เข้าสู่ระบบIa seharusnya sudah menduga ayahnya akan menanyakan hal itu. Penangkapan Cedric Courcy tentu bukan perkara kecil, terlebih mengingat kedekatan keluarga Courcy dengan keluarga Deschanel selama bertahun-tahun. Alize memang sengaja tidak langsung menceritakannya sejak tiba di rumah. Bukan karena ia ingin menutupi sesuatu dari ayahnya, melainkan karena ia belum menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan kabar tersebut. Bagi Lord Deschanel, Cedric bukan sekadar seorang bangsawan yang berhubungan dengan keluarga mereka. Pria itu telah lama menjadi bagian dari keluarga mereka saat masih kecil. Kedekatan itu bahkan membuat Lord Deschanel memperlakukan Cedric hampir seperti anak sendiri. Memberitahunya bahwa orang yang selama ini disayanginya kini ditahan di ruang bawah tanah Kastil de Mably bukanlah perkara yang bisa dilakukan sambil lalu di tengah makan malam. Alize meletakkan gelasnya di atas meja kecil. “Benar, Ayah. Lord Courcy memang sudah ditangkap.” Raut wajah Lord Deschanel be
Alize mengangkat wajah dengan cepat. “Kalau kau terus berbicara, aku akan meminta Ayah mengirimmu ke ruang arsip besok pagi untuk membersihkan semua peti seorang diri.” Troy tertawa terbahak-bahak. “Baiklah, baiklah. Aku menyerah.” Alize menghela napas, lalu menoleh kepada ayahnya. Ia bermaksud membalas gurauan itu dengan sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian mereka. Namun, kata-kata yang keluar dari mulutnya justru membuatnya sendiri terdiam. “Mungkin Ayah harus mulai berhenti bertengkar dengan Lord George de Mably.” Lord Deschanel mengangkat alis. “Kenapa tiba-tiba membicarakan George?” Alize memaksakan senyum, berusaha meneruskan kalimatnya dengan nada ringan. “Karena kalau suatu hari nanti aku punya anak, aku tidak ingin anakku merasa malu setiap kali kedua kakeknya bertemu. Bayangkan kalau kalian terus bertengkar di hadapannya.” Troy langsung menyeringai. “Jadi, kau sudah mulai memikirkan masa depan anakmu?” Alize hendak membalas, tetapi kata-katanya t
Sepupunya menghampiri sambil membawa buku catatan dan dua lembar perkamen. “Ada apa?” “Lihat ini.” Alize menunjukkan sebuah dokumen yang tulisannya terdiri atas rangkaian simbol, garis pendek, dan huruf-huruf yang tampaknya diletakkan tanpa pola jelas. Di bagian bawah, terdapat lambang keluarga Deschanel yang sudah sedikit pudar. Troy membungkuk untuk mengamati tulisan tersebut. “Ini jelas bukan catatan biasa.” “Dan lambang keluarga kita ada di bawahnya.” Troy menarik sebuah kursi, lalu duduk di samping Alize. “Baiklah. Mari kita lihat apakah kemampuan membaca sandi keluarga kita masih berguna.” Alize tersenyum kecil. Mereka mulai membandingkan dokumen itu dengan beberapa catatan lama yang tersimpan di peti terdekat. Pada awalnya, pekerjaan tersebut berjalan lambat. Simbol yang sama kadang muncul dengan arti berbeda, sementara beberapa bagian teks tampaknya menggunakan singkatan yang tidak lagi mereka kenali. Troy mencoba menyusun simbol berdasarkan frekuensi kemunculannya,
Alize menunggu ayahnya menjelaskan lebih jauh, tetapi Lord Deschanel justru berjalan menuju perapian. Ia mengambil cangkir tehnya yang telah mendingin, menyesap sedikit, kemudian meletakkannya kembali tanpa minat. “Sebagian besar dokumen keluarga kita memang hanya mencatat urusan tanah, perjanjian dagang, dan korespondensi dengan keluarga bangsawan lain,” katanya. “Namun, ada sejumlah catatan lama yang ditulis menggunakan bahasa sandi. Beberapa bahkan tidak disertai keterangan mengenai siapa yang menulisnya atau kapan dokumen itu dibuat.” Troy mengerutkan kening. “Dan kita masih menyimpannya?” “Tentu saja. Mengapa harus membuang dokumen keluarga hanya karena kita tidak lagi memahami isinya?” “Karena mungkin isinya tidak penting?” Lord Deschanel menatap keponakannya dengan ekspresi datar. “Kalau begitu, kau tidak perlu bersusah payah membacanya.” Troy langsung mengangkat kedua tangan, menyerah sebelum perdebatan mereka berkembang lebih jauh. Alize menahan senyum. Hubun
