MasukSatu kata sudah dapat memprediksi secara keseluruhan. Tubuh ini lemah dan jelek, tentu saja itu karena racun. Ia harus mengeluarkan racun ini dalam tubuhnya. Ia mengambil cermin yang terbuat dari perunggu, ia terkejut betapa jeleknya dia saat ini.
"Ini pasti ulah para rubah itu, aku yakin jika tubuh ini tidak terlihat seperti ini. Awas saja kalian semua," pandangan matanya semakin menajam.
Lian Wei keluar dari bak mandi segera ia mengenakan pakaiannya, hanfu putih yang sederhana dengan bordiran di kainnya. Menambah kesan elegan padanya. Tidak bukan bordiran emas, bordiran biasa, fasilitas yang didapat Lian Wei tidak sama dengan putri para selir. Ya tentu saja mereka menyabotase semua itu.
Lian Wei keluar dari dalam sana, Mingmei yang sudah menunggu segera berdiri. Seketika ia ketakutan melihat mata tajam itu. Ia masih belum terbiasa dengan sikap baru Lian Wei setelah bangun, ia merasa Lian Wei seperti orang yang berbeda. Mingmei membantu Lian Wei menyisir rambutnya.
'Ada apa dengan putri? Kenapa setelah mandi tatapan matanya terlihat sangat tajam?' batinnya.
"Mingmei belikan beberapa barang untukku."
"Iya putri," ucapnya sambil terus menyisir rambutnya.
Mingmei tidak menata rambutnya karena hari sudah malam, Lian Wei akan bersiap untuk tidur. Keesokan paginya Mingmei membangunkan Lian Wei yang masih tidur.
Keesokan paginya Mingmei mencoba membangunkan Lian Wei.
"Putri ayo bangun," ucap Mingmei dengan mengguncang tubuh Lian Wei pelan.
"Hamba sudah siapkan air hangat untuk mandi."
"Aku akan bangun sebentar lagi Mingmei."
"Tidak putri, bukankah anda meminta Hamba untuk membelikan barang?"
Seketika Lian Wei membuka matanya, ia langsung terduduk di tempat tidurnya.
"Kau benar, ambilkan aku kertas, tinta dan kuas," ucap Lian Wei memberi perintah, Mingmei pergi mengambil barang yang diminta Lian Wei.
Tak lama Mingmei kembali dengan barang itu, segera Lian Wei menulis barang yang akan dibelikan Mingmei. Setelah selesai Lian Wei memberikan kertas itu pada Mingmei.
"Mingmei pergi ke pasar beli bahan makanan untuk kita, lalu kau beli juga barang yang sudah ku tulis disini."
"Baik putri, hamba akan belikan setelah memastikan putri telah siap dan makan."
"Hmm baiklah aku mandi dulu."
Lian Wei beranjak dari ranjangnya menuju bak mandi. Setelah sepuluh menit ia keluar dari bak dan memakai hanfu berwarna hijau muda. Setelah selesai berpakaian ia keluar dan Mingmei langsung menata rambutnya.
Mingmei mengeluarkan tiga tusuk rambut dengan berbagai model.
"Mingmei apa ini semua akan ku pakai?"
"Iya putri."
"Mingmei hiasannya jangan terlalu banyak, buat yang sederhana saja. Terlalu berat jika memakai semua ini, oh dandannya jangan terlalu menor."
"Men? Me—"
"Ah... jangan terlalu tebal."
"Baik putri."
Jadilah Mingmei menata rambut Lian Wei sederhana, hanya diikat setengah dan setengah yang lain dibiarkan terurai. Mingmei menambahkan jepit rambut peony diikat rambutnya. Ia juga merias Lian Wei dengan make up tipis.
"Wah putri anda benar-benar cantik."
"Iya tentu saja aku cantik, jika tanpa ada bintik merah ini diwajah ku."
Penampilannya sangat elegan dan berbudi luhur, wajahnya dirias dengan natural, menampilkan kesan segar dengan hanfu hijau muda.
"Maafkan hamba putri, hamba tidak bermaksud untuk..."
"Sudahlah aku tahu maksudmu, sekarang ayo kita sarapan lalu kau bisa pergi."
"Iya putri hamba akan potongkan buahnya," ucapnya lalu segera memotong buah yang kemarin diberikan Jianying. Lalu menyerahkan piring berisi buah-buahan yang telah dipotong.
