LOGIN川村月子がSNSに動画を投稿した。 私の夫である鈴木誠と彼女が映っている。 トランプを口移しするゲームをしているところ。 カードを落としたとたん、二人の唇が重なり、そのまま夢中で深いキスを交わした。 丸一分間も続けた。 「私って相変わらずドジだね♡ 誠くんのキステク、昔と変わらないよ」 私は黙って「いいね」を押し、「おめでとう」とコメントした。 すぐに誠から怒鳴り声の電話がかかってきた。 「お前みたいな面倒くさい女はいないよ。月子とただゲームしてただけだろう。いちいち意地悪するな!」 7年の愛も、所詮は儚い夢だったんだと、その時悟った。 もう、私が身を引く時なのだ。
View More"Lingga …." Desahan bernada putus asa itu lolos dari bibir wanita cantik, yang saat ini sedang berada di dalam kendali berondong bayarannya. "tante udah gak tahan." Wanita bernama Maudy itu melenguh, menahan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.
Jari-jari milik Maudy, yang dihias kuku-kuku akrilik berwarna merah meremat rambut Bagaskara —pemuda yang dikenalnya sebagai Lingga, sementara kedua paha miliknya makin terentang lebar, seolah memberi akses pada sang pemuas di bawah sana. "Euhh …." Maudy mendesah lagi, kali ini dia benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. "Ini enak banget, Lingga," erangnya seraya mendongak, dengan satu tangannya bertumpu pada tepi kitchen island. Ruangan yang seharusnya untuk memasak itu kini telah berubah menjadi area panas, karena ulah dua manusia tanpa sehelai benang, yang saat ini sedang beradegan intim. Bagas— gigolo bayaran Maudy menyeringai puas menyaksikan salah satu pelanggan tetapnya hampir mencapai puncak klimaks. "Lepasin, Tan," ucapnya, yang makin memperdalam permainan lidahnya di lembah basah milik Maudy. "Lingga, kamu … Na-kal!" Inti milik Maudy semakin basah dan mengetat saat Bagas terus memainkannya. Hingga sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan lepas tanpa kendali, membuat tubuh polosnya menggelinjang. "Lingga …." Erangan panjang meluncur erotis, menggema di seluruh area pantry. Napas Maudy putus-putus, seiring dadanya yang memiliki ukuran cukup besar naik turun. Seluruh tubuhnya terasa ringan dalam sekejap karena dia telah mencapai puncak kenikmatan, yang luar biasa. Melihat pelanggannya puas, Bagas tentu merasa senang. "Gimana, Tan?" Pemuda itu berdiri, mengusap pipi Maudy yang masih merah dan terasa hangat. Sisa-sisa kepuasan masih berjejak di sepasang matanya yang sayu. "Enak, Lingga," sahut Maudy yang napasnya berangsur teratur. Punggung Maudy menegak, menatap ketampanan wajah Bagas, yang telah membuatnya tergila-gila dengan sorot mendamba. Wanita berambut panjang lurus itu lantas meraba dada polos Lingga, sambil menggigit bibirnya