Share

5

Penulis: Naomiliana
last update Tanggal publikasi: 2026-04-07 23:11:01

Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas.

"Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menendang kepalamu mungkin kau akan tidak sadarkan diri, hmm paling cepat seminggu."

Mendengar perkataan Lian Wei semua orang menjadi takut. Mereka berjanji di masa depan mereka tidak akan mengganggu putri pertama. Jika tidak mungkin mereka akan mati saat itu.

"Ayo bangun, itu hanya serangan kecil saja. Aku tidak menaruh semua kekuatan pada serangan itu," ucapnya dengan mengulurkan tangannya pada Jingmi.

Semua orang bergidik ngeri. Apa katanya tidak menaruh banyak kekuatan? Tapi itu saja sudah sangat kuat, bagaimana jika ia benar-benar menggunakan kekuatannya. Jingmi pasti sudah mati.

Mereka tidak henti-hentinya mengagumi putri pertama. Beruntung mereka tidak seperti pelayan yang mengolok-olok putri pertama. Mungkin saja putri pertama adalah pendendam, mengingat betapa kuatnya serangannya.

Jingmi tidak kunjung juga meraih tangan Lian Wei, akhirnya karena jengah Lian Wei menarik lengan Jingmi kuat yang membuat pria itu segera bangun.

"Panggilkan tabib, ia harus mengobati punggungnya."

"Tidak perlu Putri Pertama."

Jingmi menolak secara halus namun siapa sangka Lian Wei berjalan kebelakang Jingmi dan menyentuh punggungnya. Hal itu sontak membuat Jingmi terkejut. Ia dapat merasakan sentuhan hangat dari Lian Wei, namun juga perih di saat yang sama.

"Punggungmu bengkak dan ada beberapa tulang yang retak jika tidak diobati akan fatal," ucapnya yang mengejutkan orang.

Ternyata selain pandai bertarung dan berpedang, putri pertama juga pandai mendiagnosis seseorang. Mereka berjanji dalam hatinya akan lebih menghormati putri pertama seperti mereka menghormati pangeran kedua.

"Hei kau yang disana, cepat panggil tabib," perintahnya pada seorang prajurit.

"Baik putri."

"Hei Jingmi, taruhan mu?" tanya Lian Wei tiba-tiba.

"Taruhan?" semua orang terkejut, kapan mereka membuat taruhan. Apakah saat mereka saling bertatap tepat sebelum pertarungan berlangsung?

"Saya akan mengabdi pada putri, terima kasih sudah berbaik hati padaku."

"Bagus, putri ini senang mendengarnya. Ayo kak kita kembali."

"Ayo ayah kita kembali," ajak Xiuhuan pada Jiazhen, setelah melihat pertarungan sudah berakhir yang dimenangkan oleh adiknya.

"Ayo kembali adik, kau tidak apa?"

"Aku tidak apa. Ayo kita mengunjungi ibu," ucapnya dengan riang. Ia menyerahkan pedang pada salah satu prajurit dan menggandeng tangan Jianying dan menariknya dengan sedikit berlari. Perubahan sikapnya sangat jelas terlihat dari yang tidak tersentuh sampai jadi gadis manja.

"Lian'er jangan berlari," tegur Jianying.

Tak lama setelah kepergian mereka, tabib istana datang. Ia segera menangani Jingmi, sangat terkejut saat tahu apa yang tabib katakan. Iya semua orang terkejut karena apa yang dikatakan putri pertama sama persis dengan apa yang dikatakan tabib.

Tabib yang melihat semua orang terkejut segera meyakinkan mereka agar tidak khawatir. Namun apa yang dipikirkan tabib dengan mereka jelas berbeda.

"Kalian tenang saja, aku sudah meresepkan obat, dalam beberapa hari tulangnya akan sembuh."

"Kami tidak khawatirkan soal itu," celetuk salah seorang prajurit.

"Ya, yang membuat kami semua terkejut bukan soal diagnosis mu, tapi soal diagnosis Putri Pertama yang sama persis seperti diagnosis mu," sahut yang lain.

Tabib itu pun segera terkejut dengan perkataan para prajurit itu. Segera ia meyakinkan diri dengan melihat ekspresi setiap orang, namun yang di dapat adalah ekspresi kaget dan anggukan kepala.

