INICIAR SESIÓNAlize masih menatap surat di tangannya. Nama Countess Rouchet tercetak jelas di bagian bawah. Ia tidak mengenal wanita itu secara pribadi. Namun nama keluarganya tidak asing. Rouchet. Ia memang pernah mendengar bahwa keluarga itu memiliki hubungan pernikahan dengan keluarga Sir Reagan. Alize kembali membaca kalimat terakhir. “Saya memiliki beberapa informasi mengenai Sir Reagan.” Jarinya berhenti di atas kertas. Informasi tentang pemimpin pemberontak tidak mungkin dianggap sepele. Terlebih lagi, orang yang mengirim surat itu adalah seseorang yang berada cukup dekat dengan Sir Reagan. Hal itulah yang memungkinkan dirinya memiliki informasi. Alize melipat surat tersebut perlahan. “Aku harus pergi,” ujarnya. “Aku tak bisa menunggu sampai jamuan teh minggu depan. Greta yang sedang menuangkan teh untuknya langsung menoleh. “Pergi ke mana, Yang Mulia?” “Rumah Countess Rouchet.” Greta tampak terkejut. “Yang Mulia. Anda tidak bermaksud pergi diam-diam, kan?”
Corentine menatap Alize beberapa saat. Kemudian ia mengembuskan napas pelan. “Baru saja kau kembali ke kastil.” Alize mengangkat alis. “Aku tahu.” “Aku belum ingin kau pergi lagi.” Nada suaranya tetap tenang. Namun Alize bisa menangkap kesungguhan di balik kalimat sederhana tersebut. Ia tersenyum. “Bukankah tadi kau yang mengatakan pekerjaanmu sangat banyak?” “Pekerjaanku memang banyak.” Corentine memasukkan satu tangan ke saku celananya. “Tetapi itu bukan berarti aku harus membiarkan istriku pergi menyusuri arsip-arsip tua selama berhari-hari lagi.” Alize terkekeh. “Aku tidak akan menyusuri arsip. Aku hanya ingin melihat rumah ayahku.” “Belum.” “Kenapa?” “Karena kau baru kembali.” Alize menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil. “Baiklah, Yang Mulia Duke. Aku akan tinggal.” Corentine mengangguk puas. “Baguslah kalau begitu.” Namun sebelum ia benar-benar pergi, pria itu menambahkan, “Lagipula, surat-suratmu sudah menumpuk di rua
Dengan santai dan tampak puas, Corentine menjawab, “Dari berbagai tempat.” Alize menoleh. Corentine berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Berbagai tempat?” tanyanya. “Tapi kukira kau sibuk dengan pekerjaan rutinmu lagi setelah berhasil mengusir para pemberontak itu dari wilayah ini.” Senyum tipis muncul di bibir suaminya. “Aku tidak perlu turun langsung Alize,” ujarnya. “Ada pedagang. Utusan kerajaan. Kapal dagang.” Itu adalah jawaban khas Corentine yang singkat, padat dan agak menyebalkan karena tanpa penjelasan, tetapi anehnya selalu membuatnya rindu. Alize kembali menatap tanaman-tanaman di sekelilingnya. Dadanya terasa hangat. Ia teringat rumah kaca pertamanya. Tempat yang dulu langsung dibangun Corentine untuknya setelah pernikahan mereka. Tempat yang perlahan menjadi salah satu bagian favoritnya di kastil. Tetapi pria itu ternyata membuat yang kedua. Juga khusus untuknya. “Kapan kau menyiapkannya?” tanyanya. “Aku tidak melihat tanda-tandanya
Alize menatap wanita di hadapannya selama beberapa detik. Setelah semua yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, ia sama sekali tidak menyangka Gwen akan muncul di Kastil de Mably seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun Alize segera menyingkirkan pikirannya. Ia memberikan senyum sopan. “Tentu, Lady Gwen. Mari kita bicara di ruang kerja saya.” Gwen mengangguk. “Terima kasih, Yang Mulia.” Alize berbalik dan mulai berjalan. Greta segera mengikuti dari belakang, sementara pelayan yang mengantar Gwen menjaga jarak beberapa langkah. Begitu mereka tiba di ruang kerja, Alize mempersilakan Gwen duduk. “Greta, tolong bawakan teh untuk kami.” Greta yang selalu berdiri siaga bergerak. “Baik, Yang Mulia.” Si pelayan membungkuk lalu meninggalkan ruangan. Alize mengambil tempat di seberang Gwen. “Jadi, bagaimana kabarmu, Lady Gwen?” “Baik, Yang Mulia.” Jawaban itu terdengar terlalu singkat. Alize mengangkat alis sedikit. Gwen justru tersenyum tipis. “Saya m
