Share

Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia
Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia
Penulis: Maharsa

Bab 1

Penulis: Maharsa
Kedua kalinya, Emma memergokinya di rumah sakit sedang menemani mahasiswi itu untuk pemeriksaan kehamilan.

Dengan mata merah, dia menjelaskan, "Emma, setengah bulan lalu aku ke luar negeri untuk negosiasi kerja sama, lalu mengalami kecelakaan mobil. Dia yang mempertaruhkan nyawanya, menyelamatkanku saat mobil hampir meledak, jadi nyawaku bisa selamat."

"Setelah itu, baru ketahuan dia hamil. Nenek mengancam dengan nyawanya agar aku mempertahankan anak ini."

Brody memeluk Emma dengan erat, bahkan suaranya gemetar, "Jangan tinggalkan aku, ya? Aku bersumpah, setelah dia melahirkan, aku bakal usir dia. Anaknya akan ditinggal di rumah lama, mereka nggak akan pernah muncul lagi di hadapanmu seumur hidup."

Emma pun percaya.

Ketiga kalinya di sebuah lelang, Brody bersaing dengan Emma untuk merebut peninggalan ibunya.

Kalung safir itu adalah perhiasan kesayangan ibunya semasa hidup, sekaligus satu-satunya kenangan yang ditinggalkan untuknya.

Namun setiap kali Brody mengangkat papan penawaran, nilainya semakin tinggi dan bahkan di akhir dia langsung memberi penawaran harga maksimal dan memberikan kalung itu kepada mahasiswi tersebut.

Emma menerobos masuk ke ruang VIP dan menanyainya, tapi Brody hanya memijat pelipisnya dengan lelah. "Belakangan ini dia depresi sebelum melahirkan dan kebetulan suka sama kalung ini. Emma, mengalah saja sama dia, ya?"

Di saat itu, Emma tiba-tiba tertawa sampai air matanya mengalir.

"Kalau aku nggak mau mengalah?"

Dia mengernyit dan berkata, "Emma, jangan bikin masalah. Frida sebentar lagi akan melahirkan. Setelah anaknya lahir, semuanya akan kembali seperti dulu."

Emma menatapnya, hatinya terasa tersayat-sayat. "Kembali seperti dulu?"

Seperti apa dulu itu? Saat di matanya hanya ada Emma seorang? Atau saat dia rela mengemudi tiga jam di tengah hujan deras hanya untuk membelikan Emma sepotong kue stroberi?

Apa Brody masih ingat?

"Pak Brody ...."

Dari belakang terdengar seruan kaget Frida. Dia memegangi perut dengan wajah pucat sambil bersandar di dinding. "Kakiku terkilir ... sakit sekali ...."

Ekspresi Brody langsung berubah drastis. Seketika, dia langsung mendorong Emma menjauh, lalu bergegas memeluk Frida.

Bahu pria itu menghantam tubuhnya dengan keras. Dia terhuyung mundur dan pinggangnya membentur sudut meja dengan keras. Rasa sakit membuat keringat dingin langsung membasahi punggungnya.

"Brody!" panggil Emma dengan suara gemetar.

Namun, Brody bahkan tidak menoleh. Dia langsung pergi dengan langkah besar sambil menggendong Frida, hanya menyisakan bayangan punggung yang tergesa-gesa.

Emma berdiri di tempat. Semakin tertawa, air matanya malah semakin mengalir deras.

'Jasa karena telah menyelamatkan nyawa, ditambah lagi ada seorang anak yang menjadi pengikat di antara mereka. Brody, kamu nggak akan bisa lepaskan dia lagi seumur hidup. Lalu, bagaimana kita bisa kembali lagi seperti dulu ....'

Emma terhuyung berdiri dan perlahan mengusap darah di sudut dahinya, lalu naik ke dalam mobil.

Sopir bertanya dengan hati-hati, "Nyonya, kembali ke vila?"