Berita tentang putri pertama yang bertarung dengan Jingmi segera tersebar luas. Berita kemenangan dan diagnosis yang tepat putri pertama juga tersebar. Istana sedang digegerkan dengan fakta mengejutkan dari sampah istana. Hal itu membuat para rubah sangat geram dengan Lian Wei.

Mingmei yang baru kembali dari pasar dan mengetahui kabar itu segera mencari Lian Wei. Dan disinilah ia berada di Paviliun Anggrek, tempat Selir Wu Zhishu.

Lian Wei sedang bermanja-manja dengan Selir Wu. Selir Wu yang melihat tingkat manja Lian Wei merasa senang. Ia sangat ingin punya anak perempuan. Namun setelah melahirkan Jianying ia tidak bisa hamil lagi.

Selir Wu sangat menyayangi Lian Wei. Lian Wei adalah anak sahabatnya. Permaisuri Liu Fang Yin teman pertamanya saat memasuki istana ini. Selir Wu adalah anak seorang perdana menteri, mereka menikahkan putrinya untuk memperkuat kedudukan kaisar saat itu. Ia bahkan tidak menyukai kaisar, ia menyukai orang lain. Itu yang membuat permaisuri lebih menyukai Selir Wu daripada selir yang lain.

'Fang Yin lihatlah putrimu, ia tumbuh dengan baik, ia bahkan sangat kuat sekarang. Aku tidak akan khawatir lagi dengan keadaannya, karena ia bisa menjaga dirinya sendiri sekarang,' batin Selir Wu.

Setelah bermanja-manja dengan Selir Wu, Lian Wei pamit untuk kembali ke paviliunnya. Jianying mengantarkan adiknya kembali ke paviliunnya. Di perjalanan ia mendengar para pelayan bergosip tentangnya. Bahkan mereka berani bergosip saat ia bersama Jianying. Lian Wei menghentikan langkahnya, pelayan itu juga menghentikan gosipnya.

"Mingmei apa hukuman untuk orang yang menggosipkan seorang putri?" ia bertanya dengan suara yang lantang. Pelayan itu segera bergetar ketakutan.

"Menjawab putri, hukuman paling ringan adalah dua puluh cambukan."

"Cambuk mereka sesuai aturan yang berlaku."

Melihat bahwa Mingmei akan membantah perkataannya, ia kembali berucap sebelum Mingmei.

"Tidak ada pengulangan," ucapnya tegas.

"Lakukan tugasmu Mingmei. Di masa depan perkataan Lian'er adalah perkataan ku. Ayo kita kembali lebih dulu adik."

Mau tak mau Mingmei harus melakukan hal itu, kebetulan Mingmei punya dendam dengan pelayan ini, dulu mereka sering menggosip dan merendahkan putrinya. Sekarang adalah saatnya untuk membalasnya.

Setelah mengantarkan Lian Wei ke paviliunnya, Jianying segera pergi dengan Peng Yuwen, pengawal pribadinya.

"Istirahatlah adik, kau sangat hebat hari ini. Pasti melelahkan untuk mu. Kakak akan tambahkan pengawal untuk berjaga di paviliun mu. Lusa barang yang kau minta akan datang, kakak pergi dulu."

"Sampai nanti kak, terima kasih banyak. Aku menyayangimu," ucapnya sambil memeluk pinggang Jianying.

"Aku lebih menyayangi mu adik," ucapnya dengan membalas pelukannya adiknya.

Setelah kepergian Jianying, Mingmei tiba ia memberitahu bahwa ia sudah melakukan perintahnya. Setelah melaporkan hal itu pada Lian Wei ia segera memberikan barang yang dimintanya, sedangkan belanjaan untuk makanan mereka sudah disimpan.

Melihat bahwa Mingmei membeli makanan dan barang yang dimintanya, ia pun mengajak Mingmei untuk makan bersama. Setelah makan Lian Wei menyuruh Mingmei untuk menyiapkan bak mandinya dan juga menyuruhnya membawa beberapa wadah.

Selama menunggu ia membuat ramuan dengan bahan yang dibeli Mingmei tadi. Mingmei kembali dengan wadah ditangannya. Setelah menyerahkannya pada Lian Wei ia kembali lagi untuk menyiapkan air mandinya.

Setelah semuanya siap ia menyuruh Mingmei menuang ramuan yang dibuatnya kedalam bak mandinya.

"Putri hamba sudah melakukan yang kau minta. Tapi putri untuk apa semua ini?"

