登入Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat kepergian adiknya perlahan-lahan menghilang.
Tidak lama kemudian mereka berpapasan dengan Lien Hua. Ia menghampiri mereka dengan senyum palsunya."Kak Jian, Kak Lian kalian mau kemana? Kak Lian kau harus tinggal di paviliun mu, kau kan baru saja sembuh.""Hah dasar ular," gumamnya pelan."Tidak adik, aku sudah merasa sehat, sekarang aku dan kakak harus pergi, sampai nanti."Sekali lagi Lian Wei menarik Jianying untuk segera pergi. Sementara yang ditinggalkan sudah memerah karena marah."Awas saja kau sampah, kau beruntung sekarang hanya karena ada Jianying di sampingmu.""Adik kenapa kau menghindari Xiuhuan dan Lien Hua?""Aku? Aku tidak menghindari mereka. Aku hanya ingin cepat sampai ke tempat latihan prajurit saja.""Dasar adik kecil," ucapnya tersenyum manis sambil mengusap rambut Lian Wei."Kakak! Kau membuat rambutku rusak! Mingmei sudah menatanya susah payah kau tahu?""Hahaha maafkan aku adik, aku akan bantu rapikan rambutmu," ucapnya sambil merapikan rambut Lian Wei.Tak lama mereka sampai ditempat latihan. Pandangan pertama yang dilihat Lian Wei adalah para prajurit yang sedang berlatih. Ada yang berlatih dengan pedang, panah, tombak atau sedang lari keliling lapangan.Mata Lian Wei berbinar-binar melihat pemandangan di depan matanya. Sudah lama ia tidak melihat pasukan berlatih. Meskipun cara berlatih mereka berbeda dengan di kehidupan sebelumnya, namun melihat semangat yang sama membuat Lian Wei ingin ikut berlatih juga."Lian'er jangan sampai terluka, kau hanya bisa melihatnya saja, mengerti?"Lian Wei hanya menganggukkan kepalanya menanggapi Jianying.'Tidak kak, aku akan ikut bermain,' ucapnya dalam hati ia menampilkan seringai di wajahnya.Melihat kedatangan Jianying dan Lian Wei, semua pasukan menghentikan latihan mereka. Salah seorang dari mereka menghampiri Jianying dan Lian Wei."Salam Pangeran Kedua dan Putri Pertama.""Ya, bagaimana latihan mereka Jingmi?""Semua aman Pangeran Kedua."Jianying adalah seorang Jenderal, banyak peperangan yang dimenangkan olehnya. Jingmi adalah komandan pasukan, ia orang kepercayaan Jianying untuk mengatur pasukannya."Lian'er ini Jingmi, dia Komandan Pasukan."Semua pasukan tahu bahwa Jenderal mereka sangat menyayangi Putri Pertama. Mereka tidak bisa berbuat seenaknya pada Putri Pertama. Meskipun tatapan mata mereka yang merendahkan Lian Wei dapat ditangkap olehnya.'Cih mereka tidak berani berbuat hanya karena kakak menyayangi ku, tapi apa-apan tatapan mata mereka yang merendahkan ku? Akan ku buktikan pada mereka,' batinnya kesal."Jingmi, kau tahu kau terlihat memandang rendah diriku," ucap Lian Wei tiba-tiba, "Kakak, apa kau akan menghukum orang yang merendahkan aku?"Mendengar perkataan adiknya membuat Jianying marah. Siapa yang berani merendahkan adiknya dihadapannya. Melihat tatapan dingin dari Jianying semua pasukan tahu bahwa jenderal mereka sedang marah saat ini. Jingmi mengambil inisiatif terlebih dahulu sebelum tuannya itu marah."Te-tentu saja