Short
夫を解放したら、彼は焦り始めた

夫を解放したら、彼は焦り始めた

Oleh:  魚谷裕余Tamat
Bahasa: Japanese
goodnovel4goodnovel
10Bab
72.1KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

結婚七年目、桜井竜一がバーで堂々と秘書とキスをするのを目撃した。 私がその場を去ろうとしたとき、彼から電話がかかってきた。 「ただ友達同士の冗談だよ。そんな顔をするなよ」 電話の向こうでは、彼の仲間たちが笑いながら、「奥さんは今夜またやきもちを焼いて『別れたくない』と泣きついて乞うだろう」と私をからかっていた。 電話を切る直前に、竜一に私が謝らない限り、彼はもう家には帰らないとと言われた。 しかし、今回私は気にしていなかった。彼が帰るかどうか、離婚するかどうか、もうどうでもよかった。 数分後、私はSNSに投稿した。 「自分を永遠に愛し、誰に対しても自由を許す」

Lihat lebih banyak

Bab 1

第1話

"Bima, besok kita ke kampung ya. Nenek akan kenalkan kamu ke Lika. Calon istrimu."

Nenek bicara serius denganku pagi ini. Sudah ada sarapan nasi goreng buatan Bu Marni di atas meja, tapi ternyata ada 'sarapan tambahan' lagi dari Nenek. Apalagi kalau bukan pembicaraan tentang Lika, dan aku yakin, sampai malam nanti nama Lika akan terus berkumandang di rumah ini.

"Nek, Aku bisa cari jodoh sendiri," sahutku masam.

"Sampai kapan? tiga tahun lalu kamu juga bilang seperti itu, tapi sampai sekarang kamu masih tetap jomblo. Nggak bosan apa jomblo terus. Sendal aja ada pasangannya, masak kamu nggak?"

Uh ... Nenek sungguh menyebalkan!

Beberapa menit kemudian Nenek mendekatkan wajahnya ke wajahku. Menyelidiki dari kening, mata, sampai ke bibirku. Mengamat-amatiku seperti ada sesuatu yang asing di wajahku ini.

"Jangan-jangan kamu nggak suka cewek?" Nenek mulai menginterogasi.

"Maksud Nenek?" Aku mengernyitkan dahiku tanda tak mengerti.

"Kamu homo, Bim?" Mata Nenek terbelalak sempurna, menuduhkan hal yang selama ini bahkan tak pernah terpikirkanku.

"Astaga naga ... Nyebut, Nek, nyebut. Bima pria normal. Selera Bima masih sama cewek. Bukan sama pisan,." balasku kesal.

Kebetulan ada pisang di atas meja makan, kuambil dan kukunyah pisang itu, dalam sekali hap masuk dalam mulutku. Aku kesal sama pisang. Eh. Sama Nenek. Bisa-bisanya Nenek mengira aku homo hanya karena aku lama menjomblo.

"Nenek heran, cowok setampan kamu, pekerjaan bagus, uang banyak, tapi jomblo terus. Lalu apa namanya kalau bukan homo?"

"Cewek-cewek yang deketin Bima banyak, Nek. Tapi mereka semua hanya ngincar uang Bima. Nggak ada yang benar-benar tulus cinta sama Bima. Bima mau cari istri yang benar-benar tulus, bukan karena harta dan kedudukan Bima sekarang. Tapi tulus mau menerima Bima apa adanya."

"Nah ... itu, udah cocok banget itu kriterianya sama Lika."

"Tapi bukan pakai acara jodoh-jodohan begini juga kali, Nek."

"Udah jangan membantah, nanti kamu pasti suka kalau sudah ketemu Lika. Pikirin itu umur udah tiga puluh."

Sengaja Nenek menekankan nada pada perkataan 'Tiga Puluh', seolah menyindir kalau aku sudah tua.

"Nunjukin fotonya aja Nenek nggak mau. Gimana Bima bisa menikahi gadis yang nggak Bima cintai."

"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Nenek sangat yakin Lika gadis yang pas untuk kamu. Nenek kenal Lika dan orangtuanya. Bisa jadi nanti kamu langsung jatuh cinta sama Lika pada pandangan pertama."

Aku memilih diam. Tak ada gunanya membantah Nenek sekarang. Bagiku usia tiga puluh tahun belum tua. Nggak masalah kalau belum memikirkan pernikahan. Tapi bagi Nenek, ini seperti sebuah beban.

Sudah dari berbulan-bulan lalu Nenek cerita tentang Lika. Seorang gadis yang tinggal di desa tempat Nenek dibesarkan dulu. Katanya Lika ini adalah cucu sahabatnya. Sama sepertiku, Lika juga yatim piatu.