Fran menggeleng. “Tidak ada yang jelas, Yang Mulia.” Alize mengerutkan kening. “Tidak sama sekali?” “Tidak.” Fran memainkan ujung celemeknya. “Kadang-kadang saya melihat sesuatu. Tempat, orang, atau benda. Tetapi semuanya seperti potongan mimpi. Saya tidak tahu mana yang benar-benar pernah terjadi dan mana yang hanya ada di kepala saya.” Alize terdiam sejenak. Ia ingin mengatakan bahwa tidak apa-apa. Bahwa ia tidak perlu terburu-buru. Namun jauh di dalam hati, Alize sangat berharap Fran segera mengingat semuanya. Bukan hanya karena ia ingin memastikan identitas wanita itu. Tetapi karena semakin lama Fran berada di sisinya, semakin sulit bagi Alize menganggapnya sebagai orang asing. “Ada satu hal yang ingin kutanyakan.” Fran mengangkat wajah. “Silakan, Yang Mulia.” “Apakah kau pernah melihat keluargamu dalam ingatanmu?” Fran mengerutkan kening. “Tidak.” Alize masih mencoba. Nadanya hati-hati, karena ia tidak ingin terkesan mendesak. “Bahkan wajah ses
Alize menghela napas pelan. Ucapan Greta memang lancang. Bahkan terlalu lancang untuk seorang pelayan kepada majikannya. Namun Alize tahu perempuan itu tidak bermaksud mencampuri urusan rumah tangganya. Greta hanya mengatakan apa yang selama ini mungkin juga dipikirkan banyak orang di kastil. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin. Dua hari. Hanya dua hari yang ia minta kepada Corentine. Dan ia bahkan belum tahu apa yang akan dilakukannya dengan waktu sebanyak itu. “Sudahlah,” ujar Alize akhirnya. “Bantu aku bersiap, Greta.” Pelayannya segera mengangguk. “Baik, Yang Mulia.” Alize memilih gaun pagi yang sederhana. Rambutnya disanggul rapi, lalu ia meminta sarapan diantarkan ke kamar. Tidak lama kemudian, beberapa pelayan membawa nampan berisi roti hangat, buah, telur, dan teh. Setelah pintu kembali tertutup, Alize duduk seorang diri di meja kecil dekat jendela. Ia mengambil garpu. Namun pikirannya masih tertinggal di tempat tidur semalam. Pada percakapannya de
Keheningan menyelimuti ruang kerja. Alize merasa seolah udara di dalam ruangan mendadak menjadi lebih berat. “Senjata api?” ulang Corentine perlahan. Kedua pengawal itu mengangguk. “Ya, Yang Mulia.” Wajah Tyron juga tampak tertegun. Ia menoleh pada anak buahnya. Corentine berdiri tegak di
“Aku ingin mengundurkan diri sebagai pendampingmu, Duchess,” ujar Lady Gwen pelan. Untuk beberapa detik, Alize hanya menatap Lady Gwen. Ia mengira dirinya salah dengar. “Apa?” Alize mengerutkan kening. “Kau bercanda terlalu pagi, Lady Gwen.” Lady Gwen tersenyum kecil. “Saya tahu ini mendada
Lord Hasting tampak berpikir cukup lama setelah mendengar pertanyaan Alize. “Victor Hale...” ulangnya perlahan. Raut wajahnya terlihat hati-hati. Kemudian ia menggeleng. “Maaf, Yang Mulia. Nama itu tidak terdengar familiar.” Alize menyembunyikan kekecewaannya dengan baik. Ia memang tidak
Alize tidak langsung menjawab ucapan Lady Julia. Karena menolak terlalu cepat justru akan terlihat aneh. Dan sekarang— Ia mulai belajar bahwa di kastil de Mably, terlalu banyak penolakan bisa memancing pertanyaan. “Aku rasa…” Alize meletakkan sendoknya perlahan, “…itu bukan ide buruk.”