"Nggak." Emma memejamkan mata dan menjawab, "Ke kantor pengacara."

Dua jam kemudian, Emma membawa perjanjian cerai yang baru saja selesai dibuat, pergi ke rumah sakit.

Di luar ruang VIP lantai teratas, para pengawal menundukkan kepala dengan canggung saat melihatnya.

Emma berdiri di ujung koridor, melihat Brody menyewa satu lantai penuh untuk Frida dengan dokter dan perawat siap siaga kapan saja. Brody sendiri tidak pernah menjauh dari sisi ranjangnya, bahkan jika melihat Frida mengernyit sedikit saja, seolah-olah langit akan runtuh kapan saja.

"Aku ingin makan tiramisu dari toko dessert di sisi barat kota ...," kata Frida dengan nada manja.

Brody tidak ragu sedetik pun. Dia mengambil kunci mobil dan langsung berjalan keluar. "Tunggu aku, aku segera kembali."

Emma berdiri di kegelapan, hatinya terasa sakit seakan dirobek hidup-hidup.

Setelah Brody pergi, barulah Emma mendorong pintu kamar.

Melihatnya, mata Frida langsung memerah. "Bu Emma, kamu datang untuk menyalahkanku? Maaf, aku benar-benar nggak sengaja, aku hanya terlalu menyukai kalung itu ...."

Air matanya menggenang dan suaranya tercekat, "Walaupun Pak Brody merebutnya darimu lalu memberikannya padaku, itu hanya supaya aku bisa melahirkan dengan lancar, lalu kembali ke masa lalu bersamamu. Tadi dia merawatku, tapi di hatinya yang dipikirkan tetap kamu. Aku tahu itu."

"Di sini cuma ada kita berdua, nggak usah pura-pura." Emma tidak berminat menikmati aktingnya yang sempurna. "Dulu Brody ngasih kamu 100 miliar agar kamu pergi, tapi kamu tetap muncul lagi di hadapannya, bahkan dalam keadaan hamil. Aku sangat paham apa yang kamu inginkan."

Air mata di wajah Frida langsung membeku.

"Aku nggak mau ikut campur dalam permainan kalian lagi." Dia menyerahkan sebuah perjanjian cerai. "Kalau aku sendiri yang kasih perjanjian ini, dia nggak akan tanda tangan. Kamu cari cara supaya dia tanda tangan tanpa dia sadari."

Frida menggigit bibirnya dan berkata, "Kamu salah paham, aku nggak pernah ingin merusak hubungan kalian ...."

"Kesempatan hanya sekali." Emma memotongnya, "Pikirkan baik-baik."

Frida menatap perjanjian itu cukup lama, akhirnya mengulurkan tangan dan menerimanya. "Terima kasih Bu Emma sudah merestui kami bertiga."

Kami bertiga.

Dada Emma seperti ditusuk pisau tumpul dengan keras, rasa sakitnya membuat napasnya bergetar.

"Kalau begitu aku doakan kalian ... bertiga, bahagia selamanya."

Setelah kembali ke vila, Emma mengeluarkan sebuah kotak kardus dan mulai membereskan semua hal yang berhubungan dengan Brody. Dia dan Brody tumbuh bersama sejak kecil, kenangan mereka terlalu banyak untuk dihitung.

Barang pertama yang dia masukkan ke dalam kotak adalah sebuah album foto.

Saat membuka halaman pertama, terlihat foto mereka saat berusia lima tahun. Di foto itu Brody mengenakan jas kecil sambil berdiri kaku di sampingnya, tapi tangannya diam-diam menarik ujung rok Emma. Ibu Brody pernah bilang, hari itu Brody mati-matian tidak mau difoto sendirian dan bersikeras harus bersama Emma.

Itu adalah pertama kalinya Brody menunjukkan rasa ingin memiliki terhadapnya.

Barang kedua adalah kancing seragam SMA.