Bedanya, kedua orangtuaku meninggal saat aku masih kecil. Ayah Ibuku menjadi salah satu korban pesawat jatuh saat mengadakan perjalanan keluar negeri untuk urusan bisnis.

Sejak usiaku sepuluh tahun aku sudah tinggal bersama Kakek dan Nenek. Merekalah yang merawatku dan menjadi orangtuaku menggantikan peran ayah ibu.

Kakek meninggal waktu usiaku tujuh belas tahun. Jadi sekarang memang hanya Nenek yang aku punya. Dan bagiku, Nenek adalah hartaku yang paling berharga, melebihi apapun.

Sementara Lika, Ayahnya meninggal setahun yang lalu karena sakit. Dan beberapa bulan yang lalu, Ibunya meninggal. Saat ini Lika tinggal bersama Pamannya.

Aku hampir hapal semua tentang Lika, kalian tahu kenapa? Karena tiap hari Nenek cerita tentang Lika, Lika, dan Lika terus. Tiga kali sehari kayak minum obat. Huffttttt.

"Bima berangkat, Nek." Kucium kening Nenek dengan hangat. Buru-buru aku pergi ke kantor. Sebelum pembicaraan tentang Lika bertambah panjang.

"Jangan lupa makan siang, Bim. Nenek sayang kamu," ucap Nenek lembut.

"Bima juga sayang Nenek."

🌸🌸🌸

"Nek, boleh Bima lihat foto Lika?" tanyaku pada Nenek. Saat ini kami sudah dalam perjalanan menuju kampung halaman Nenek. Aku menurut saja pada kemauannya. Tak ada hal yang lebih berarti bagiku saat ini selain menyenangkan hatinya.

Tapi bukan berarti aku mau-mau saja dengan perjodohan ini. Biarlah aku sekadar kenalan dengan Lika. Gadis pilihan nenek itu. Toh menambah teman juga nggak ada ruginya.

"Nggak usah. Ketemu saja langsung, nggak usah lihat-lihat foto segala. Sebentar lagi kita sampai kok."

Aku hanya diam. Fokus menyetir. Percuma membantah. Semua perkataan Nenek adalah benar. Bukankah ada dua peraturan yang harus kita patuhi ketika berhadapan dengan wanita? Pertama: wanita selalu benar. Kedua: jika wanita salah, kembali ke point pertama.

"Kamu udah nggak sabar ya ketemu Lika. Hayooooo," goda Nenek.

"Cie... yang udah nggak sabar ketemu calon istri." lanjutnya lagi.

"Dahlahhh. Mengcapekkkk." Aku menghembuskan nafas pasrah.

Sepanjang perjalanan Nenek terlihat ceria dan bersemangat. Antusias sekali beliau dengan rencana pertemuan ini. Seolah dia yang mau ketemu calon suami.

Kami memasuki perkampungan yang lumayan jauh. Jalan kesini tidak bagus. Sepertinya belum mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Rumah-rumah kayu yang dihuni penduduk juga jaraknya tidak rapat. Malahan cukup berjauhan. Yang terlihat hanya perkebunan yang terbentang luas. Lebih mirip hutan sepertinya.

"Nek, masih ada kampung sepi dan jauh dari peradaban begini?" tanyaku pada Nenek.

Membayangkan tempat ini saja aku tak pernah. Apalagi membayangkan gadis yang berasal dari kampung ini menjadi istriku. Jangan-jangan dia seperti Tarzan.

"Ohh tidakkkkk!!!" seruku tanpa sadar. Lamunanku sampai terbawa ke alam nyata.

"Hushhhh, kenapa sih kamu. Belum juga ketemu Lika udah nggak karuan begini. Apalagi kalau udah ketemu. Bisa tambah salah tingkah kamu, Bim."

"Bukan salah tingkah, Nek. Tapi Bima hampir gila. Masa Nenek tega sih ngejodohin Bima dengan gadis dari kampung ini." Aku mulai menggerutu.

"Eh... jangan macam-macam ya. Nenek juga berasal dari kampung ini."

Tak ada perdebatan lagi. Kalau nyonya besar sudah bersabda, aku bisa apa?

"Itu gang menuju rumahnya." Nenek menunjuk sebuah gang di ujung jalan.

"Kita berhenti di sini saja. Mobil nggak bisa masuk ke dalam."

Aku menurut saja. Kami keluar dari mobil, berjalan kaki menuju jalan setapak. Di ujung sana ada sebuah rumah yang sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari tepas. Atapnya juga hanya seng sederhana. Tapi rumah itu cukup besar. Halamannya juga luas, ditanami dengan berbagai bunga warna-warni yang cantik.

"Bu Irma, kami sudah menunggu dari tadi." Seorang pria yang menyebut nama nenek itu tampak menyambut kami dengan ramah. Disebelahnya juga ada wanita yang aku yakin itu istrinya. Mereka menyalam nenek dan mencium punggung tangannya dengan santun.