"Mingmei kau pergilah beristirahat aku akan mengeluarkan racun dalam tubuh ini."

"Racun?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   373

    Di tempat lain, Hong Li Hao masih berdiri di depan peta.Ia tidak tahu bahwa sebagian kecil dari rahasia yang selama ini ia lindungi telah berpindah tangan.Ia juga tidak tahu bahwa orang-orang yang ia kira sebagai bagian dari pasukannya kini telah menjadi mata dan telinga Lian Wei.Hong Li Hao menghela nafas lega.“Sepertinya mereka hanya ingin menguji pertahanan kita.”Seorang bawahannya mengangguk.“Benar, tuan. Setelah serangan semalam, mereka bahkan tidak kembali menyerang.”Orang itu adalah Qiu yang menyamar.Hong Li Hao tersenyum.“Kalau begitu, jangan terlalu khawatir,” ucapnya lalu menutup peta.“Biarkan mereka berpikir bahwa kita tidak menyadari rencana mereka.”Tanpa ia sadari, justru dialah yang sedang terjebak dalam permainan Lian Wei.Di luar tenda, seorang prajurit yang sebenarnya adalah orang Lian Wei menundukkan kepala ketika Hong Li Hao melewatinya.Tidak ada yang mencurigakan, tidak ada yang berbeda. Semuanya tampak seperti pagi biasa dan itulah yang diinginkan Lian

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   372

    “Pada orang yang membuatmu terluka.”Lian Wei terdiam.Di kejauhan, suara pasukan kembali terdengar. Namun kali ini, senyum kecil muncul di wajahnya.Rencananya masih berjalan dan tanpa diketahui musuh, orang-orang Lian Wei sudah mulai mengambil alih bagian dalam kemah.Malam itu, pengepungan yang ia rancang bukan sekadar serangan. Itu adalah langkah pertama untuk menghancurkan rencana Hong Li Hao dari dalam.“Ayo kembali dulu.”Wang Xuemin mengajak Lian Wei pergi dari sana. Ia menggendong Lian Wei dan melompat ke atas tembok.Kemudian Wang Xuemin bersiul, tak lama seekor kuda jantan datang menghampirinya.Wang Xuemin turun lebih dulu, lalu ia mengulurkan tangannya pada Lian Wei yang masih di atas tembok.“Melompatlah, aku akan menangkapmu.”Wang Xuemin masih menjulurkan tangannya di udara, tak lama Lian Wei melompat. Dengan sigap Wang Xuemin langsung menangkapnya. Bunga sakura putih berguguran mengikuti arah lompatan Lian Wei.Lian Wei berada dalam pelukan Wang Xuemin, ia juga membaw

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   371

    Malam semakin larut.Di luar perkemahan, angin berhembus melewati hamparan padang yang gelap. Api obor dari kemah musuh terlihat samar dari kejauhan.Lian Wei berdiri di balik sebuah bukit kecil bersama Yelu, Mingmei, dan beberapa orang kepercayaannya.Tatapannya tertuju pada kemah musuh.“Pasukan utama mereka masih berada di bagian tengah,” ucap Lian Wei pelan. “Mereka tidak menyadari bahwa sebagian pasukan kita sudah mengepung sisi timur dan barat.”Yelu mengangguk.“Kalau begitu, kapan kita menyerang, Tuan?”“Sekarang.”Lian Wei mengangkat tangannya.Sesaat kemudian—Whoosh!Anak panah melesat ke udara.“Serang!”Teriakan para prajurit mengguncang malam.Pasukan yang telah bersembunyi di sekitar kemah musuh langsung bergerak. Dari sisi timur, barisan prajurit menyerbu masuk. Dari sisi barat, pasukan lainnya memutus jalur pelarian.Musuh yang sedang beristirahat langsung kacau.“Ada serangan!”“Musuh mengepung kita!”“Lindungi kemah komandan!”Lian Wei menarik pedangnya dan maju pal

