Home / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 17: Akan Pergi

Share

Bab 17: Akan Pergi

last update publish date: 2026-05-04 12:00:56

Gia terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di setiap persendian. Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden terasa seperti ejekan bagi kondisinya yang menyedihkan.

Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang penuh dengan tanda kemerahan, lalu menoleh ke arah meja rias. Marco sudah berdiri di sana, mengancingkan kemeja putihnya dengan gerakan yang sangat efisien dan dingin.

“Kau sudah bangun,” ucap Marco tanpa menoleh melalui cermin.

Gia berdeham untuk menjernihkan suaranya yang parau
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yes! Please, Daddy   Bab 124: Pengakuan sang Penguasa

    Gia menelan ludahnya seraya menatap wajah Marco yang sedang menuntut jawaban darinya. Jarak yang teramat kikis ini membuat Gia bisa merasakan embusan napas hangat Marco yang berbau maskulin alami, mengusik seluruh pertahanan taktis yang selama ini dia bangun.Tatapan abu-abu suaminya begitu tajam, menembus langsung ke ulu hatinya, menguliti setiap jengkal gengsi Valerius yang tersisa.Gia membuang muka dengan sentakan kecil pada lehernya dan bilang kalau Marco terlalu berlebihan. "Kau terlalu percaya diri, Rossi. Berada di bawah pengaruh obat bius sepertinya membuat otak taktismu bergeser menjadi penuh fantasi."Marco terkekeh pelan. Suara tawa rendah itu bergetar di dalam dadanya, menciptakan sensasi menggelitik yang aneh di permukaan kulit dada Gia yang bersentuhan langsung dengannya."Kebohongan yang buruk, Mia Luna," bisik Marco, sebelum akhirnya membiarkan Gia menahan beban tubuhnya saat pria itu mencoba menegakkan punggung dengan ringisan samar.Dengan susah payah dan sisa tenag

  • Yes! Please, Daddy   Bab 123: Bisa Membaca Taktik Kebohonganmu

    Setelah ketegangan yang menguras emosi bersama Rio dan kelakuan provokatif Marco tadi pagi, Gia memutuskan turun ke kafetaria sekadar untuk mendinginkan kepalanya yang nyaris meledak.Namun, kedamaian taktis itu langsung hancur berantakan dalam hitungan detik begitu jemarinya mendorong pintu kayu tebal kamar rawat VIP.Di seberang ruangan, siluet tubuh tegap Marco sedang berdiri tanpa penyangga di samping ranjang medisnya.Pria Rossi itu rupanya mencoba turun dari ranjang tanpa bantuan apa pun, hanya untuk mengambil dokumen taktis bermeterai hitam yang tergeletak di atas meja kaca seberang ruangan demi membuktikan pada dirinya sendiri dan pada dunia bawah bahwa dia sudah kembali kuat.PRANG!Gia yang baru kembali dari kafetaria melihat hal itu dan langsung menjatuhkan cangkir kopinya ke lantai ubin. Cairan hitam pekat berhamburan, namun Gia tidak peduli.Sepasang matanya membola sempurna menyaksikan tubuh kekar suaminya yang bertelanjang dada itu bergetar hebat. Langkah pertama Marco

  • Yes! Please, Daddy   Bab 122: Kau bukan Mainanku

    Keesokan paginya, Rio datang membawa laporan taktis mengenai pengiriman di pelabuhan timur yang berhasil diamankan meskipun ada riak kecil dari sisa-sisa anak buah Albert. Di tangan kanannya, sebuah komputer tablet terenkripsi menampilkan grafik manifes kargo senjata klan Rossi yang sempat menjadi sasaran buru."Sektor perimeter dermaga tiga sempat ditembus oleh dua unit taktis The Sword, Tuan Marco," lapor Rio, suaranya yang serak dan berat mengalun dengan artikulasi militer yang kaku. "Namun, Tim Bravo berhasil melakukan eksekusi senyap. Seluruh kargo kini telah bergerak menuju perbatasan utara."Di depan Rio, Marco kembali berakting menjadi kepala klan yang otoriter dan dingin.Sisi jahil yang semalam dia tunjukkan pada Gia menguap tanpa bekas, digantikan oleh topeng absolut seorang penguasa dunia bawah yang tak tersentuh. Wajah pucatnya mengeras, dan sepasang mata abu-abunya menatap dingin ke arah layar tablet yang disodorkan Rio."Berapa kerugian personel kita, Rio?" tanya Marco.