Pada hari kelulusan, semua siswi berebut kancing milik para siswa. Emma hanya duduk di tempat tanpa bergerak. Namun saat pulang sekolah, Emma menemukan sebuah kancing milik Brody tergeletak diam di dalam laci meja, bersama selembar kertas bertuliskan:

[ Kamu cuma boleh ambil punyaku. ]

Saat itu, Brody sudah belajar menggunakan statusnya sebagai Tuan Muda Keluarga Sukarsa untuk membuat para siswa lain tidak berani mendekati Emma.

Barang ketiga adalah sebuah cincin berlian.

Pada hari Brody baru mencapai usia legal untuk menikah, dia sudah tidak sabar melamar Emma di layar raksasa gedung CBD. Di tengah kelopak mawar yang berjatuhan dari helikopter, cincin berlian itu memancarkan kilau dingin di tangannya.

Brody sendiri yang memakaikannya di jari Emma, sorot matanya dipenuhi cinta. "Emma, sisa hidupku nanti adalah milikmu."

....

Jika tidak ada Frida, Emma sempat mengira bahwa mereka benar-benar bisa bersama sampai tua. Dia tersenyum pahit dan memasukkan semua itu ke dalam kotak kardus, lalu membuangnya sekaligus ke tempat sampah.

Keesokan paginya, Emma terbangun karena keributan dari bawah.

Begitu keluar, dia melihat para pelayan sedang membawa masuk barang-barang mewah ke ruang tamu satu per satu.

Tas Hermes, perhiasan Cartier, busana haute couture dari Chanel ....

Frida berdiri di aula sambil menggeleng lemah, "Pak Brody, ini terlalu mahal. Aku nggak pernah berpikir untuk minta semua ini ...."

Brody menatapnya dengan lembut. "Dengar, kalau aku belikan buat kamu, terima saja. Perasaanmu harus bahagia supaya anaknya bisa lahir dengan lancar."

Begitu selesai bicara, dia melihat Emma.

Ekspresinya langsung kaku dan segera berkata, "Emma, maaf, kali ini aku cuma beli hadiah untuk Frida. Kamu mau apa, nanti lain kali aku belikan."

Sebelum Emma sempat bicara, Frida sudah lebih dulu berkata lembut, "Pak Brody, aku sudah menyiapkan hadiah yang paling diinginkan Bu Emma."

Setelah itu, dia berjalan ke arah Emma dan menyerahkan sebuah map dokumen.

Emma membukanya, baru menyadari bahwa di dalamnya adalah perjanjian cerai yang sudah ditandatangani. Tanda tangan Brody terlihat tegas, sama persis seperti tulisan tangan Brody saat dulu menulis surat cinta untuknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 22

    Brody langsung melepaskannya, di matanya masih tersisa sedikit kejernihan."Emma, kamu benar-benar nggak mengenaliku? Aku Brody, orang yang paling kamu cintai."Emma hanya menutupi dirinya, jelas masih belum sadar sepenuhnya. Dia bergumam, "Brody? Nggak kenal. Mana Carlos? Mana Carlos-ku?"Brody tertegun di tempat. Akhirnya, dia merasakan bagaimana rasanya hati yang benar-benar mati.Sebelumnya, dia masih bisa menipu dirinya sendiri, mengatakan bahwa Emma hanya sedang marah sesaat dan sengaja membuatnya kesal, tidak mungkin berhenti mencintainya dan jatuh cinta pada orang lain.Namun, keadaan saat ini dengan jelas memberitahunya bahwa di hati Emma, dirinya sudah lama tidak lagi penting! Orang yang paling Emma cintai jelas sudah bukan dia lagi!"Emma ...." Tangan Brody terulur, tetapi hanya membungkus tubuh Emma dengan jasnya. "Dulu aku sudah menyakitimu sampai seperti itu, sekarang gimana mungkin aku masih berani menyakitimu?"Dia tersenyum pahit, lalu duduk kembali di kursi pengemudi.