dengan sensual. Dan Bagas tahu persis akan berlabuh ke mana tangan lembut itu. Maudy menyusuri setiap jengkal tubuh polosnya yang begitu maskulin, dengan otot-otot yang terbentuk sempurna di bagian-bagian yang seharusnya. Berkat latihan fisik yang sering dia kerjakan dengan rutin. Hanya menyentuh saja membuat darah Maudy kembali berdesir panas. Hasratnya masih belum terpenuhi secara tuntas, karena dia masih belum berkesempatan untuk menikmati milik Bagas yang masih menegak di bawah sana. Keras dan panas. "Tapi, Tante masih pengen icip ini." Maudy merengek manja bak anak kecil yang meminta mainan. "Lingga gak pengen apa masukin tante?" Dia mengurut milik Bagas dengan gerakan maju mundur, membuat pemuda itu mengerang singkat. Namun erangan itu berubah menjadi kekehan saat melihat Maudy yang merengek padanya seperti anak kecil. Dan rengekan ini tak sekali dua kali dia dengar dari para pelanggannya, yang menginginkan lebih dari sekadar sentuhan lidah. Sebab, Bagas tak pernah bahkan sama sekali tidak mengizinkan siapa pun menikmati benda pusakanya. Aneh? Memang terdengar cukup aneh. Karena hal itu terdengar sangat kontradiktif dengan profesi yang dijalani Bagas selama ini. Mana ada seorang gigolo pemuas wanita kesepian tidak pernah sekalipun memasuki lobang-lobang surgawi milik pelanggannya? Ada. Bagas contohnya. Dan hal itu menjadi daya pikat tersendiri bagi Lingga yang bukan nama sebenarnya. Nama asli Lingga adalah Bagaskara Saputra. Namun, para pelanggannya mengenalnya sebagai Lingga. Gigolo berwajah oriental dan bermata sayu. Buat jaga-jaga aja, sih... dan tentunya menghindari masalah. Soalnya sering kejadian, suami-suami para pelanggannya mukulin Bagas kalo pas gak sengaja ketemu.. Resikonya, muka cakepnya babak belur. "Kenapa, sih, kamu gak mau masukin tante?" Maudy tak menyerah dalam merayu Bagas agar mau mengiyakan permintaannya. "Kita udah main puluhan kali, loh. Masa tante gak boleh icip ini." Dia sengaja menekan sentuhannya pada milik Bagas yang membuatnya penasaran. Bagas mengusap dada Maudy yang ujungnya mengetat, lalu berkata, "Kan, gak harus masuk, Tan. Ada banyak cara buat nyenengin Tante. Seks itu gak melulu harus masuk." Dia membungkuk, menggigit ujung dada Maudy dan mengisapnya sekilas. Gelenyar aneh kembali menyerang tubuh Maudy, sementara tangannya belum mau melepas milik Bagas. "Geli, Lingga," protesnya, tetapi