Masuk時は大正時代。とある日不思議な笛の音色に導かれた青年、宮森司は、満開の桜の下で天女のような絶世の美女に出逢う。どうやらその美女は桜の精霊らしくて……。 これは桜の精霊と優しい青年が送る、切なくて儚いラブストーリーである。散りゆく桜のような一瞬の恋物語を楽しんでいただけたら幸いである。 ※表紙イラストはイラストレーター「ヨリ」氏からご提供いただいた。ヨリ氏は保育士をしながら作品制作を行っている。 氏のInstagramアカウントは@ganga_ze
Lihat lebih banyakGyan melirik tajam saat seseorang dengan kencang mengempaskan diri tepat di belakang kursinya. Matanya menyipit ketika kemudian sebuah suara dengan nada kesal terdengar.
"Sumpah ya, gue udah mikirin ide setengah mampus buat promosi malah proposal ditolak mentah-mentah. Nggak dilirik sama sekali lagi."Itu suara wanita yang barusan duduk tepat di belakang meja Gyan. Gyan tidak bisa melihatnya secara langsung karena posisinya memunggungi si pemilik suara."Proposalnya kurang menarik?" tanya wanita lain, lawan bicara wanita tukang ngomel tadi."Kalau nggak menarik ngapain diajuin. Ini sudah terhitung dua kali proposal gue kena tolak. Direktur Keuangan baru kita beneran medit. Dulu kayaknya Pak Bambang nggak gini deh."Telinga Gyan langsung tegak. Dia bergerak sedikit, memperbaiki posisi duduk. Pembahasan dua wanita itu terdengar menarik. Bukan bermaksud menguping, tapi obrolan mereka terdengar jelas dari posisinya duduk."Mungkin bagi dia ide lo nggak berpotensi menarik konsumen."Diam-diam Gyan tersenyum mendengar si wanita kedua berpendapat."Enak aja!" Wanita pertama langsung membantah. "Ide gue selama ini berlian semua ya. Dan Pak Bambang dulu nggak pernah kecewa menggelontorkan dana perusahaan buat promosi yang tim marketing B buat."Gyan melengkungkan bibir seraya menaikkan alis. Dengan santai tangannya kembali berkutat dengan garpu dan piring."Emang pada dasarnya aja itu direktur baru pelitnya nggak ketulungan. Ya kali budget segitu aja nggak di-acc. Nggak bakal bikin bangkrut Blue Jagland juga kan? Bahkan dua tahun belakangan marketing ngajuin budget lebih dari itu. Eh, si sok paling hebat itu malah minta dipangkas lagi."Kepala Gyan meneleng mendengar lagi-lagi wanita pertama ngatai si direktur."Jangan kencang-kencang. Nanti ada yang denger terus tembus ke telinga orang keuangan. Urusannya berabe," ujar wanita kedua pelan. "Lo udah denger kan gosip yang beredar?""Apaan?" Suara wanita pertama terdengar tidak tertarik."Katanya direktur keuangan kita anak pertama presdir yang terkenal killer dan dingin di Blue Jagland Kanada. Lo mending nggak usah berurusan sama petinggi kalau masih mau kerja di sini."Gyan mengangguk-angguk, lantas meraih gelas. Baru saja bibirnya menyentuh pinggiran gelas, dia dikejutkan suara cempreng wanita pertama lagi."Huh, gayanya killer tapi masih berlindung di ketiak bapaknya. Buat jadi orang killer gue juga bisa kalau ada backingan."Dengan kasar Gyan mengembuskan napas, tidak jadi meneguk minumannya."By the way lo udah pernah liat dia belum?""Nggak tertarik liat. Apa sih menariknya anak yang aslinya manja tapi sok killer di depan para bawahannya?"Kali ini Gyan menarik napas panjang, dan tidak berniat melanjutkan makan. Selera makannya raib seketika."Jangan sekata-kata. Gue jadi pengin tahu reaksi lo kalau liat atau ketemu direktur baru itu.""Kalau gue ketemu dia gue bakal protes habis-habisan soal proposal gue yang dia tolak. Kalau perlu gue suruh dia tanda tangan langsung."Wanita kedua tertawa geli mendengar kesongongan wanita pertama.Sementara itu, Gyan yang masih diam-diam di belakang kursi mereka melempar tisu ke atas piring setelah mengelap mulutnya. Dia tak bernafsu lagi melanjutkan makan dan memilih berdiri, meninggalkan meja.