“Tidak ada masalah yang mengharuskanku datang terburu-buru,” jawab Alize sambil tersenyum. “Aku hanya ingin mengunjungi Ayah.” Marquiz Deschanel mengangkat sebelah alis. “Begitu saja?” Alize menahan tawa kecil. “Ayah, apakah aku harus membawa alasan khusus untuk mengunjungi rumah keluargaku sendiri?” “Tidak. Tetapi mengingat betapa sulitnya membujukmu pulang beberapa waktu lalu, kedatangan mendadak ini tentu patut dicurigai.” Beberapa pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka saling melirik, berusaha menyembunyikan senyum. Alize mengembuskan napas pura-pura pasrah. “Ayah bahkan belum mempersilakanku masuk, tetapi sudah mulai menginterogasiku.” “Kalau begitu, aku akan menundanya sampai kita berada di dalam.” Sang marquiz mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi putrinya sekilas, sebuah gestur sederhana yang jarang ia tunjukkan di hadapan orang lain. Kemudian, ia mengangguk kepada Greta dan menyapa Lace serta para pengawal yang mengiringi Alize. “Selamat datang di Deschanel M
Alize mengangkat alis.“Karena kau terlalu sibuk memikirkan cara membuat Lord Courcy bicara?”“Bisa jadi.” Corentine mengakui itu dengan senyum tipis. “Aku terus berusaha mencari tahu apa yang dia sembunyikan, sampai lupa bertanya siapa yang mungkin berada di belakangnya.”Ia mengulurkan tangan, menggenggam jemari Alize yang terletak di atas sofa.“Kau sangat pintar.”Pujian itu disampaikan begitu lugas hingga Alize sempat terdiam. Kemudian, sudut bibirnya terangkat.“Jangan terlalu memujiku. Aku baru mengajukan sebuah dugaan.”“Dugaan yang layak kita selidiki.”Corentine mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. Tatapannya masih menyimpan kekaguman, tetapi kini ada keseriusan baru di baliknya.“Kalau arsip keluargamu menyimpan sesuatu tentang perselisihan lama atau transaksi yang mencurigakan, kita mungkin bisa menemukan petunjuk di sana.”“Itulah yang kupikirkan.” Alize membalas genggamannya. “Ayah menyimpan banyak dokumen keluarga. Tetapi yang terutama adalah niat kita semula. M
“Lady Gwen,” suara Corentine terdengar tenang dari ambang pintu, “tampaknya kau terlalu sering mengatur istriku.” Ruangan langsung hening sesaat. Lady Gwen tampak sedikit salah tingkah karena ketahuan sedang membuat Alize berjalan mondar-mandir dengan tiga buku di atas kepala. Namun seperti bia
“Aku hanya… kelelahan.” Suara Alize lirih, nyaris tenggelam di antara napasnya sendiri. Namun ia tahu itu tidak sepenuhnya benar. Dan ia juga tahu Corentine tidak akan langsung mempercayainya. Namun tetap saja, itu satu-satunya hal yang bisa ia ucapkan. Sejak ia diselamatkan di desa Vorn, tub
“Kurasa mereka tidak akan berani.” Suara Corentine tenang sekali. Seolah apa pun yang baru saja terjadi di luar sana hanyalah gangguan kecil yang tidak layak mengusik ketenangan malam. Alize masih duduk di tepi tempat tidur, menatapnya. Ia menganggap Corentine terlalu menyepelekan keadaan.
Perjalanan pulang dari istana berlangsung tenang. Kereta kuda bergerak menyusuri jalan utama ibukota yang mulai lengang, lampu-lampu jalan berpendar redup di antara bayangan bangunan batu. Suara roda yang berderak terasa lebih pelan dari biasanya—atau mungkin itu hanya perasaan Alize saja. An







