แชร์

4

ผู้เขียน: Naomiliana
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-03 12:35:17

Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat kepergian adiknya perlahan-lahan menghilang.

Tidak lama kemudian mereka berpapasan dengan Lien Hua. Ia menghampiri mereka dengan senyum palsunya.

"Kak Jian, Kak Lian kalian mau kemana? Kak Lian kau harus tinggal di paviliun mu, kau kan baru saja sembuh."

"Hah dasar ular," gumamnya pelan.

"Tidak adik, aku sudah merasa sehat, sekarang aku dan kakak harus pergi, sampai nanti."

Sekali lagi Lian Wei menarik Jianying untuk segera pergi. Sementara yang ditinggalkan sudah memerah karena marah.

"Awas saja kau sampah, kau beruntung sekarang hanya karena ada Jianying di sampingmu."

"Adik kenapa kau menghindari Xiuhuan dan Lien Hua?"

"Aku? Aku tidak menghindari mereka. Aku hanya ingin cepat sampai ke tempat latihan prajurit saja."

"Dasar adik kecil," ucapnya tersenyum manis sambil mengusap rambut Lian Wei.

"Kakak! Kau membuat rambutku rusak! Mingmei sudah menatanya susah payah kau tahu?"

"Hahaha maafkan aku adik, aku akan bantu rapikan rambutmu," ucapnya sambil merapikan rambut Lian Wei.

Tak lama mereka sampai ditempat latihan. Pandangan pertama yang dilihat Lian Wei adalah para prajurit yang sedang berlatih. Ada yang berlatih dengan pedang, panah, tombak atau sedang lari keliling lapangan.

Mata Lian Wei berbinar-binar melihat pemandangan di depan matanya. Sudah lama ia tidak melihat pasukan berlatih. Meskipun cara berlatih mereka berbeda dengan di kehidupan sebelumnya, namun melihat semangat yang sama membuat Lian Wei ingin ikut berlatih juga.

"Lian'er jangan sampai terluka, kau hanya bisa melihatnya saja, mengerti?"

Lian Wei hanya menganggukkan kepalanya menanggapi Jianying.

'Tidak kak, aku akan ikut bermain,' ucapnya dalam hati ia menampilkan seringai di wajahnya.

Melihat kedatangan Jianying dan Lian Wei, semua pasukan menghentikan latihan mereka. Salah seorang dari mereka menghampiri Jianying dan Lian Wei.

"Salam Pangeran Kedua dan Putri Pertama."

"Ya, bagaimana latihan mereka Jingmi?"

"Semua aman Pangeran Kedua."

Jianying adalah seorang Jenderal, banyak peperangan yang dimenangkan olehnya. Jingmi adalah komandan pasukan, ia orang kepercayaan Jianying untuk mengatur pasukannya.

"Lian'er ini Jingmi, dia Komandan Pasukan."

Semua pasukan tahu bahwa Jenderal mereka sangat menyayangi Putri Pertama. Mereka tidak bisa berbuat seenaknya pada Putri Pertama. Meskipun tatapan mata mereka yang merendahkan Lian Wei dapat ditangkap olehnya.

'Cih mereka tidak berani berbuat hanya karena kakak menyayangi ku, tapi apa-apan tatapan mata mereka yang merendahkan ku? Akan ku buktikan pada mereka,' batinnya kesal.

"Jingmi, kau tahu kau terlihat memandang rendah diriku," ucap Lian Wei tiba-tiba, "Kakak, apa kau akan menghukum orang yang merendahkan aku?"

Mendengar perkataan adiknya membuat Jianying marah. Siapa yang berani merendahkan adiknya dihadapannya. Melihat tatapan dingin dari Jianying semua pasukan tahu bahwa jenderal mereka sedang marah saat ini. Jingmi mengambil inisiatif terlebih dahulu sebelum tuannya itu marah.

"Te-tentu saja saya tidak berani putri pertama. Siapa orang yang berani me-merendahkan anda."

Jingmi mengatakannya dengan gugup. Bukan ia takut pada perkataan Lian Wei, tapi ia takut dengan Jianying. Saat Jianying marah ia akan menjadi orang berbeda ia terkenal kejam di medan perang. Jika ada yang mengusik adik kesayangannya entah apa jadinya nasib orang itu. Mungkin Jianying tidak akan segan menghukum pasukannya sendiri.

"Kalau begitu ayo bertarung denganku."

"Tidak putri, saya tidak bisa bagaimana jika anda terluka?"