saya tidak berani putri pertama. Siapa orang yang berani me-merendahkan anda."Jingmi mengatakannya dengan gugup. Bukan ia takut pada perkataan Lian Wei, tapi ia takut dengan Jianying. Saat Jianying marah ia akan menjadi orang berbeda ia terkenal kejam di medan perang. Jika ada yang mengusik adik kesayangannya entah apa jadinya nasib orang itu. Mungkin Jianying tidak akan segan menghukum pasukannya sendiri."Kalau begitu ayo bertarung denganku.""Tidak putri, saya tidak bisa bagaimana jika anda terluka?""Ck... apa kau takut padaku?"'Cih mana mungkin aku takut pada orang yang tidak berguna seperti mu,' ucapnya dalam hati, ia sudah menahan amarah sedari tadi."Tidak putri.""Kalau begitu lawan aku.""Baiklah jika anda meminta.""Lian'er.""Kau tenang saja kak."Lian Wei berjalan menuju penyimpanan pedang dan mengambil salah satu pedang. Kemudian ia berjalan menuju arena latihan ia berhadapan dengan Jingmi. Ia mendekati Jingmi dan berbicara padanya."Mari taruhan, jika aku menang kau harus tunduk padaku dan begitupun sebaliknya jika aku kalah.""Baiklah saya setuju."Setelah mereka setuju mereka menjauh dan bersiap di tempat mereka masing-masing."Tolong jangan ragu komandan.""Tidak akan putri."Lalu mereka memulai pertarungan, Lian Wei menyerang dengan gesit. Dalam serangannya ia tidak menunjukkan titik lemahnya. Hal itu membuat semua orang terkejut. Putri pertama yang mereka tahu tidak bisa apa-apa, sekarang bagaimana mungkin serangannya gesit dan sangat kuat?Jingmi terkenal dengan keahlian pedangnya, ia bahkan tidak bisa menyerang Lian Wei, ia hanya bisa menangkis serangan yang diberikan Lian Wei."Bagaimana mungkin serangannya begitu cepat dan gesit? Dia bahkan tidak menunjukkan titik lemahnya.""Wah hebat.""Serangannya kuat dan cepat.""Cara putri bertarung sangat indah namun juga kuat.""Bagaimana bisa aku seperti melihat orang yang menari dengan pedang begitu indahnya?""Aku seperti melihat Dewi Pedang.""Aku tidak percaya adik sangat ahli dalam pedang. Dari mana dia belajar hal itu?""Ayo serang putri!""Kalahkan komandan!""Jangan mau kalah komandan!""Ayo serang komandan!"Semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan tanpa mereka sadari Kaisar dan Putra Mahkota juga ikut menonton pertarungan ini.Mendengar keributan dari area pelatihan membuat rasa penasaran kaisar dan putra mahkota naik."Apa yang terjadi disana?""Aku tidak tahu ayah, mari kita lihat."Jingmi melihat pertahanan Lian Wei terbuka, ia segera mengambil kesempatan untuk menyerang, namun siapa sangka jika Lian Wei dapat menghindar. Akhirnya Jingmi hanya bisa menusuk angin. Sekarang mereka saling membelakangi.Lian Wei berbalik dan melompat, ia menendang punggung Jingmi yang membuatnya hampir jatuh tersungkur. Jingmi yang tidak siap hampir tidak bisa menahan serangan itu. Tendangan Lian Wei sangat kuat untung saja pedang ditangannya dapat menahan tubuhnya agar tidak jatuh.'Bagaimana mungkin dia sekuat itu?' batin kaisar dan putra mahkota.Jingmi bangkit sambil menahan rasa sakit di punggungnya. Lian