juga menikmatinya. "kamu curang!" "Kalo Lingga curang, gak mungkin Tante bisa sampe berkali-kali klimaks," sahut Bagas disela-sela memainkan puncak dada Maudy. "Kenapa, sih, Lingga gak mau masukin?" Maudy protes lagi di sisa kesadarannya yang hampir menipis karena saat ini dia menginginkan lagi. Bagas menyudahi isapannya, lalu menegak. Sambil membelai rambut Maudy, dia menjawab, "Karena Lingga cuma mau ngelakuin pengalaman pertama itu sama istri Lingga, Tan." Jawaban itu masih bisa dikatakan masuk akal 'kan? Agar si Maudy ini gak curiga. "Istri?" Manik Maudy menatap lekat-lekat wajah Lingga yang nampak serius. "Lingga mau nikah?" Tuh, kan... Maudy langsung penasaran. "Hmm." Telapak tangan Bagas berpindah di pipi Maudy. "Aku perhatiin Tante makin cantik. Kayak Kim Kardashian," katanya, yang mulai melancarkan aksinya, kemudian memerhatikan bentuk hidung Maudy yang makin mancung. "kayak … Ada yang diubah lagi." "Jeli juga mata kamu, ya," kata Maudy, menyentuh ujung hidung Bagas sambil mengerling. "Tante emang abis oplas kemarin waktu di Thailand. Bagus, gak hasilnya?" Empat bulan yang lalu dia sengaja terbang ke Bangkok untuk operasi plastik. "Bagus, Tan. Makin cantik," puji Bagas, lantas menyentuh dada Maudy dan meremasnya. "Ini kayaknya juga tambah gede, Tan. Ditambahin lemak mana lagi?" Remasan di dadanya, membuat Maudy mengerang. "Tante tambahin lemak paha. Biar kamu makin betah di sini." Maudy menyodorkan dadanya agar Bagas bisa lebih leluasa menjelajahinya. "Pantes paha Tante makin ramping dan kenceng," ucap Bagas. "aku suka ini, Tan." Dia mengisap lagi puncak dada Maudy. "Geli, Lingga." Maudy kegelian, dan makin gelisah. "Lingga, kamu mau nikah?" Maudy nampaknya masih penasaran, hingga tidak sadar bertanya demikian. Bagas sontak menghentikan isapannya, seringai licik terbit di sudut bibir. Punggungnya menegak, dan dia pun menjawab ambigu, "Hmm … Bisa iya bisa enggak." Sorot matanya berubah dingin, tetapi nampaknya Maudy tidak menyadarinya. Bila diperhatikan dengan saksama, nampaknya perempuan di hadapannya ini sedang menimbang-nimbang. Bagas tentu bisa membaca isi pikiran Maudy saat ini. Selama hampir mengenalnya, Maudy ini tipe perempuan yang harus bisa memiliki apa yang diinginkannya. Apalagi selama hampir kurang lebih setahun dia dan Maudy bersama. Bagas yakin seratus persen jika perempuan ini sangat menginginkannya. Mengingat, jika Maudy selama ini kesepian dan haus belaian. 