"Ck... apa kau takut padaku?"

'Cih mana mungkin aku takut pada orang yang tidak berguna seperti mu,' ucapnya dalam hati, ia sudah menahan amarah sedari tadi.

"Tidak putri."

"Kalau begitu lawan aku."

"Baiklah jika anda meminta."

"Lian'er."

"Kau tenang saja kak."

Lian Wei berjalan menuju penyimpanan pedang dan mengambil salah satu pedang. Kemudian ia berjalan menuju arena latihan ia berhadapan dengan Jingmi. Ia mendekati Jingmi dan berbicara padanya.

"Mari taruhan, jika aku menang kau harus tunduk padaku dan begitupun sebaliknya jika aku kalah."

"Baiklah saya setuju."

Setelah mereka setuju mereka menjauh dan bersiap di tempat mereka masing-masing.

"Tolong jangan ragu komandan."

"Tidak akan putri."

Lalu mereka memulai pertarungan, Lian Wei menyerang dengan gesit. Dalam serangannya ia tidak menunjukkan titik lemahnya. Hal itu membuat semua orang terkejut. Putri pertama yang mereka tahu tidak bisa apa-apa, sekarang bagaimana mungkin serangannya gesit dan sangat kuat?

Jingmi terkenal dengan keahlian pedangnya, ia bahkan tidak bisa menyerang Lian Wei, ia hanya bisa menangkis serangan yang diberikan Lian Wei.

"Bagaimana mungkin serangannya begitu cepat dan gesit? Dia bahkan tidak menunjukkan titik lemahnya."

"Wah hebat."

"Serangannya kuat dan cepat."

"Cara putri bertarung sangat indah namun juga kuat."

"Bagaimana bisa aku seperti melihat orang yang menari dengan pedang begitu indahnya?"

"Aku seperti melihat Dewi Pedang."

"Aku tidak percaya adik sangat ahli dalam pedang. Dari mana dia belajar hal itu?"

"Ayo serang putri!"

"Kalahkan komandan!"

"Jangan mau kalah komandan!"

"Ayo serang komandan!"

Semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan tanpa mereka sadari Kaisar dan Putra Mahkota juga ikut menonton pertarungan ini.

Mendengar keributan dari area pelatihan membuat rasa penasaran kaisar dan putra mahkota naik.

"Apa yang terjadi disana?"

"Aku tidak tahu ayah, mari kita lihat."

Jingmi melihat pertahanan Lian Wei terbuka, ia segera mengambil kesempatan untuk menyerang, namun siapa sangka jika Lian Wei dapat menghindar. Akhirnya Jingmi hanya bisa menusuk angin. Sekarang mereka saling membelakangi.

Lian Wei berbalik dan melompat, ia menendang punggung Jingmi yang membuatnya hampir jatuh tersungkur. Jingmi yang tidak siap hampir tidak bisa menahan serangan itu. Tendangan Lian Wei sangat kuat untung saja pedang ditangannya dapat menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

'Bagaimana mungkin dia sekuat itu?' batin kaisar dan putra mahkota.

Jingmi bangkit sambil menahan rasa sakit di punggungnya. Lian Wei kembali menyerang tanpa ampun. Tatapan matanya sangat dingin, Jingmi baru sadar jika sedari tadi Lian Wei memasang tatapan dingin padanya. Seolah ia sedang melihat musuh di medan perang.

Saat memikirkan hal itu membuat Jingmi lengah. Lian Wei menyerang Jingmi, pedangnya memutari pedang Jingmi dan didetik berikutnya ia menerbangkan pedang Jingmi dan berhasil ditangkap olehnya. Aksinya membuat orang tercengang. Segera mereka bertepuk tangan untuk Lian Wei.

Belum sempat mereka sadar dari terkejutnya, Lian Wei sudah mengarahkan tendangannya pada kepala Jingmi. Tendangan itu sangat kuat dan tiba-tiba. Jingmi melihat itu dan tidak mungkin ia berhasil menghindari tendangan itu. Tendangan itu begitu cepat, ia hanya bisa menutup matanya.

Namun lama ia menutup mata yang akan membuatnya malu di masa depan, ia tidak merasakan tendangan itu. Ia membuka matanya dan melihat bahwa kaki Lian Wei hanya berjarak satu sentimeter dari kepalanya.