Wei kembali menyerang tanpa ampun. Tatapan matanya sangat dingin, Jingmi baru sadar jika sedari tadi Lian Wei memasang tatapan dingin padanya. Seolah ia sedang melihat musuh di medan perang.Saat memikirkan hal itu membuat Jingmi lengah. Lian Wei menyerang Jingmi, pedangnya memutari pedang Jingmi dan didetik berikutnya ia menerbangkan pedang Jingmi dan berhasil ditangkap olehnya. Aksinya membuat orang tercengang. Segera mereka bertepuk tangan untuk Lian Wei.Belum sempat mereka sadar dari terkejutnya, Lian Wei sudah mengarahkan tendangannya pada kepala Jingmi. Tendangan itu sangat kuat dan tiba-tiba. Jingmi melihat itu dan tidak mungkin ia berhasil menghindari tendangan itu. Tendangan itu begitu cepat, ia hanya bisa menutup matanya.Namun lama ia menutup mata yang akan membuatnya malu di masa depan, ia tidak merasakan tendangan itu. Ia membuka matanya dan melihat bahwa kaki Lian Wei hanya berjarak satu sentimeter dari kepalanya.'Bagaimana bisa ia menghentikan serangan yang begitu cepat?' batin Jingmi.“Putri…” cegah Mingmei.Tabib Luo mengambilnya dari tangan Lian Wei dan meminumnya tanpa ragu. “Putri itu kan obat yang baru di buat!” pekik Mingmei terkejut.Tabib Luo membalikkan botol ramuan yang sudah kosong, untuk di perlihatkan pada Lian Wei. “Bagus.”Lian Wei terlihat bangga, ia tidak salah pilih orang.“Apa efeknya?”Tidak lama Tabib Luo memuntahkan banyak darah hitam. Semua orang terlihat panik karena hal itu.Tabib Luo mengangkat tangannya menghentikan semua orang yang ingin membantunya.“Bagaimana ini? Obatnya belum selesai diuji coba,” takut Xiu Juan.“Putri... ini obat apa?”Lian Wei hanya diam mendengarkan.“Tubuh ku... rasanya jauh lebih ringan, bahkan aliran darahku terasa berjalan lancar tanpa ada hambatan.”“Benar, itu obat pengencer aliran darah.”“Wah ini sangat hebat putri, rasanya aliran Qi ku penuh dan terasa hangat.”“Tentu saja, ini resepnya.”Lian Wei menyerahkan selembar kertas berisi resep pada Tabib Luo. Ia bingung apakah akan mengambilnya atau tidak.“K
“Nona?!” pekik Mingmei, Qianfan dan Xiu Juan terkejut dengan perkataan nonanya.“Tidak, toko wewangian adalah yang terakhir, bahkan dia belum stabil,” cegah Mingmei.Terlalu banyak bisnis, sebenarnya nonanya membutuhkan uang seberapa banyak? Dengan adanya enam usaha yang dijalankan dan satu tentara bayaran bukankah itu sudah lebih dari cukup? Terlebih lagi toko mereka sangat terkenal sekarang. “Aku sangat suka uang, aku tidak bisa hidup tanpa uang,” ucapnya dengan mengangkat tangannya ke udara lalu meletakkan di belakang kepalanya dan bersandar dengan santai pada kursinya. Sementara yang lain hanya diam terpaku pada tingkah nonanya ini. “Putri, bukankah anda sudah memiliki banyak harta?” tanya Tabib Luo yang sudah mengerti tentang rahasia besar Lian Wei.“Ya tapi masih kurang, aku harus lebih kaya dari Kaisar jelek itu. Tidakkah kalian kasihan pada hidupku yang sengsara ini?” ucapnya dengan puppy eyes andalannya. “Ah baiklah baik nona, aku akan mengurus hal itu,” pasrah Xiu Juan.