'Bagus. Kena 'kan, lo?' Bagas membatin senang ketika melihat Maudy yang nampaknya mulai masuk ke dalam perangkapnya. 'Dasar jalang!' Ini semua memang sudah direncanakan Bagas sejak lama. Memancing Maudy agar makin penasaran. Pernikahan? Mungkin itu hanyalah satu-satunya cara agar Bagas bisa menjerat Maudy lebih erat. Mengendalikan hidup wanita jalang ini. "Tan?" Bagas mengusap pipi Maudy. Maudy terhenyak, menatap Bagas dengan tatapan penuh damba. "Lingga yakin mau nikah?" tanyanya tiba-tiba. Kening Bagas mengernyit. "Maksudnya?" Ah, Bagas cuma pura-pura tidak paham maksud Maudy. "Nikah." Maudy memainkan telunjuknya di dada polos Bagas. "nikah sama tante." Bolehkah Bagas berjingkrak sekarang? "Nikah sama Tante?" "Hmm." Maudy mengangguk. Raut Bagas pura-pura terkejut, dan ada seringai licik yang terulas tipis di sudut bibir. 'Yes, akhirnya jalang ini masuk juga ke perangkap gue.' *** Bersambung....彼の言葉に、私の心は微かにも揺れなかった。愛が消え去ると、こんなにも冷徹になれるものなのね。「あの日、何度も何度も電話したわ。全部切られたけど。その時、月子とのキスに夢中だったものね」川村月子が儚げな表情を浮かべながら、赤ワインを手に近寄ってきた。「安奈さん、そんなに大事な用件だったなんて......誠くんのこと、許してあげて?離婚したばかりなのに、もう次の人を見つけて。誠くんの心にはまだあなたがいるの。これを受け取って。過去のことは水に流しましょ?」周囲の視線を感じながら、私はゆっくりとグラスを受け取った。そして、一瞬の躊躇いもなく、彼女の頭上から注ぎ込んだ。赤ワインが月子の頭から滴り落ち、化粧が崩れ、惨めな姿へと変わっていった。呆然としていた川村月子は、やがて泣き崩れながら鈴木誠の元へ駆け寄った。「誠くん!あの女、こんなひどいことするなんて、許せないわ!」でも川村月子がどれほど涙を流しても、鈴木誠は一瞥もくれなかった。かつての慈しみも愛情も、跡形もなく消え去っていた。充血した目で深いため息をつくと、鈴木誠は言った。「安奈、本当に申し訳なかった。もう一度だけチャンスをくれないか。これからはお前だけを見つめる。もう一度、やり直させてくれ。観覧車も、アイスランドのオーロラも、行きたいところ全て連れて行く。何でも......」その言葉が終わる前に、佐藤凌が鈴木誠の顔面に渾身の一撃を叩き込んだ。「安奈にしてきたことを忘れたのか。これからは俺が彼女を大切にする。二度と近づくな」鈴木誠は信じられない表情で佐藤凌を、そして私を見つめた。首を横に振りながら、掠れた声で懇願を続けた。「頼む、安奈。プライドも何もかも捨てた。それでもダメなのか。これからは必ず......」私は両手で耳を覆った。もう彼の空虚な約束なんて、これ以上聞きたくなかった。佐藤凌が私の手を取り、静かにホテルを後にした。青空を見上げると、心が洗われていくような清々しさを感じた。佐藤凌は私の目をまっすぐ見つめ、優しく言った。「大丈夫だよ。俺がずっとそばにいる」その後、川村月子は妊娠を終わらせた。SNSで被害者面をして私への中傷を始め、私の会社を標的に執拗な攻撃を仕掛けてきた。一時
間もなく川村月子からLINEが入った。「離婚なんかちらつかせたって、誠くんの気持ちは変わらないわよ!誠くんが愛してるのは私。会社も、お金も、マンションも、これから全部私のものになるの。もうすぐ私が社長夫人になるんだから!私は淡々とメッセージを送り返した。「所詮、不倫相手でしかないじゃない」「愛されてない方こそ余計者でしょ?」ふん、この馬鹿な女。マンションの所有者が私だってことも知らないのね。そういえば、会社のことだけど。以前の会社の実力のある社員たちとグループLINEを作った。新会社の設立を伝え、待遇は現状維持か、それ以上になると約束した。すると、たくさんの返信が届いた。「安奈さん、鈴木誠の彼女が毎日会社に来ては、色々と混乱を招いてるんです」「まるで社長夫人のように振る舞って、安奈さんと親しかった社員を次々と左遷して、古株はみんな困ってます」「安奈さん!いつでも新会社に移れる準備はできてますよ!」その言葉に、心が少し軽くなった。やっぱり、クズ男と縁を切れば、全てが良い方向に向かうものね。