'Bagaimana bisa ia menghentikan serangan yang begitu cepat?' batin Jingmi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   195

    Sementara itu Xiuhuan dan Jianying tanpa perlawanan sedikitpun, keduanya membiarkan diri mereka dituntun. Para pengawal saling berpandangan sebelum membawa mereka menuju sebuah kereta kerajaan yang berada di gerbang istana.Kereta itu dihiasi ukiran bunga teratai putih dan tirai sutra berwarna gading. Kereta itu sebelumnya dipersiapkan untuk membawa Lian Wei pulang. Namun kini, pemiliknya tak pernah lagi akan menaikinya.Saat memasuki kereta, Xiuhuan mengusap perlahan kursi yang berada tepat di hadapannya. Di sanalah seharusnya adik perempuan mereka duduk, tersenyum sambil mengeluh bosan sepanjang perjalanan pulang.Tak ada siapa pun.Hanya ruang kosong yang terasa begitu menyakitkan.Jianying menundukkan kepala, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah kembali.Kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan Kekaisaran Wu.Tak seorang pun di dalamnya mengucapkan sepatah kata. Yang terdengar hanyalah derit roda kayu dan sesekali suara tangi

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   194

    “Sudah kuduga! Kalian Keluarga Li memang tidak bisa ku ampuni! Temukan dia! Jika tidak, akulah yang akan menghancurkan kalian!”Suara Liu Changhai mengguncang makam istana. Urat-urat di lehernya menegang, sementara tatapannya dipenuhi amarah yang nyaris tak lagi bisa dikendalikan. Para pengawal menundukkan kepala, tak seorang pun berani menyela.Keluarga Li mengepalkan tangan. Wajahnya pucat, tetapi ia tetap berdiri tegak.“Kami juga kehilangan adik kami. Jangan kira hanya kau yang merasakan kehilangan.”“Diam!” bentak Liu Changhai. “Kalian telah menyembunyikan begitu banyak hal dariku. Jika Lian Wei masih hidup, aku akan menyembunyikan dari kalian.”Pedangnya tercabut dari sarungnya.“Keluarga Li mulai hari ini kita bermusuhan dan akan ku pastikan, kalian lenyap dari muka bumi!”Beberapa pengawal Li refleks maju selangkah. Suasana berubah mencekam.“Yang Mulia,” panik mereka yang langsung memasan badan di depan para Pangeran Li.“Liu Changhai, tenanglah,” suara tenang Xu Kai memotong

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   193

    “Baik pangeran,” sahutnya. Segera Wang Xuemin pergi dari sana. Tepat ketika dia datang, para pangeran juga datang tanpa prajurit. Saat Wang Xuemin melihat ke sekelilingnya ia terkejut melihat banyaknya pasukan di bawa. Mereka saling memberi salam satu sama lain.“Selamat datang di Istana Wang, tapi… apa kalian kesini mau mengajak ku berperang?” tanyanya sambil menatap prajurit yang berdiri di luar.“Pangeran Wang, anda bercanda ya?” Xiuhuan sedikit tertawa palsu.Segera ia bersitatap dengan Xu Kai. Untuk mengetahui jawabannya. Sementara yang di tatap hanya mengedikkan bahunya acuh. Wang Xuemin melayangkan tatapan permusuhan padanya. “Ah sahabat baikku, lama tidak berjumpa,” ucapnya segera memeluk Xu Kai erat sampai ia tidak bisa bernafas. Xu Kai menepuk punggung Wang Xuemin kencang.“Untuk apa mereka disini?” ucapnya tertahan karena sambil tersenyum dan sedikit tertawa.“Mereka datang mencari putri,” bisiknya pelan. “Darimana mereka tahu, kau sudah berjanji padanya,” ucapnya gera

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   192

    Belum sempat suasana istana tenang, seekor elang pembawa pesan mendarat di halaman utama. Pesan itu berasal dari perbatasan, Jingmi yang sedang berpatroli menerima pesan itu. “Ini dari perbatasan,” ucapnya lalu membaca nama pengirimnya. Segera ia berlari mencari Kaisar Li. “Yang Mulia,” suara Jingmi yang masuk dengan panik. Ia sedikit menundukkan kepalanya, keringat membasahi pelipisnya. “Ada apa Jenderal?” “Ada surat dari pangeran.” Kaisar Li mengangkat alisnya dan menyuruhnya membacakan isi pesannya. Segera Jingmi membuka pesan dan membacakannya. “Disini tertulis para pangeran telah menerima kabar meninggalnya Putri Lian Wei." Wajah Kaisar semakin pucat. “Namun mereka menolak mempercayai kabar tersebut. Saat ini seluruh pasukan keluarga kerajaan telah menyebar ke seluruh wilayah tempat sang putri terakhir terlihat. Selain itu mereka juga sedang dalam perjalanan menuju Kekaisaran Wu. Mereka akan mencari jasad sang putri. Selama jasad itu belum ditemukan… mereka tidak akan m