“Entahlah, mungkin ayah mau memotong pejabat korup?”“Lalu?”“Aku bilang pada ayah, melakukannya terang-terangan bisa membuat mereka waspada, jadi ku sarankan untuk memotong sumber kekuatan mereka, lalu setelahnya membicarakan Tuan Xinxin.”Lian Wei menyodorkan teh pada Xiuhuan.“Kau membicarakan politik dan bisnis pada ayah? Apa kau ingin masuk ke politik?”“Tidak, istana membosankan. Aku tidak suka dikurung dalam sangkar emas ini.”“Kau mau kemana?”“Kemanapun asalkan bukan di dalam istana. Mungkin ikut Kak Jian ke barak lebih menarik.”“Kau sangat menyukai Jianying ya?”“Ya, dia sangat baik padaku. Kak Jian selalu ada disaat aku butuh seseorang untuk percaya padaku dan melindungiku.”Xiuhuan terdiam.Ia tidak bisa menyangkalnya, karena selama ini ia selalu mengabaikan adik kandungnya sendiri, bahkan menyakiti adiknya.“Lian'er…”“Hmm?”“Apa kita bisa memulainya kembali dari awal? Apa kau bisa memaafkan kakak?”Lian Wei tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepalanya sejenak sebel
“Cara bicaramu… terdengar seolah kau sangat mengenal Xinxin. Katakan padaku, ada hubungan apa kau dengannya?”Kaisar mulai curiga.Deg…Untuk pertama kalinya pagi itu, jemari Lian Wei berhenti bergerak.Hanya sesaat.Namun cukup untuk ditangkap oleh Kaisar, tatapan Kaisar langsung menajam tipis. Lian Wei segera menunduk mengambil bidak catur yang jatuh.“Aku hanya menebak.”“Benarkah?”Hening.Entah kenapa, udara mendadak terasa jauh lebih dingin. Lalu Kaisar tiba-tiba tersenyum samar, namun senyum itu tidak mencapai matanya.“Kalau begitu…” Kaisar berdiri perlahan dari tempat duduknya.“Kita lihat saja…” langkahnya berhenti sebentar di samping Lian Wei, “…apakah tebakanmu benar.”“Ayah, untuk seseorang yang misterius seperti Xinxin ini, baginya selain keamanan apalagi yang dia butuhkan? Tentara dia memilikinya sendiri, menguasai sektor perdagangan, bahkan mengambil alih jalur perdagangan. Mungkin saja, dia bisa membangun kerajaannya sendiri.”Kaisar terdiam di tempat dia berdiri.“Ta
“Putri, Kaisar memanggil anda di Paviliun Matahari.”Seorang pelayan datang menghampiri Lian Wei yang sedang menyiram tanaman.“Baiklah.”Lian Wei meletakkan peralatannya lalu segera pergi menemui Kaisar. Sesampainya di Paviliun Matahari ia melihat ayahnya sedang bermain catur sendirian.Tidak ada pejabat. Tidak ada pengawal berlebihan.Hanya dua cangkir teh panas di antara mereka.‘Ini adalah hari yang panjang,’ pikir Lian Wei.”Kalian tunggu disini,” ucapnya pada Mingmei dan Anming.Lian Wei menghampiri ayahnya dan memberi hormat.“Ayah memanggilku?”“Duduk.”Lian Wei duduk di depan Kaisar yang masih berpikir akan diletakkan dimana bidak catur putihnya.Permainan sudah disusun setengah jalan dan hanya sekali lihat ia langsung sadar. Posisi bidak hitam sedang terpojok.“Kau bermain yang hitam,”Kaisar mendorong kotak bidak ke arahnya.Lian Wei terdiam sebentar sebelum mengambil satu bidak.Tak…Satu langkah sederhana, namun mata Kaisar langsung berubah karena langkah itu tidak menye
Xiuhuan membeku dan untuk pertama kalinya ia sadar. Bukan musuh istana yang paling melukai orang-orang disekitarnya, melainkan dirinya sendiri.“Aku…”“Kakak aku tidak tahu kau ada trauma masa lalu apa? Tapi yang inginku katakan adalah kau harus tahu siapa harus menjadi prioritasmu.”Lian Wei membuka selimutnya lalu dibantu oleh Xiuhuan untuk berdiri.“Sekarang, kakak yang ikut aku.”Lian Wei berjalan menuju rak buku dan mengambil kunci yang tergantung. Lalu mereka pergi dari Paviliun Sakura. Tanpa bertanya Xiuhuan mengikuti Lian Wei, bahkan ia melarang pengawal dan pelayan mengikuti mereka.Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan, Xiuhuan yang takut adiknya kenapa-kenapa segera membalutnya dengan jubahnya. Dia juga merangkul pundak Lian Wei.Hingga tibalah mereka di suatu tempat yang sangat dihindari Xiuhuan.Paviliun Mawar.“Ayo masuk,” ajak Lian Wei.Melihat kakaknya hanya berdiam diri, Lian Wei menggandeng tangan kakaknya untuk masuk.Ceklek…Suara kunci gembok terbuka, segera mere







