dengan berselimut dan bahu mereka saling bersandar."Emma, apa pun hidup yang kamu inginkan, aku akan menemanimu." Suara anak laki-laki itu masih polos. Bayangan tersebut adalah sosok mereka saat SMP."Brody, kamu nggak akan mengerti." Gadis itu hanya tersenyum. Anak laki-laki itu malah panik, "Kenapa aku nggak akan mengerti?"Gadis itu ragu sejenak, lalu berkata, "Brody, kamu nanti pasti akan menjadi penerus keluarga. Kamu akan memikul tanggung jawab keluarga dan tekanan perusahaan. Kamu akan te

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 17

    "Emma, malam ini kamu mau makan apa?"Carlos mendorong troli belanja, berjalan bersama Emma di supermarket. Emma menyebut beberapa menu sambil tersenyum dan Carlos mengiakan satu per satu. Matanya terpancar senyuman dan dia menggenggam tangan Emma lebih erat.Mereka keluar dari supermarket dengan belanjaan penuh."Aku mau kembali ke toko dulu, siapin biji kopi untuk besok." Emma mengayunkan tangan mereka yang saling menggenggam, "Pelukis besar, kamu mau ikut?"Carlos mencium keningnya. "Tentu saja."Kebersamaan mereka yang mesra terlihat oleh semua orang.....Tiba-tiba, Brody melangkah maju dan menarik Emma dengan keras ke dalam pelukannya. Sorot matanya tampak penuh posesif."Emma!" Brody mencengkeram bahunya erat, kecemburuan memenuhi dirinya saat mencium kening Emma."Kenapa! Kenapa kamu membiarkan pria lain sentuh kamu! Emma, kenapa kamu bisa melakukan ini padaku!"Mata Brody memerah, hatinya seperti diremas hingga sakit."Kamu tahu nggak, betapa sakitnya hatiku waktu aku melihatm

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 8

    Hari-hari berikutnya, Brody sepertinya mulai menyadari sesuatu. Dia mulai tidak pernah meninggalkan Emma sedetik pun. Dia menempel pada Emma sepanjang hari, bahkan saat Emma ke kamar mandi pun dia menunggu di luar.Kadang dari sudut matanya dia melihat Frida berdiri di sudut dengan mata merah, tapi

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 7

    Emma tidak sanggup mendengarkan lagi. Dia berbalik dan berjalan menuju kolam renang di halaman belakang.Angin malam terasa dingin. Baru saja dia duduk di tepi kolam, Frida sudah menyusul."Bu Emma." Dia mengelus perutnya yang membesar sambil tersenyum manis, "Pak Brody bilang setelah anak ini lahir

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 6

    Emma kembali terbangun dan melihat Brody menjaga di samping tempat tidurnya, matanya memerah sampai terlihat menakutkan.Dia menggenggam tangan Emma, lalu berkata dengan suara yang gemetar tak karuan. "Emma, aku benar-benar nggak tahu akan terjadi longsoran salju .... Maaf, benar-benar maaf ...."Uj

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 5

    Suasana di ruang rawat langsung membeku.Perawat memeluk berkas medis dengan canggung, lalu buru-buru pergi, hanya menyisakan Emma dan Brody yang berdiri di pintu saling berhadapan."Masih marah soal donor darah tadi?" Brody seolah memahami sesuatu, lalu melangkah mendekat dan mengulurkan tangan ing

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status