***"Sella, tolong suruh orang marketing bawa kembali proposal mereka ke meja saya," pinta Gyan sambil lalu saat melewati meja sekretaris."Baik, Pak." Wanita yang bernama Sella pun menelepon orang marketing. Namun, baru saja mengangkat gagang telepon, Gyan yang akan menekan handle pintu berbalik, membuat Sella mendongak lagi."Pastikan yang bawa proposal itu ke depan saya adalah orang yang bikin proposal tersebut. Kalau nggak salah dari tim B," ujar Gyan sebelum benar-benar menekan handle pintu dan masuk ke ruangannya."I-iya, Pak."Tidak lama setelah panggilan Sella berakhir, salah satu staf marketing datang. Sella mendongak dan melihat Resta nongol di depan. Dia agak sedikit terperanjat melihat wanita itu."Resta, jadi lo yang bikin proposal?" tanya Sella tampak kaget. Resta masuk ke perusahaan ini berbarengan dengan Sella. Tapi Sella lebih beruntung karena bisa lolos seleksi sekretaris. Sementara Resta harus puas hanya menjadi staf marketing.Resta mengangguk sambil mendekati meja Sella. Dia memeluk sebuah dokumen. "Jadi, kenapa proposal diminta lagi?" tanya Resta kepo. Dan yang mengherankan dia sendiri yang disuruh langsung membawa ke depan direktur keuangan."Gue nggak tau, Res. Mungkin Pak Gyan berubah pikiran," ucap Sella sambil tersenyum penuh arti, yang mau tak mau membuat Resta ngeri sendiri."Ini nggak buat bantai gue, kan?"Sella meringis. Ekspresinya bikin Resta bisa menebak kemungkinan buruk yang akan dia hadapi. Menurut Joana—teman sesama staf marketing—direktur baru keuangan itu killer dan berhati dingin. Apa mungkin dia akan selamat setelah masuk kandangnya?"Pak Gyan itu kayak gimana sih? Denger-denger dia—" Resta menghentikan pertanyaannya saat Sella tiba-tiba mengibaskan tangan."Udah nggak usah dipikirin. Mending lo temui Pak Gyan sekarang keburu dia ngamuk. Gue yakin lo bisa hadapi dia. Lo kan terkenal pemberani." Sella berdiri, mendorong bahu Resta menuju pintu ruangan. Terakhir dia menepuk pundak Resta. "Semangat, ya," ucapnya sebelum balik ke mejanya lagi.Ucapan semangat Sella malah bikin nyali Resta menciut. Namun sebelum mengetuk pintu dia menguatkan hati bahwa semua akan baik-baik saja. Bukankah ini waktunya membeberkan semua kreativitasnya—yang sempat dilepeh—di depan direktur keuangan itu? Resta jelas tidak suka diremehkan. Selama ini ide-ide promo yang dia lontarkan selalu menarik, dan perusahaan menerima dengan baik.Resta mengangkat tangan, brakelet yang dia pakai terlihat ketika tangannya mengetuk pintu. Anyway, dia juga penasaran rupa direktur keuangan yang tega menolak proposalnya. Benarkah seperti yang dihebohkan orang-orang di perusahaan ini?Suara dalam seseorang yang menyuruhnya masuk terdengar. Dia lantas mendorong knop pintu setelah sebelumnya menarik napas panjang. Dan begitu masuk ke ruangan itu dia tertegun di tempat. Mata bulatnya refleks mengedar takjub melihat interior luar biasa ruangan itu.Ruangan direktur saja bisa sebesar dan semewah ini, lalu bagaimana ruangan milik pucuk pimpinan