Setelah sarapan Mingmei bergegas keluar dari Paviliun Sakura. Selagi menunggu Mingmei yang pergi ke pasar, ia pergi keluar halaman. Ia melihat halaman yang tidak terlalu luas. Tanaman di halaman ini tidak begitu rapi dan tidak menarik mata, halaman ini tidak pernah diurus. Rumput liar tumbuh tinggi di dekat pagar. Banyak tanaman yang sudah layu, ia juga berbalik menatap paviliun yang tinggalinya.
"Uh mengerikan, paviliun ini mana bisa dikatakan layak huni."
"Bahkan kandang sapi saja lebih layak."
Paviliun ini terlihat sangat tua, meskipun masih kokoh namun cat nya sudah luntur, perabotannya tua dan tidak tertata rapi.
"Bagaimana mungkin pemilik tubuh sebelumnya betah tinggal disini. Aku yang melihatnya saja sudah muak!"
Tap Tap Tap...
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah paviliun miliknya. Meskipun suaranya masih jauh, namun indra kepekaan miliknya berfungsi dengan baik. Mungkin sudah terbiasa dengan kehidupan militer di masa lalu.
"Hanya ada satu orang, kira-kira siapa orang ini? Apa itu Lien Hua? Atau mungkin Mayleen? Jika itu benar salah satu dari mereka pasti akan ada pertunjukan bagus," ucapnya pelan dengan smirk di wajahnya.
"Lian'er apa yang kau lakukan disini?" tanya seseorang pada Lian Wei. Lian Wei memutar tubuhnya menghadap ke arah suara yang berbicara dengannya.
"Kakak?"
"Apa yang kau lakukan disini adik?" tanya Jianying yang menghampiri Lian Wei.
"Tidak hanya saja, aku tidak ingat jika memiliki halaman yang berantakan seperti ini. Jadi aku ingin memperbaiki halaman ku."
"Kalau begitu katakan padaku apa yang diperlukan, aku akan mengabulkan keinginanmu."
"Ah tidak kak, aku ingin memperbaiki halaman ku dengan usahaku sendiri."
"Oh ayolah jangan menolak ku, bagaimana jika aku memperbarui paviliun mu?"
"Ada satu hal yang bisa kau bantu kak."
"Apa? Katakan padaku."
"Sebenarnya perabotan disini sudah usang dan tidak layak pakai, jadi—" ucapannya terpotong.
"Ya baiklah aku mengerti, aku akan memberikan perabotan yang baru," ucap Jianying mengerti maksud adiknya.
"Terima kasih kak," ucapnya lalu memeluk Jianying dan dibalas olehnya.
Disisi lain.
Prangg...
"Bagaimana bisa sampah itu bangun?!"
Lien Hua membanting semua barang di kamarnya, pelayan hanya bisa berdiam berdiri sambil menunduk. Tidak ada satupun dari mereka yang berani mendekati Lien Hua.
"Apa kau lihat tatapan matanya itu?"
"Oh apakah sampah itu tahu sesuatu?"
"Ini tidak bisa dibiarkan aku harus memberi pelajaran pada sampah itu."
Lien Hua terus bermonolog sendiri.
"Kau bereskan tempat ini! Ayo Jia Li."
"Baik putri," jawab Jia Li pelayan setia Lien Hua.
Sementara ditempat lain.
"Adik aku harus pergi sekarang, terima kasih untuk tehnya. Oh nanti aku akan kirim perabotan baru."
"Terima kasih kembali kak. Kau akan kemana?"
"Melihat pasukan ku."
"Pasukan? Oh apa aku boleh ikut?" ucapnya dengan menampilkan puppy eyes.
Mendengar kata pasukan membuat jiwa komandan dalam diri Lian Wei meronta. Pasukan sudah mendarah daging baginya.
'Baiklah mari kita lihat pasukan di jaman ini.'
"Baiklah ayo."
Lian Wei dan Jianying beranjak menuju tempat latihan para prajurit. Di perjalanan mereka saling bercengkrama. Tepat didepan mereka putra mahkota lewat. Ia memperhatikan interaksi mereka yang terlihat harmonis juga hangat. Saat mereka sampai di hadapan putra mahkota mereka berhenti dan memberi hormat.
"Salam untuk Putra Mahkota," ucap Jianying, sedangkan Lian Wei hanya acuh.
Melihat Lian Wei tidak memberi salam padanya membuat Xiuhuan marah.
"Apa kau tidak punya sopan santun Putri Pertama?"
Tatapan mata yang hangat berganti dengan tatapan mata dingin saat menatap Xiuhuan.
"Kau bukan Tuhan yang patut dihormati. Ayo kak kita pergi."