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 21

    Emma duduk di restoran Michelin yang elegan, menatap hidangan Prancis yang dulu sangat dia sukai. Namun, kini sama sekali tidak berselera.Brody memandangnya dengan hati-hati dan berkata pelan, "Emma, kamu nggak suka? Mau ganti restoran?""Nggak perlu." Dia menatap Brody tanpa ekspresi. "Apa pun yang ingin kamu katakan, katakan saja. Setelah ini kita putus sepenuhnya, nggak akan bertemu lagi.""Putus sepenuhnya?" Hati Brody terasa ditusuk oleh kata itu. Matanya memerah dan suara seraknya terdengar seperti tercekat."Emma, hubungan kita lebih dari 20 tahun ... kamu benar-benar ingin melepaskannya?""Brody, masih ada yang perlu dibicarakan di antara kita? Aku sudah kasih tempat untuk keluargamu.""Emma, jangan bilang begitu. Anak itu bukan milikku." Wajah Brody penuh penyesalan, "Aku sudah bilang, aku hanya mengakui anak yang kamu lahirkan ...."Brody menatapnya dengan cemas, berusaha mencari sisa cinta di wajahnya. Namun, yang dia dapat hanya tatapan dingin."Brody, cepat bicara. Aku ma

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 20

    "Brody!" Begitu mendengar kabar dia akan pulang, nenek Brody sudah duduk di sofa menunggu sejak lama."Di mana Emma?" Dia segera melihat ke belakangnya, tapi tidak ada siapa pun."Nenek, dia nggak akan kembali." Luka di wajah Brody belum sembuh. Melihat kondisi Brody, neneknya langsung merasa sakit hati."Nenek, ini aku kembalikan." Brody mengulurkan tangan. Di telapak tangannya, masih gelang giok yang telah diperbaiki dengan benang emas."Emma nggak mau?" Neneknya tertegun, lalu menepuk dada dengan penuh penyesalan."Semua gara-gara wanita hina itu, cucu menantuku sampai kabur!"Brody tidak berkata apa-apa, hanya mendengarkan makiannya."Wanita itu sekarang malah jadi gila, bahkan nggak bisa mengontrol diri di rumah. Aku sudah suruh orang mengirimnya kembali ke GIlbert. Melihatnya saja sudah menyebalkan! Semua gara-gara dia. Kalau nggak, Emma-ku yang baik itu nggak mungkin pergi ....""Tapi, wanita itu juga membuatku sadar sesuatu."Neneknya segera menarik Brody mendekat dan berbisik

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 19

    Melihat wajah Emma yang marah, Brody tidak membantah. Dia hanya tersenyum tipis.Emma semakin kesal melihat sikapnya. "Brody, kita sudah cerai. Jangan ganggu aku lagi. Kalau kamu terus seperti ini, tokoku juga nggak bisa jalan!"Brody hanya berdiri di sana, menundukkan kepala seperti murid yang sedang dimarahi."Emma, aku nggak tahu cara mendekati orang lain. Aku hanya bisa seperti ini. Dulu aku juga mengejarmu dengan cara seperti ini."Emma tertegun.Memang, Brody tidak pernah pandai mendekati wanita. Dia hanya tahu menunjukkan rasa memiliki dengan cara yang canggung, memakai identitasnya sebagai tuan muda Keluarga Sukarsa agar orang lain tidak mendekati Emma. Dulu, Emma malah tertarik pada cinta yang canggung seperti itu, mengira Brody hanya akan seperti itu padanya selamanya. Siapa sangka, orang seperti itu juga bisa menyakitinya?"Brody, nggak perlu seperti ini." Emma tertawa sinis, "Aku sudah bilang jelas. Kita nggak mungkin lagi."Emma melanjutkan, "Aku dan Carlos juga akan menik