一ヶ月後、新会社が順調に立ち上がり、前の会社の社員の半数が移籍してきた。お披露目パーティーを開催した私の目に、忙しく立ち回る佐藤凌の姿が映った。額に汗を浮かべながら、花の装飾から席次、料理、ドリンクまで、全てを完璧に采配している。ただのお坊ちゃまではないな、と印象が少しずつ変わっていった。皆がシャンパングラスを掲げて祝福する中、突然ドアが開き、充血した目をした誠が入ってきた。「目的は達成したな。俺を屈服させたかったんだろう?いいさ、お前の勝ちだ」私は冷ややかな目で見つめた。「もう離婚したでしょう」「離婚届にサインしてない。まだ夫婦だ。これからは平日はお前と、週末は月子と過ごす。お前の方が三日多いんだぞ。その代わり、新会社の案件を全部よこせ」周りから驚きの声が漏れた。誰もが、こんな厚かましい要求を信じられない様子だった。私は口元に薄い笑みを浮かべた。「仕事?いいわよ。離婚届にサインすれば考えてあげる」そう言って、常に持ち歩いていた離婚届を取り出した。鈴木誠は躊躇いながらペンを握り、なかなかサインしようとしない。私は待ちきれず、月子の方を向いた。「ここま
その言葉を聞いて、胸が苦しくなった。つい先日のことが蘇ってきた。鈴木誠が「スペアリブが食べたいな」とポツリと言っただけだった。それなのに私は、真夏の日差しも気にせず材料を買い集めて、愛情たっぷり込めて甘酢スペアリブを作った。そして、会社まで届けた。鈴木誠が私の手料理を楽しみにしてくれているはずだと思っていた矢先、川村月子から写真付きのメッセージが届いた。「安奈さん♪ うちのポチがスペアリブ食べてるところです。でも、ちょっと塩辛かったみたい。次は薄味にしていただけると嬉しいな」今、目の前で惨めな姿を晒している男を見つめながら、やるせない気持ちが込み上げてきた。鈴木誠は川村月子の若さと愛らしさに夢中になり、彼女を手に入れた優越感に浸りながら、その一方で私の献身的な愛情まで都合よく求めていたのだ。そんな虫のいい話、この世にあるはずがない。思わず嘲笑うような声が漏れ、声のトーンを上げた。「よくもそんなことが言えるわね。結婚式で月子さんとキスしてた時は、私の気持ちなんて全然考えてなかったじゃない。観覧車デートを楽しんでた時は、彼女が子供っぽいなんて一言も言わなかったはずよ。都合のいい時は気にならなくて、飽きたら私の良さを思い出すの?まあいいわ。離婚してくれるなら、何人の女性と暮らそうが私には関係ないから」私の言葉一つ一つが痛いところを突いたらしく、鈴木誠は恥ずかしそうに俯いた。周りの人々が足を止め、私たちの方をじろじろ見始めた。野次馬が増えるにつれ、鈴木誠は顔を曇らせ、面目を失ったような怒りを露わにした。「安奈!いい加減にしろよ。そんな上辺だけの態度、もう見飽きたぞ。図に乗るんじゃねえ本当に俺のこと忘れたっていうなら、どうしてまだ結婚指輪してるんだよ。五年間はめ続けた指輪を見つめた。もう、別れを告げる時だ。「ごめんなさい、外すの忘れてただけよ」そう言って、左手の薬指から指輪を外し、ためらいもなくゴミ箱に投げ入れた。「要らないものはゴミ。ゴミはゴミ箱に捨てるものでしょう」誠は真っ赤な顔で、奥歯を噛みしめた。「七年間の思い出を、そう簡単に捨てられるはずがないだろう。大学時代、お前が必死に俺を追いかけてたの、クラスメイト全員が知ってるんだぞ。俺と結婚できて人生最高の選択だって、お
写真をじっと見つめたまま、しばらく動けなかった。母が静かに近づいてきて、私の肩に手を置いた。「安奈、佐藤さんの息子の凌くんが、この間海外から戻ってきたのよ。今度一緒に食事でもどう?」そう言いながら、母は少し躊躇うような目で私を見つめた。母の気持ちは分かっていた。私に相応しい男性を紹介したいのだけれど、昔から恋愛は自由にさせてと主張していた私に、こういう形で勧めるのが申し訳ないのだろう。軽く微笑んで、特に表情を変えずに答えた。「うん、いいよ」両親にずっと心配をかけ続けている申し訳なさもあったけれど、それ以上に、自分の人を見る目を疑っていた。本当の愛だと信じていたものが、今となっては何の意味もない。もしかしたら、似たような家柄同士の方が、長く続くのかもしれない。私が反対しないのを見て、母は嬉しそうに手を擦り合わせた。「よかった、よかったわ」父の顔を見上げた。「お父さん、新しい会社を始めたいんだけど、資金を出してもらえる?」父は二つ返事で、私の口座に二千万円を振り込んでくれた。これで自分の事業を続けていける。鈴木誠が会社の実権を手放そうとしないのなら、私は一から始め直すしかない。両親は私の前向きな姿勢を見て、心から安堵していた。両親の後押しもあり、新会社の立ち上げは順調に進んでいった。たった一ヶ月で物件を決め、内装のプランを確定させ、手付金も納めることができた。一人で全てを切り盛りするのは大変だったけれど、充実感もあった。全てが良い方向に向かっているように思えた。内装工事もほぼ完了し、最後にオフィス家具を選びに行った帰り際、思いもよらず入り口で鈴木誠と鉢合わせた。意外なことに、彼は無精髭を生やし、シャツはしわくちゃで、いつも磨き上げていた黒い革靴も埃にまみれていた。かつての凛々しい姿は、どこにも見当たらなかった。私を見つけると、鈴木誠は照れくさそうに後頭部を掻いた。「安奈、引っ越して連絡も取れなくなって......みんなに聞いて、やっと見つけられた」私は冷ややかな目で横目にちらりと見た。「何か用?」鈴木誠は何度も私の顔を見つめ、小さな箱を差し出してきた。中にはピンク色のペンダント。「アイスランドで見つけたんだ。安奈がピンク好きだって思って」胸が締