Lian Wei menarik lengan Jianying untuk segera pergi dari sana. Ia malas untuk berhadapan dengan sang putra mahkota yang sialnya dia adalah kakak kandungnya sendiri.
“Jadi pergilah ke sana, untuk membantu mewujudkan mimpinya.” Itu seperti perintah mutlak dari Xuanzong pada Zei Xen. Kaisar Xu berdiri, jubah emasnya bergoyang tertiup angin malam. “Jadilah bagian dari Tentara Xinxin. Mulai hari ini, kalian bukan lagi bayangan masa lalu. Kalian adalah pedang bagi Lian Wei.” Zei Xen menundukkan kepala dalam-dalam. Mata pria itu telah dipenuhi air mata. Tidak tahu harus bersikap seperti apa, ia senang bisa bergabung dengan Tentara Xinxin yang hebat. Namun juga merasa sedih karena belum sempat melayani Lian Wei. “Bawahan menerima perintah. Meski harus mengorbankan nyawa, kami akan berusaha untuk mewujudkan mimpi sang putri.” Kaisar Xu memandang hujan yang semakin deras. Dalam hati, ia teringat wajah Liu Fang Yin. ‘Fang Yin… entah mengapa aku merasa Lian’er masih hidup. Dan aku telah menemukan orang-orang yang akan menjaganya. Mulai sekarang, ia tidak akan berjalan sendirian lagi.’ Di bawah hujan malam itu, sebuah kesetiaan yang telah tertidur sel
“Yang benar saja, tadi katanya seperti mau perang. Tapi ayah malah menambah pasukan?” gerutu Xu Kai.Pletak... “Dia ayah mu bodoh,” ucap Jianying sarkas dengan menjitak kepala Xu Kai, sedang yang di jitak hanya mampu mendengus kesal. Melihat keduanya tidak akur dan malah berdebat dengan hal tidak penting segera Xiuhuan mengalihkan topik. “Terimakasih atas kemurahan hati anda Yang Mulia Kaisar Xu, tapi maaf kami tidak bisa menerima bantuan lebih banyak dari anda, kami sudah banyak merepotkan Yang Mulia,” ucap Xiuhuan sopan. “Ah… aku jadi sedih, padahal Putri Wang sudah ku anggap sebagai putriku sendiri,” ucap Kaisar Xu sedih, yang membuat para pangeran saling pandang. “Bagaimana jika kami terima dua puluh orang saja, Yang Mulia?” ucap Jianying. “Benarkah? Baiklah aku akan memberi tiga puluh orang,” ucapnya semangat dengan wajah ceria. “Yang benar saja?!” ucap keempatnya bersamaan yang terkejut karena diluar prediksi. Sementara Kaisar Xu hanya tersenyum cerah.Namun tidak ada yan
“Di antara semua orang di sini. Orang yang paling mengetahui alasannya adalah Ayah sendiri.”Wajah Tao Suho langsung membeku.Tao Lan yang berdiri di sampingnya perlahan menundukkan kepala. Tidak ada yang berani berbicara. Karena semua orang tahu apa yang dimaksud Tao Mo.Terkadang, luka terbesar bukan berasal dari musuh. Melainkan dari keluarga yang seharusnya melindungi mereka.Setelah mengatakan itu, Tao Mo berbalik dan berjalan pergi. Tao Lan menatap punggung kakaknya sejenak sebelum menyusul.Meninggalkan Tao Suho yang masih berdiri seorang diri di tengah halaman, menatap kepergian kedua putranya dengan perasaan yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.“Pengawal bawa kedua nona pergi,” ucap Tao Mo saat mencapai pintu. Segera mereka menjalankan tugasnya, pengawal itu juga diperintahkan untuk berjaga disana selama masa hukuman.Sementara itu di Kekaisaran Xu.Di luar perkiraan, hujan terus terjadi hingga menjelang pagi yang harus membuat mereka menginap lebih lama. Mereka t
Suasana halaman Keluarga Tao masih dipenuhi ketegangan setelah perkataan Tao Lan. Tidak ada seorangpun yang berani berbicara.Tao Suho berdiri mematung.Sementara dua putri selirnya mulai merasa gelisah karena suasana yang semakin tidak menguntungkan bagi mereka.Tepat saat itu, seorang pelayan berlari tergesa-gesa masuk.“Tuan Besar! Tuan Muda Sulung telah kembali!”Semua orang membeku kecuali Tao Lan. Ia langsung berbalik arah saat mendengar pelayan mengatakan kakaknya sudah kembali.Suara langkah kaki terdengar dari gerbang halaman.Tap… Tap…Semua orang menoleh ke arah gerbang. Seorang pria berpakaian sederhana berjalan masuk dengan tenang. Namun kehadirannya langsung membuat seluruh halaman sunyi.“Tuan Muda Mo…” ucap para pelayan langsung menundukkan kepala.Mata Tao Lan sedikit membesar.“Kakak Pertama?!” pekik Tao Lan yang langsung berlari memeluk kakaknya. Pelukannya di balas oleh Tao Mo, ia menepuk punggung tegap adiknya.“Kakak Pertama sudah kembali,” bisik Tao Yang.Sudah