"Ardi, Mala, ini Bima. Bima, Ini Paman Ardi dan Bi Mala. Paman dan Bibinya Lika "

Aku pun tersenyum, lalu menunduk dan mencium tangan mereka.

"Ayo kita masuk kedalam saja," ajak Paman Ardi.

Mataku mulai mengedarkan pandangan. Mencari sosok lain dihalaman rumah ini.

"Mana dia?" batinku.

Tentu dong aku mencari Lika. Gadis yang digadang-gadang nenek akan menjadi istriku. Sudah pasti aku penasaran dengan wajahnya, walaupun belum tentu aku mau menikahinya.

Namun dari tadi aku tak melihat siapapun selain Paman Ardi dan Bi Mala.

"Hayo ... cari-cari Lika ya." Nenek berbisik mulai menggodaku lagi. Sepertinya ia sadar dari tadi mataku mengedar, mencari-cari sesuatu.

"Mari silahkan duduk Bu," ujar Paman Ardi.

Bi Mala permisi ke dapur. Mungkin mau menyiapkan minuman atau ada keperluan yang lain. Entahlah.

Nenek dan Paman Ardi sudah ngobrol panjang lebar. Aku hanya sebagai pendengar setia saja. Sesekali ikut tersenyum bersama mereka. Bi Mala sudah kembali dari dapur dan bergabung bersama kami.

Tapi kenapa dari tadi mereka belum menyinggung soal Lika. Menyebut namanya pun tidak. Bahkan sosok Lika belum muncul juga dari tadi. Tak ada orang lain lagi yang kunampak di rumah ini.

Selang beberapa menit, seorang gadis datang dari dapur, membawa nampan berisi teko, gelas dan biskuit.

Aku terperanjat. Diakah Lika? Siapa lagi kalau bukan Lika? Bukankah tujuan kami kesini memang mau bertemu Lika.

Tapi ... kenapa penampilannya seperti ini? Badan yang gempal, gemuk, pipinya sangat berisi seperti bakpau, lehernya hampir tak kelihatan. Memakai baju kaos kedodoran, dan rok panjang motif bunga-bunga. Rambutnya pendek sedagu dan berponi. Mirip potongan rambut Dora The Explorer.

Dengan pelan gadis itu meletakkan gelas satu persatu dan menuangkan teh dari teko kedalam gelas. Aku menahan nafas, keringat dingin mulai mengucur di dahiku.

Dari tadi dia hanya menunduk. Belum berani menatap kami satu persatu. Terutama menatapku. Akupun tak berani menatapnya.

Aku merasa nenek sudah mengerjaiku. Katanya aku akan suka dengan Lika kalau kami sudah ketemu. Katanya aku bisa jatuh cinta dengan Lika pada pandangan pertama. Mana, Nek? Mana?

Akhirnya tanpa sengaja, mata kami bertemu, kami saling menatap. Aku terbius, diam, kaku, serasa jarum jam berhenti berdetak.

Dan...

''Ting'

Lika nyengir lebar kepadaku, dan ada satu gigi emas diantara deretan giginya. Bersinar, berkilau. Menyilaukan.

"Nek ... Nenek ngeprank aku."

Lalu aku pun lemas tak sadarkan diri.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