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 18

    "Emma, lihat aku."Brody berdiri di belakangnya, suaranya penuh keluhan. Emma hanya membuka pintu toko seperti biasa, sama sekali menganggapnya tidak ada."Emma, dengarkan aku."Brody terus mengikuti masuk ke dalam toko, melihatnya dengan terampil menyalakan mesin, mencuci cangkir dan piring. Dia tertegun sejenak. Sesuatu yang dulu dia abaikan, tiba-tiba muncul di ingatannya....."Brody, nanti aku mau menjalani hidup yang santai dan bebas," ucap Emma sambil duduk di bawah langit penuh bintang dengan berselimut dan bahu mereka saling bersandar."Emma, apa pun hidup yang kamu inginkan, aku akan menemanimu." Suara anak laki-laki itu masih polos. Bayangan tersebut adalah sosok mereka saat SMP."Brody, kamu nggak akan mengerti." Gadis itu hanya tersenyum. Anak laki-laki itu malah panik, "Kenapa aku nggak akan mengerti?"Gadis itu ragu sejenak, lalu berkata, "Brody, kamu nanti pasti akan menjadi penerus keluarga. Kamu akan memikul tanggung jawab keluarga dan tekanan perusahaan. Kamu akan te

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 17

    "Emma, malam ini kamu mau makan apa?"Carlos mendorong troli belanja, berjalan bersama Emma di supermarket. Emma menyebut beberapa menu sambil tersenyum dan Carlos mengiakan satu per satu. Matanya terpancar senyuman dan dia menggenggam tangan Emma lebih erat.Mereka keluar dari supermarket dengan belanjaan penuh."Aku mau kembali ke toko dulu, siapin biji kopi untuk besok." Emma mengayunkan tangan mereka yang saling menggenggam, "Pelukis besar, kamu mau ikut?"Carlos mencium keningnya. "Tentu saja."Kebersamaan mereka yang mesra terlihat oleh semua orang.....Tiba-tiba, Brody melangkah maju dan menarik Emma dengan keras ke dalam pelukannya. Sorot matanya tampak penuh posesif."Emma!" Brody mencengkeram bahunya erat, kecemburuan memenuhi dirinya saat mencium kening Emma."Kenapa! Kenapa kamu membiarkan pria lain sentuh kamu! Emma, kenapa kamu bisa melakukan ini padaku!"Mata Brody memerah, hatinya seperti diremas hingga sakit."Kamu tahu nggak, betapa sakitnya hatiku waktu aku melihatm

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 4

    Emma terbangun di tengah rasa sakit yang tajam. Dia membuka mata dan mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Saat menoleh sedikit, dia melihat Brody duduk di samping tempat tidur. Ada bayangan gelap tipis di bawah matanya."Emma, kamu sudah bangun, ya." Dia langsung mendekat sambil membungkuk

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 8

    Hari-hari berikutnya, Brody sepertinya mulai menyadari sesuatu. Dia mulai tidak pernah meninggalkan Emma sedetik pun. Dia menempel pada Emma sepanjang hari, bahkan saat Emma ke kamar mandi pun dia menunggu di luar.Kadang dari sudut matanya dia melihat Frida berdiri di sudut dengan mata merah, tapi

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 3

    "Emma! Akhirnya kamu bangun juga!"Keesokan harinya saat membuka mata, Emma melihat Brody berbaring di sampingnya. Brody mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Emma dengan sorot mata penuh kecemasan. "Kenapa nggak panggil aku kalau kamu demam? Kamu tahu nggak betapa paniknya aku waktu pulang dan me

  • Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia   Bab 2

    Emma menatap perjanjian cerai yang sudah ditandatangani itu, hatinya terasa seperti diremas kuat. Frida benar-benar berhasil melakukannya.Bagus sekali.Selanjutnya mereka bertiga akan hidup dengan baik, sementara dia mulai hari ini hanya akan hidup untuk dirinya sendiri."Emma, hadiah apa yang pali

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status