“Kau manis sekali Hongli. Oh ya tadi bagaimana kau tahu aku Putri Li?” Hongli tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. “Humm… kakak ipar tinggal di kediaman kakak, sudah pasti kau adalah Putri Li,” ucapnya lucu dengan memakan buah di tangannya. “Aku yang beritahu ayah tentang rencanamu,” sahut Wang Xuemin kemudian. “Kapan kau memberitahunya?” “Saat dalam perjalan kemari, aku sudah beritahu ayah.” “Oh tidak heran, tapi sekarang Putri Bangsawan Tao itu jadi tahu identitas asliku.” “Saya akan mengurusnya nona,” ucap suara berat di belakang mereka. Lian Wei segera mencari sumber suara, sementara Wang Xuemin memutar tubuhnya ke belakang. “Tao Mo?” tanya Lian Wei heran. Tak lama Tao Mo berlutut dengan kepala menunduk. “Hei… kenapa kau berlutut?” “Mohon maafkan adik hamba putri, tolong jangan hukum dia. Biarkan hamba yang menghukumnya,” ucap Tao Mo menjadi formal. Selama ini Tao Mo tidak pernah memanggilnya putri dan bersikap begitu formal. Lian Wei menatap Wang Xuemin dengan k
Keesokan paginya, saat Lian Wei sedang asik sendiri ia mendengar suara keributan. Ia pun bergegas menghampiri suara tersebut. “Hei! Biarkan aku menemui Putra Mahkota! Apa kau tidak siapa aku?” Ucap gadis itu sombong.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah putri bangsawan Tao bernama Tao Yang.“Apa ini ada orang gila yang sangat mirip dengan si rubah Lien Hua" bisiknya sebelum mendekati mereka.“Ada apa ini?” ucap Lian Wei menghampiri. “Putri?!” ucap prajurit terkejut. Lian Wei melambaikan tangan menyuruh mereka untuk segera berdiri dan mengatakan yang apa yang baru saja terjadi.“Katakan.”“Putri dari bangsawan Tao memaksa untuk masuk dan menemui Putra Mahkota.”“Hei siapa kau?! Kenapa ada di istana Putra Mahkota?!” tanya Tao Yang.“Aku yang seharusnya bertanya padamu, apa yang kau lakukan di kediaman calon suamiku?”“A-apa? Calon suami?”“Kakak… apa mungkin dia putri sampah dari Kekaisaran Shang itu?” tanya gadis kecil bernama Tao Mei, yang ternyata adalah adik Tao Yang. “Benarkah
“Maksudmu?” “Tidak sesederhana itu, kurasa ada hubungannya dengan masa lalu mereka?” Wang Xuemin masih setia mendengarkan. “Aku baru tahu Kekaisaran Xu yang netral ini pernah hampir membuat peperangan dengan Kekaisaran Shang. Lalu Kekaisaran Song begitu sangat bermusuhan dengan Kekaisaran Shang.
“Apa kau tahu tentang Kekaisaran Song?” Wang Xuemin hanya diam tidak berkutik, ia memandangi Lian Wei yang juga menatapnya dengan penuh tanya dan harap. “Tentu.” “Bisa kau ceritakan padaku?” “Tentu tapi tidak disini.” “Ah kalau begitu ayo kita kembali saja, agar kau bisa memberitahuku,” seaka
“Memangnya aku ini siapa bagimu, Lian Wei?” Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang jarang ditunjukkan Wang Xuemin kepada orang lain. Bukan kemarahan. Bukan kekecewaan. Melainkan kekhawatiran. Wang Xuemin menghela napas panjang sebelum melanju
“Kita harus menghibur ayah Maylen.”“Apa? Hanya menghibur ayah saja?”“Hei, kau meremehkan aku ya?” ucap Lien Hua dengan smirk. “Kau yang terbaik Kakak Kedua,” ucap Mayleen mengerti.Setelahnya mereka pergi untuk menghibur Kaisar Li. “Ayah tidak perlu khawatir, aku percaya Kakak Pertama akan pula