Ulasan-ulasan

bbb aaa
bbb aaa
失いそうになってから焦る よくあるお話です。
2025-05-21 12:26:42
3
0
うさぎ
うさぎ
打ち切りかと思うような終わり方の短編小説でした。ストーリーとしては少し物足りないかも。
2025-05-11 18:44:05
1
0
みみみ
みみみ
家主の許可なく他人を勝手に家に入れてしかも出かけた。そのせいで子どもがいなくなることになったのに、使用人に対しての罰はないんかと思った。
2025-11-01 20:05:17
2
0
橘ありす
橘ありす
よくある話なのはともかく 翻訳がめちゃくちゃなのか AI作品かなにかで文章がおかしいのか 意味不明な箇所が多くて 脳内補完が面倒でした。
2025-09-04 17:37:29
3
0
10 Bab
第1話
結婚七年目、桜井竜一がバーで堂々と会社の秘書とキスをするのを目撃した。私がその場を去ろうとしたとき、彼から電話がかかってきた。「ただの友達同士の冗談だよ。そんなに顔をするなよ」電話の向こうでは、彼の仲間たちが私をからかう声が聞こえてきた。今夜もまたやきもちを焼いて、『別れたくない』と泣きついて乞うだろうと言っていた。電話を切る直前に、竜一に私が謝らない限り、彼は家には帰らないと言った。しかし、今回は私は気にしていなかった。彼が帰るかどうか、離婚するかどうか、もうどうでもよかった。数分後、私はSNSに投稿した。「自分を永遠に愛し、誰に対しても自由を許す」個室を開けた瞬間、竜一と会社の秘書が皆に冷やかされてキスをしていた。周りは拍手をしながら、「もっとキスしろ!もっと!」と叫んでいた。十秒ほど待ってから、目の前の二人がようやくゆっくりとお互いから離れた。遠くからでも、私の法律上の夫である彼が口元に笑みを浮かべたのが見えた。そして彼の向かいに座る渡辺真希は恥ずかしそうな表情を浮かべていた。彼女は隣で冷やかしてくる友人に軽く手を振りながら言った。「何言ってるの?桜井さんには奥さんがいるんだから、ゲームに負けてない限りキスなんてしないわよ」そう言いながら、真希はちらりと竜一の方を振り返り、彼がその言葉を聞いて平然としている様子を見て安堵の息を吐いた。そして振り返ったとき、ようやくドア口に立っている私に気づいた。「奥さん、いつ来たの?」真希は私の姿に驚いて目を見開いた。きっと先ほど起きた光景を思い出して混乱しているのだろう。彼女の顔に一瞬だけ動揺が走った。テーブルの下で真希は竜一の袖を引いた。彼女は私がその小さな動きが見えないとでも思ったのだろうが、テーブルは透けていた。真希と竜一のやりとりは全てお見通しだった。「なんでここに来た?」さっきまで騒いでいた連中が互いに顔を見合わせていた。竜一は眉間に皺を寄せ、それが彼のイライラの表れだと知っていた。私が答えずにいると、竜一はテーブルを越えて私の前に立った。「答えろ!お前に聞いてるんだぞ!」竜一の肩越しに、真希の瞳の奥にはには、まだ挑むような光が宿っていた。確かに、会社の中では誰もが知っている。これまでずっと私が追いか
Baca selengkapnya
第2話
ぼんやりとした意識の中で、竜一が友人たちを引き連れて次のパーティーに急いでいくのが見えた。そして、竜一が電話の向こうのアシスタントに向かって冷たく命令する声も聞こえた。「彼女を家に送ってくれ」過去の思い出が一瞬にして私の脳裏に甦った。私は我に返り、竜一の返答を待たずに彼を避け、バーを出て行った。おじい様の伝言は伝えた。行くかどうかは彼の自由だ。竜一の前で、私はこれまで一度も不機嫌な顔を向けたことがなかった。これが結婚してからの初めてのことだった。バーを出た後も、竜一はドアのところで呆然と立ち尽くしていた。車に乗った途端、竜一から電話がかかってきた。「ただ友達同士の冗談だよ。そんなに怒るなよ」竜一の最初の一言は、私の行動に対する質問だった。挨拶もなく去った私の行動で少し恥をかいたようだ。私は心苦しく感じた。友達同士だからこそ、こんなにも親密になれるのか。それなら、私たちも友達と呼べるのだろうか。電話の向こうで、彼の友人たちのからかいが聞こえた。「桜井さんが帰ったら、奥さんまた抱きついて泣くだろうな」「恋人の頃は別れないでと泣いて、結婚したら離婚しないでと泣く。笑っちゃうよ」「静かに、桜井さんまだ電話の途中だよ」世間はこう言う。誰かが本当にあなたを愛しているかを見るには、その人の友達があなたに対する態度を見るべきだ。明らかに目の前にあることなのに、私はいつもそれを無視してきた。「戻って、真希に謝れ。彼女を困らせたんだから」「謝らないなら、僕は戻らないからな」竜一の私に対するいつもの脅しの言葉を聞き、私は思わず笑ってしまった。「どうでもいいわ」以前はこの言葉で脅しがきいたのは、私が彼を愛していたからだ。でも今は、こんな状況を続けるのはもういやだ。竜一の電話を切った後、私はスマホを取り出した。真希も私が去った後新たな投稿をしていた。写真は一人の男性がワイングラスを持つ手。キャプションは、「誰かはいつもあなたの側にいる」竜一と長い時間を過ごしてきた私は、すぐにその写真の中の手が誰なのか分かった。ましてや、彼の右手には私たちが結婚した時の指輪をはめていた。もう傷つかないと決めたのに、この投稿を見た瞬間には涙が滲んだ。竜一のいいね!のアイコンが目