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   370

    “Aku tiba-tiba ingin melihat halaman belakang.”Hong Tiong Wai tertawa kecil.“Baiklah. Kalau itu keinginanmu.”Mereka berjalan mengikuti arah Hong Li Hao. Namun, Lian Wei tidak berjalan terlalu dekat.Ia menjaga jarak, sesekali berhenti untuk melihat bunga atau memperhatikan bangunan di sekelilingnya.Hong Tiong Wai tidak menyadari bahwa setiap langkah adiknya telah diperhitungkan.Hong Li Hao berhenti di depan sebuah bangunan kecil. Dua pengawal membuka pintu lalu ia masuk.Lian Wei yang berada cukup jauh segera berhenti di balik pilar.“Adik?” tanya Hong Tiong Wai sambil menatapnya.“Diam sebentar,” Lian Wei mengangkat satu jari di depan bibir.Hong Tiong Wai mengerutkan kening. Namun, ia mengikuti permintaan adiknya. Lian Wei mendekat perlahan, dari balik dinding, terdengar suara Hong Li Hao.“Semua pasukan harus tetap berada di tempat masing-masing.”Lian Wei berhenti.‘Pasukan?’Ia memberi isyarat kepada Hong Tiong Wai agar tetap diam.“Bagaimana jika pasukan dari Shang dan Xu m

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   369

    “Adik, kau jangan terlalu memikirkan hal itu. Xinxin besar di Kekaisaran Xu, ibunya meninggal saat ia masih kecil. Ia berasal dari Kekaisaran Shu hanya peracik obat kecil.”“Benarkah?”“Ya, sangat berbeda dengan identitas Tuan Xinxin yang muncul secara misterius.”“Berarti aku salah paham pada ponakanku,” ucap Hong Li Hao merasa bersalah.“Sudahlah, kita bahas yang lain dulu saja.”“Ya.”Lalu mereka melanjutkan pembicaraan mereka untuk peperangan yang akan datang.Cukup lama mereka berbincang, hingga akhirnya pembicaraan itu selesai. Hong Li Hao keluar lebih dulu, saat berada di pintu masuk seorang pengawal masuk dan membungkuk.“Yang Mulia.”“Ada apa?” Hong Li Hao menoleh.“Orang yang, Yang Mulia tunggu telah tiba.”“Bawa aku ke sana,” ucap Hong Li Hao lalu mengangguk.Malam mulai turun di Kekaisaran Song. Di balik sebuah bangunan tua yang tampak seperti gudang kosong, terdapat ruangan bawah tanah yang dijaga ketat.Hong Li Hao masuk melalui pintu samping.Di dalam, beberapa pria ber

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   368

    “Dan apakah seseorang itu bernama Xinxin? Apa kau dan dia adalah orang yang sama?”Deg!Jantung Lian Wei mendadak berhenti sejenak, ia takut ketahuan. Mingmei yang berdiri di belakang Lian Wei langsung menegang.Hong Li Hao memperhatikan perubahan kecil itu. Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, Lian Wei menundukkan kepala.“Paman…” suaranya mendadak melemah.Hong Li Hao terdiam.Lian Wei mengangkat wajahnya. Tatapannya terlihat bingung, bahkan sedikit terluka.“Kenapa Paman terus menanyakan tentang Tuan Xinxin kepadaku? Aku tidak mengenalnya dan tidak pernah bertemu dengannya.”“Aku hanya—” Hong Li Hao mengerutkan kening, ia tidak melanjutkan ucapannya.“Apakah karena aku membuat teh yang aromanya mirip dengannya?”Lian Wei menggenggam ujung lengan bajunya.“Kalau begitu, maafkan aku.”“Maaf?”“Aku tidak tahu racikan teh sederhana milikku akan membuat Paman Kedua mengingat seseorang yang begitu penting,” ucapnya dengan suara yang semakin pelan.Mingmei menundukkan kepala, seolah-

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   3

    Satu kata sudah dapat memprediksi secara keseluruhan. Tubuh ini lemah dan jelek, tentu saja itu karena racun. Ia harus mengeluarkan racun ini dalam tubuhnya. Ia mengambil cermin yang terbuat dari perunggu, ia terkejut betapa jeleknya dia saat ini."Ini pasti ulah para rubah itu, aku yakin jika tubuh

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   4

    Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat keperg

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   2

    "Kau!"'Apa sampah ini mengingatnya?' batin Lien Hua itu takut.'Ah tidak, mereka tahunya aku hilang ingatan. Baiklah mari kita biarkan dia bersenang-senang dahulu,' batin Xinxin. Ia merasakan seseorang memeluknya dari samping.'Orang ini Li Jianying, orang yang selalu ada bagi pemilik tubuh ini dan

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   1

    Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status