  • Yes! Please, Daddy   Bab 121: Ketegangan di Dalam Ruang VIP

    Di sore hari, berkas cahaya matahari yang mulai meredup masuk melalui jendela besar kamar rawat VIP, memantulkan warna jingga temaram di atas dinding putih.Keheningan itu pecah ketika Marco mendadak mendengus gusar, berulang kali menarik kerah kemeja rumah sakitnya dengan guratan tidak nyaman di wajah tegasnya."Aku menolak aroma disinfektan berengsek ini di tubuhku, Gia," gerutu Marco, suara baritonnya yang serak terdengar ketus. "Ini membuatku merasa seperti mayat yang siap diawetkan."Gia yang sedang merapikan beberapa dokumen taktis di sofa menoleh, melipat kedua tangan di dada. "Kau baru saja keluar dari ruang operasi beberapa jam lalu, Rossi. Nikmati saja aroma rumah sakitmu.""Bersihkan aku," tuntut Marco mutlak, sepasang mata abu-abunya menatap Gia tanpa beralih sedikit pun. "Atau aku akan turun ke kamar mandi sekarang dan membiarkan air menyiram jahitan perutku sampai robek.""Kau benar-benar pria keras kepala yang kekanak-kanakan!" bentak Gia, entakan langkah boots-nya terd

  • Yes! Please, Daddy   Bab 120: Unik dan Menggemaskan

    Seorang perawat muda berseragam klinis putih masuk dengan langkah ragu, membawa nampan berisi mangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih.Namun, baru saja wanita itu mengulurkan sendok, aura predator Marco langsung menyengat udara kamar. Sepasang mata abu-abu sang kepala klan Rossi berkilat sedingin es, menolak dengan keangkuhan mafioso yang tidak menerima kompromi."Keluar," perintah Marco dengan suara serak yang terdengar seperti dekret mutlak yang tak terbantahkan. "Tinggalkan nampannya di meja.""T-tapi, Tuan Rossi, Anda harus segera makan untuk meminum obat pasca-operasi—""Aku tidak suka mengulang perintahku, Suster," potong Marco dingin, membuat perawat itu menelan ludah, meletakkan nampan dengan gemetar, dan bergegas keluar dari kamar rawat VIP seolah baru saja lolos dari kandang serigala.Gia yang berdiri di dekat jendela langsung melipat kedua tangan di dada, mendengus kasar menatap kelakuan suaminya. "Kau bisa menakuti semua orang di rumah sakit ini, Rossi, tapi tidak

  • Yes! Please, Daddy   Bab 119: Aku tidak Menangisimu!

    Pancaran sinar matahari pagi menerobos celah gorden tipis ruang rawat VIP, memantulkan pendar keemasan di atas lantai ubin yang bersih. Aroma tajam cairan antiseptik perlahan berbaur dengan hangatnya udara pagi.Di atas ranjang pasien, kelopak mata Marco bergerak lambat. Efek mati rasa dari senyawa bius total yang mengunci sarafnya selama belasan jam akhirnya menguap, digantikan oleh kesadaran taktis yang langsung pulih dalam hitungan detik.Hal pertama yang tertangkap oleh sepasang manik mata abu-abunya adalah siluet kepala Gia. Wanita itu tertidur dengan posisi tidak nyaman, menyandarkan keningnya di tepi kasur baja tepat di samping lengan kiri Marco.Rambut hitam gelombangnya berantakan, menyebar di atas seprai putih. Namun yang membuat sudut bibir pucat Marco berkedut adalah kehangatan kecil di jemarinya, Gia masih menggenggam erat telapak tangannya, seolah enggan melepaskan jangkar kehidupan suaminya bahkan dalam lelapnya yang kelelahan.Marco menatap wajah istrinya dari jarak de

  • Yes! Please, Daddy   Bab 117: Sebaiknya Jujur saja

    Gia dan Rio berada di ruang operasi menunggu Marco yang masih di dalam ruang operasi. Koridor rumah sakit privat milik klan Rossi itu tampak sunyi, hanya menyisakan gema langkah kaki dan dengung lampu neon yang temaram.Bau disinfektan yang tajam menusuk hidung Gia, memicu kembali ingatan akan anyi

  • Yes! Please, Daddy   Bab 116: Luka di Tubuh Marco

    Mereka berhasil melompat masuk ke dalam kabin helikopter yang berguncang hebat di tengah badai peluru. Bunyi hantaman timah panas yang menggores dinding luar badan burung besi itu menciptakan dentangan logam yang memekakkan telinga.Rio langsung menarik pintu geser kabin hingga tertutup rapat, meng

  • Yes! Please, Daddy   Bab 115: Urusan Kita belum Selesai!

    Kabut asap pekat akibat ledakan tabung gas belum sepenuhnya menguap saat Marco mengambil keputusan taktis yang ekstrem.Mengabaikan posisi Albert yang kian mendekat di balik kabut, pria Rossi itu menarik sisa granat ofensif terakhir dari sabuknya, menyentak pin pengaman dengan sentakan gig

  • Yes! Please, Daddy   Bab 114: Mimpinya Terlalu Dini

    Serangan gelombang kedua kembali pecah dengan lebih brutal. Puing-puing beton yang sempat menyumbat ambang pintu ruang kerja Dimitri hancur berantakan dihantam muatan peledak breaching berdaya ledak tinggi.BOOM!Guncangan dahsyat itu melemparkan tubuh Gia ke lantai marmer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status