Baca selengkapnya
第3話
深夜、竜一が突然帰宅した。振り向いた瞬間、彼は私を押し倒した。月明かりの下で、竜一の顔に怒りが満ちていたのが見えた。何も言える余裕もなく、彼の唇が私の体を覆い尽くした。「お前、わざとだろう?」「俺との子供がそんなに欲しいのか?おじいさんを使って脅したつもりだろ?」「藤宮花穂、お前の勝ちだ。望むがままにさせてやる」竜一の力は強すぎて、どんなに抵抗しても彼を振り払うことができなかった。その夜、私はまるで操られ人形のように彼のすべての行動に合わせなければならなかった。彼の触れ方やキスは全ては気持ち悪く思えた。耳元で竜一の低い声が響いた。「嫌か?」「おじいさんを利用して俺を戻そうとしたんだろう?何を装っている?」私は枕に顔を埋めて、声を出さないように泣いた。私は後悔した。竜一とは幼馴染みとして育った。彼はいつも私に優しくしてくれた。しかし、両親が桜井家に対して私と竜一が一緒になることを提案した後、彼はまるで別人のようになった。彼はもはや笑顔で私の額を撫でて、「最近、お腹の調子はどうだ?」と聞くこともなくなった。代わりに、パーティーで大勢の前で、半分注いだ赤ワインを渡してきた。それは桜井のおじいさんの誕生日を祝うためと称して、私にそれを全部飲ませるためだった。その晩、竜一は深く酔っていた。しかし、桜井のおじい様は私に電話をして、竜一を迎えに来るように頼んだ。窓の外は明るく灯りが輝いているのに、室内はぼんやりとしていて、ただ竜一の姿だけが見えた。「そんなに俺と一緒にいたいのか?」その言葉を聞いたとき、私の心はほぼ飛び出しそうだった。彼の言葉の冷たさにはまるで気づかなかった。次の日の朝、私は全身に痛みを感じた。起き上がると、すでに竜一の姿はなかった。部屋は散らかっていて、布団は床に落ちていた。私は裸のまま、一枚の布さえもかぶっていなかった。憤りに押しつぶされそうになったが、それでも私はそのまま進んだ。結婚後の生活が私たちを以前のように戻してくれると思っていたのがあまりにも世間知らずで幼稚だった。しかし、彼がこれほどまでに私を嫌うとは思わなかった。「なぜ私達はうまくやっていけないの?」私は堪えきれず、低い声で問いかけた。竜一の動きが止まり、それ
Baca selengkapnya
第4話
それ以前に、私は一度桜井家の邸宅を訪ねる機会があった。桜井のおじい様の書斎で、彼は眉をひそめていた。「お嬢ちゃん、もし何か不満があれば、おじいさんが責任を取るから安心していいよ」「しかし、離婚は簡単なことではない。桜井家と藤宮家の関係は深く結びついているんです」桜井のおじい様の言葉一つ一つが私の胸に重く響いた。彼が言うことは理解している。しかし、もうこれ以上続けるのは難しい。ガツンという音がした。私はそのまま桜井のおじいさんの前で膝をついた。「おじい様、私はもう決断しました」私の力強い声が書斎中に響き渡った。私は彼の目を見据え、孫娘としてではなく、個人として話をした。「離婚後も、桜井家と藤宮家の関係は変わらず、私は桜井家の唯一の娘です。皆私の幸せを願っています」離婚の話は桜井のおじい様の許可を得るためではなく、敬意を表するために話しただけだ。桜井のおじい様はなかなか口を開かなかった。私は静かに床に跪いて彼の返事を待った。しばらくして、彼は立ち上がって私を起こしてくれた。「お嬢ちゃん、君に不当な扱いをしたのは桜井家だ」「離婚のことは君はもう苦しむのはない。何か要望があれば何でも遠慮なく言ってくれ」桜井のおじい様の言葉がある以上、竜一の意見など重要ではなかった。昼食時には、桜井のおじい様のリクエストで、一緒に食事をした。食事の途中で電話が鳴った。「今日はどうして料理を作ってくれなかったんだ?」竜一の言葉に私は一瞬固まった。すぐに思い出す。彼は以前にも私の料理を食べたことがあるから、毎日天野さんが彼に持っていく料理が誰の手によるものか気づかないわけがない。私が口を開く前に、桜井のおじい様は私の手から電話を取り上げてスピーカーモードにした。意外にも、電話の向こうから真希の声が聞こえてきた。「竜一、私が料理を作ったから、食べてみて」「前に天野さんが用意してくれた料理に飽きたと言ったわよね?」真希の言葉を聞いて、私は平静を保った。しかし、内心では自分を嘲る気持ちがあった。彼はとっくに飽きていたんだ。「食べたくないなら飢え死ぬがいい!」「いったい誰が偉いと思っているんだ?嫁を迎えておいて、こんな扱いをするなんて!」「こんな怪しい女に手を出すなんて、覚悟してお