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   191

    “Ada perlu apa mencari Nona Xinxin? Siapa kalian? Apa kalian orang suruhan musuh?”“Kau?” ucap panglima itu terhenti setelah melihat tanda orang di hadapannya. Tanda yang hanya dimiliki oleh pasukan Xinxin. “Salam tuan, kami datang mencari nona anda karena ingin menyampaikan pesan ini?”Yi tan menyerahkan gulungan kertas itu dan memberikannya pada pengawal bayangan di sana.Segera diambilnya gulungan kertas tersebut dan dibaca dengan hati-hati. Setelah membacanya, ia melihat sekumpulan orang yang ada di hadapannya. “Apa kalian benar-benar dikirim untuk nona kami?”“Benar tuan, kami sudah lama menantikan hari ini tiba. Panglima besar kami ikut dengan rombongan para pangeran.”“Baiklah, pertama kalian semua harus saya selidiki latar belakangnya sampai terlihat kebenarannya, lalu setelah itu akan saya beri tanda kesetiaan.”“Baiklah tuan.”“Ini makan, sebagai tanda perjanjian sementara,” ucap pengawal itu memberikan pil pada mereka dalam jumlah yang banyak.Yi Tan mengambilnya tanpa ra

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   190

    “Jadi pergilah ke sana, untuk membantu mewujudkan mimpinya.” Itu seperti perintah mutlak dari Xuanzong pada Zei Xen. Kaisar Xu berdiri, jubah emasnya bergoyang tertiup angin malam. “Jadilah bagian dari Tentara Xinxin. Mulai hari ini, kalian bukan lagi bayangan masa lalu. Kalian adalah pedang bagi Lian Wei.” Zei Xen menundukkan kepala dalam-dalam. Mata pria itu telah dipenuhi air mata. Tidak tahu harus bersikap seperti apa, ia senang bisa bergabung dengan Tentara Xinxin yang hebat. Namun juga merasa sedih karena belum sempat melayani Lian Wei. “Bawahan menerima perintah. Meski harus mengorbankan nyawa, kami akan berusaha untuk mewujudkan mimpi sang putri.” Kaisar Xu memandang hujan yang semakin deras. Dalam hati, ia teringat wajah Liu Fang Yin. ‘Fang Yin… entah mengapa aku merasa Lian’er masih hidup. Dan aku telah menemukan orang-orang yang akan menjaganya. Mulai sekarang, ia tidak akan berjalan sendirian lagi.’ Di bawah hujan malam itu, sebuah kesetiaan yang telah tertidur sel

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   72

    “Kemana perginya putri barbar itu?” bisik salah satu pejabat.“Aku lebih suka dia yang sekarang.”“Aku lebih suka dia yang dulu.”Bisikan para pejabat memenuhi ruangan itu. Di sisi kanan adalah kubu yang mendukung Putra Mahkota dan sisi kiri adalah kubu yang mendukung Pangeran Kedua.“Salam ayahand

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   71

    Keesokan paginya Lian Wei bangun di ruangan asing.“Ini bukan kamar ku.”“Putri anda sudah bangun?” Mingmei langsung menghampirinya.“Ini—”“Kediaman Pangeran Kedua.”“Kakak?”“Apa yang terjadi?” beo Lian Wei pelan sambil mencoba mengingat kejadian semalam.Lian Wei menarik selimut hingga menutupi

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   70

    Lian Wei terdiam, tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Tubuhnya tidak bisa dikendalikan, perasaan asing yang bukan miliknya membuatnya sesak.Untuk sesaat ia benar-benar merasa sakit hati. Bukan rasa sakit miliknya, tapi rasa sakit yang terlalu lama tertinggal di tubuh ini.Xiuhuan sudah be

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   69

    “Kau tidak apa?” tanya Wang Xuemin.Lian Wei menoleh dan mendapati Wang Xuemin di sampingnya.Lian Wei ingin menjawab tidak apa-apa, namun dadanya terasa sesak saat melihat Xiuhuan mengabaikannya dan menyuruhnya untuk mengalah.‘Kenapa seolah aku sudah sering menerima perlakuan ini?’‘Apakah mungki

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status