Baca selengkapnya
第5話
竜一は質問することもなく、鈴木弁護士の手首を掴んだ。そして私の方を振り返った。「そんなに急いでいるのかい?」「おじいさんが昼に全部教えてくれた。お前、午後から他の人とデートに行くのか?」竜一是私の耳元で囁いた。「一生懸命俺と結婚するために努力したくせに、今度は別の男のために離婚するつもりかい?」彼の言葉が終わると同時に、私は竜一の顔を殴った。鈴木弁護士が説明しようとしたが、激怒した竜一に一撃され、床に倒れた。離婚資料も手からこぼれ落ちた。「あなた、気が狂ったの?彼は私が雇った弁護士よ!」私は彼を止めようと前へ出たが、怒り狂った竜一は私の言葉など聞こうともしなかった。次の瞬間、私のお腹に激しい痛みが走った。ぼんやりとした意識の中で、私は竜一が青ざめた顔で私のもとに駆け寄るのを見た。「花穂、大丈夫、すぐに病院に連れて行くから」「すぐに行くから、怖がらないで」再び目を開けたとき、私はすでに病院のベッドで横になっていた。私が目を開けると、竜一は焦った様子で私の手を取った。「具合が悪いところはないか?もし具合が悪かったらすぐに言ってくれ」その瞬間、私は一瞬戸惑った。まるで昔、私に優しかったその人が目の前にいるかのようだった。しかし、真希の声で現実に引き戻された。目の前のこの男はかつて私に優しかった人ではない。「花穂さん、桜井さんと前回は遊びで冗談を言っていただけです」「本気にしないでください、私のせいで機嫌を損ねるのはよしてください」真希も床に落ちていた離婚資料を見てしまった。たとえ一秒たりとて、彼女の顔に浮かんだ喜びを私は見逃さなかった。「だったら、あなたのSNSの投稿も冗談なの?」私の言葉はストレートで、おそらく真希も私が竜一の前でこれを直接尋ねるとは思わなかった。彼女はしばし呆然としてから、媚びるような笑みを浮かべた。「私は他の人のことを書いていたの」言い終えると、真希は俯き、心虚そうにしていた。竜一も眉をひそめ、真希が投稿したその手の主は誰なのかを知っている。三人ともその事実は心の中にある。私は竜一の手から自分の手を抜き、彼を見つめた。「離婚しましょう」予想外にも、竜一は笑って立ち上がり、私の額を撫でた。「何を言ってるんだ、お前は
Baca selengkapnya
第6話
竜一が去った後、彼が私に言った言葉がまだ頭から離れなかった。彼が一夜にして別人のような態度になったのも無理はない。全て私が原因だったからだ。その時、竜一にはすでに好きな女性がいた。彼と同じクラスの一人だった。その人は真希だった。竜一が起業した後、真希は当然のように彼の会社に入り、経理となった。しかし、竜一が真希に正式に告白しようとした直前のことだ。私の両親が桜井のおじい様を訪ねた。「あの娘はお前に向いていない。お前の会社なんぞは桜井家にとっては大したことない」「もしお前の会社がなくなったら、真希はお前の側に残ると思うか?」これは桜井のおじい様が彼に言った言葉だと、竜一は私に教えてくれた。桜井のおじい様が望めば、竜一の会社は一夜にして元の状態に戻される。口に出せないの気持ちがそこで封じ込められてしまった。そして私は、当然のように、竜一が実現できなかった恋を晴らすための道具となった。竜一が言った言葉を聞いて、私は笑いが出てきた。そして同時に哀しくなった。私が彼の提案に応じる前に、竜一はテーブルの上の離婚協議書を取って行った。それから彼は病院に来るどころか、一度も顔を出さなかった。退院して家に帰り着いたとき、キッチンで見慣れた後ろ姿を見つけた。空気中に焦げ臭さが漂っていた。ドアを閉める音が聞こえたのか、竜一はキッチンから慌てて出てきた。手に持っていたフライパンのヘラも忘れていた。「おかえり、お前の一番好きな角煮を作ったよ」そう言いながら、竜一は私のバッグを受け取ろうとした。しかし、私は体を傾けてそれを避けた。「食べたくないから、自分で食べて」階段を上るとき、視界の隅で竜一が拒絶された後、ぽかんと立ち尽くしている姿が見えた。唇を強く噛み締め、落胆の表情を浮かべている。だが、私の心の中では皮肉な思いが湧き上がった。竜一、あなたも悲しむの?ただの一度でそんな顔をするなんて、私はずっとこんな思いを繰り返し経験してけたのよ。寝る前に、竜一は私の部屋に来た。「花穂、温めたミルクがあるから飲んでから寝なよ」私は竜一が一歩一歩近づいてくるのを見つめ、ミルクの香りが鼻を刺激した。それで気持ち悪くなってきた。竜一はミルクを置くと、急いで私の背をさすり始め
Baca selengkapnya
第7話
竜一は表面上は私に一ヶ月の猶予を与えると言いつつ、私を裏切って妊娠の事実を親戚たちに伝えてしまった。全員の前で、私は顔をしかめた。竜一を呼び出して、「どういうつもり?なぜ皆に私が妊娠していると言ったの?」「竜一、あなたは私を追い詰めたいの?」と問い詰めた。しかし、竜一はまるで私の言葉が聞こえていないかのように、ティッシュを取り上げて私の顔を拭き始めた。「汗をかいているよ、暑いんじゃないか?」竜一が答えようとしないので、私はそのまま彼を避けて外に出ようと歩き始めた。しかし、ドアの前で彼に手首を掴まれてしまった。「ただ、あなたと一緒にいたいだけなんだ」「あの日の夜に言ったように」私の心が揺らぎ、呼吸が速くなった。もし竜一がこの言葉をもっと早く言っていれば、少しでも早く。私は本当に彼と一緒に居続けたかもしれない。だけど、もう本当に疲れてしまった。もう試すのはやめたい。私は何も答えずに手を振り、そのまま彼を避けた。しかし、思いのほか力が強すぎたのか、竜一の手が壁の角に当たり、すぐに血がにじみ出た。「あら、花穂、早く竜一さんの手当てをしてあげて」いつの間にか、母が私の背後に立っていた。突然の言葉に私は固まった。「お母さん、大丈夫です。花穂さんは妊娠中なので、血の匂いが苦手なんです」竜一は私をかばってくれた。本来は私を心配してくれる言葉のはずなのに、なぜか私の心は冷たくなるだけだった。これらすべての心配や気遣いは私自身のためではなく、私が妊娠しているからなのだ。竜一は私を苦しめるつもりはないのかもしれない。でも、バーで胃の調子が悪い私に強制的に赤ワインを飲ませて、病院に運ばせたのは誰だ。これらはどうやって忘れろというのだろう。私は何も答えずに、ただ一瞥をくれただけで、そのまま朝食を食べるために出て行った。久しぶりに心地よく朝食を食べることができた。良かった。部屋に戻ると、鈴木弁護士から修正された離婚協議書が届いていた。竜一が言った一ヶ月の猶予は彼の一方的な要求で、私は承諾していない。スマホを眺めていると、母が静かに部屋に入って来た。「花穂……もしかして、もう竜一さんと一緒にいたくないの?」母の率直な言葉に私は一瞬呆然とした。しかし、彼女
Baca selengkapnya
第8話
竜一の目が一瞬傷ついたように見えた。私は手を振り払おうとしたが、逆に彼に強く握られた。私が痛みを装うと、彼は慌てて手を離した。数分後、竜一は一枚の契約書を持って私の前に立った。それは株式譲渡契約だった。私は彼を見つめながら、首を傾げた。次の瞬間、竜一は私の前に片膝をつき、ゆっくりと私の手を取り上げた。「ここにある株は僕が会社で持っているすべての株だ。全部あげるから、どうかな?」言い終えると、竜一は期待に満ちた目で私をじっと見た。まるで私が喜んで彼を抱きしめ、過去三年間で彼が私に対してしたことすべてを許すのを待っているかのようだった。「いやです」私の答えに、竜一の笑顔が凍りついた。私の手を握る力も強くなった。「じゃあ、何をすればいい?教えてよ」「真希を追い出して」私は彼の言葉に続いて言った。実際、私にとって、竜一の株式や金銭は問題ではなかった。真希を追い出せるというのもただの一時的な思いつきに過ぎなかった。しかし、言葉が出ると同時に、明らかに竜一の体が一瞬硬直した。「違う条件にしてくれない?」竜一は焦ったように言った。まるで何でも私に与えられるかのように。ただ、真希を会社から追い出すことはできないようだった。もう竜一のために傷つくことはないと決めたのに、彼の反応を見て、心が痛んだ。「なら、離婚協議書にサインして」私はバッグから修正された離婚協議書を取り出し、竜一の前に置いた。しかし、彼はそれを一瞬で奪い取り、破り捨ててゴミ箱に捨てた。「竜一、もし私が何かあなたに負っていたとしても、この三年で全部返済したわ」「あなたはもう一人で立てる。離婚後は誰とでも一緒にいられるわ」私は目の前の法律上の夫をまっすぐに見つめて、心から尋ねた。「これで良くない?」しかし、竜一の答えは私のものと同じだった。「良くない」その日から、竜一は時間があると必ず家に帰って私を見舞った。朝は自分で朝食を作り、川端さんに電話をして私がきちんと食事をしているか確認した。体調が良いか尋ねた。しかし、彼がそうするたびに、私はますます苦しんだ。ある時は思う。もしお腹の子供がいなければ、私はもうすでに離婚できたのではないかと。もし竜一が離婚協議書にサインする
Baca selengkapnya
第9話
メッセージを見たとき、私は思わず笑みを浮かべそうになった。真希は今、離婚したくないのが竜一だということを知っているのだろうか。「もし彼があなたと一緒になりたければ、あなたがわざわざ私を探しに来る必要はないんじゃない?」私が送ったメッセージには真希は返事をしなかった。おそらくどう返すべきかわからないのだろう。それでも感謝する、そうでなければ、竜一が言っていた『付き合い』が、まさかこんな『付き合い』だったなんて知る由もなかったから。思ってもみなかったのが、その日の午後、家に不速の訪問客が来たことだ。川端さんは私を訪ねてきたのが真希だと伝えるとと、すぐに彼女を通し、買い物に出かけてしまった。私が寝室から出てきたとき、彼女はすでにそこにいた。「何の用?」真希は笑顔で、まるで将来の家を観察するかのように、周囲を見回していた。「綺麗だね、まさに私が夢見たような内装よ」私が無表情な様子をしていると、真希の顔色が一変した。指を突きつけ、大声で叫び始めた。「ここに住むべきは私なの!これは全て私が好きなデザインなのよ!」「私と竜一はお互いに好き同士で、あなたがいなければ別れたりしなかったのに!」結婚するとき、私は一度、竜一にこの家の内装が好きではないと伝えていた。「両親が新しいマンションのことを話してくれた、お前の会社や私のスタジオにも近いから、どうだろう……」「この家はお前のためじゃなかったんだ」竜一がそう言ったとき、彼の顔は暗かった。当時は単純に私が好きではないと思っていたが、実は真希のために用意していたのだ。私は自嘲気味に思った。だからこそ、竜一は離婚と彼女を解雇する間で選ぶことができなかったのだ。「そんなんどうだっていいじゃない。ここに住んでいるのはあなたじゃないんだから」私の反応が全く予想外だったようで、真希の顔色が一瞬動揺した。もし真希と竜一の過去を数日前に知らなければ、今頃は彼女の前で崩れ落ちていたかもしれない。「?」「だから離婚もせず、竜一に私を解雇するように言ったんでしょ?」私は少し驚いた。竜一が彼女に本当にその話をしたとは思わなかった。しかし、真希に説明する必要はなかった。「川端さんを探してるの?」「彼女は外出してるわ、今はこの家には私たち二人
Baca selengkapnya
第10話
耳に声が届き、私はゆっくりと目を開けた。周囲はたくさんの人々でいっぱいで、向かいには竜一がいた。私の名前を呼んだのは母だった。私が目覚めた途端、すぐにお腹に手を伸ばした私を見て、母の目が潤んだ。「もういないの……?」私の問いに対する答えはなく、長い沈黙の後、竜一は小さく頷いた。「花穂、これからも……」パチンと音がして、父が竜一の顔に平手を打ち付けた。彼の言葉を途中で遮った。桜井の祖父は横で一切動かないままだった。この子がいなくなってしまった。私の心は激しく痛みを覚えた。向かいの竜一を見つめ、私はゆっくりと口を開いた。「お父さん、お母さん、竜一と二人で話したい」出る寸前に、母が離婚協議書を手渡した。竜一の目がそれを見て鋭く光った。二人きりになると、竜一は私の手を引き、私の前に膝をついた。「ごめん、ごめん、花穂、すべて俺のせいだ」「すべて俺のせいだ、あなたを守るべきだった、俺たちの子供を守るべきだった!」言い終えたと同時に、彼は自分の顔を何度も殴りつけた。私は手を引くことなく、ただ冷たく彼を見つめていた。あの日、竜一は嘘をついた。彼は接待などしていなかった。彼は真希と以前よく訪れていた湖のほとりで待ち合わせた。そこで彼は、「過去のことだ、花穂は妊娠している」と伝えた。だが、真希は誤解した。「あなたたちには愛情なんてないじゃないか、家族のために一緒にいるだけじゃない?」「私は構わない、竜一、あなたの気持ちを知っているわ」真希への気持ちは、竜一はすでに気づいていた。それゆえ彼女が以前私を露骨に挑発することを許してきたのかもしれない。しかし、その日、竜一は彼女の手を払いのけた。「俺は彼女を愛している、彼女と一緒に幸せになりたいんだ」竜一がその日のことを話し始めたとき、私は思わず笑みを零した。「あなたの愛は本当に価値がないわ、誰かにあげなさい」彼が説明しようとしたが、私が遮った。「私が最近になってあなたと真希のことを知ったと言ったら信じる?」彼の顔に驚きが走った。彼にも想像できなかったかもしれないが、もう関係なかった。「私はあなたに何か借りがあるとは思わなかったけど、違うわ」私は竜一の目を見つめながら、一文字ずつ告げた。「あ
Baca selengkapnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status