tertinggi ya?Tidak ada meja kerja kecil dan satu kursi putar seperti yang ada di kubikelnya. Saat Resta masuk dia malah menemukan sebuah ruangan dominasi warna putih dengan satu set sofa abu-abu yang bagian bawahnya terhampar karpet senada dengan warna sofa. Dinding di sisi kiri terdapat lukisan abstrak besar yang Resta tidak tahu maknanya. Melirik sedikit ke depan ada rak partisi yang—"Kamu di sini bukan untuk mengagumi ruang kerja saya."Resta terkejut bukan main saat seseorang tiba-tiba muncul di depannya. Tatapannya yang tadi sempat berkeliling ruangan berpusat pada satu sosok menjulang dengan iris mata yang menarik.Untuk beberapa saat Resta terbengong menyaksikan manusia berwujud malaikat itu di depan matanya. Tunggu, mungkin dia bidadara dari surga yang datang untuk menyuburkan bumi?Pria di depannya mengerutkan kening, lalu menjentikkan jari ke depan muka Resta hingga wanita itu tersadar.Resta gelagapan sendiri. Kesadarannya yang sempat terbang kini kembali lagi. "Se-selamat siang, Pak. Saya dari marketing un—""Mana proposal itu?" tebas Gyan langsung. Mata birunya diam-diam memperhatikan wajah wanita yang sudah berani menjelekkannya di kantin perusahaan."Hm, ternyata biasa saja. Tapi mulutnya benar-benar tidak bisa dikendalikan," ujarnya membatin."Ini, Pak." Wanita dengan kucir rambut ekor kuda itu menyerahkan proposalnya dengan sopan. "Kalau ada hal yang ingin Bapak tanyakan, silakan."Gyan membawa proposal itu ke mejanya, dan mulai membuka isinya. Sesekali dia melirik Resta yang masih berdiri dengan kepala menunduk. Daripada proposal itu, Gyan lebih tertarik melihat wajah Resta yang sudah mirip tikus kejepit itu. Mulut besar wanita itu ke mana?Dia melempar proposal itu ke meja, membuat Resta terperanjat. Mata bulat wanita itu langsung melirik proposalnya yang teronggok seperti barang tak berguna."Tolong jelaskan ke saya apa menariknya ide di dalam proposal itu hingga saya perlu menandatanganinya?" tanya Gyan retorik. Dia dengan jelas melihat wajah gugup Resta yang masih bertahan berdiri."Ide yang saya buat belum pernah dipakai perusahaan mana pun untuk promosi, Pak. Ide saya fresh dan mudah menarik perhatian," jawab Resta lantang. Meski sempat terintimidasi akhirnya dia bisa kembali mendapatkan rasa percaya dirinya."Fresh?" Gyan menarik salah satu sudut bibir. Terlihat meremehkan. "Kamu tahu alasan kemarin proposal itu bisa balik lagi ke marketing?""Anda bahkan belum melihat isinya kemarin.""Siapa bilang?"Tatapan mereka bertemu. Sejenak Gyan bisa melihat mata bulat itu bersinar terang. Dari sana pria itu bisa menebak selain bermulut besar, wanita itu sepertinya pantang menyerah. Gyan ingin tahu seberapa hebat wanita itu bisa berjuang._______Hay, Om Daniel lovers. Om Daniel udah punya anak gede loh. Gyan Jagland yang bakal mewarisi Blue Jagland. Jangan lupa simpan di library dan tulis ulasan di sampul depan ya.桜の父が神官であることもあって、祝言の準備はすぐに始められた。儀式の日まで桜の実家、しかも桜の部屋に泊まることになったことは帝国男児たる司を緊張させたが、それ以上に気になったのは食事のことだった。桜と枕を共にしながら、司は聞いてみた。「なあ、この世界の食べ物を食べても大丈夫なのか?」「……? どうしてそんなことを聞くのですか?」「ヨモツヘグイというものがあるだろう? この世界の食べ物を口にしたら何かあるのかと思ってな」「ああ……」 桜はくすりと微笑む。妖艶というよりは童女のような純粋な笑みだった。「大丈夫です。同じ釜の飯を食った仲になるだけです」 それは家族として認められるということだろうか。 家族のいない司にはわからなかった。◆◆◆ そうこうしている間に祝言のときが来た。舞台は司がはじめてあやかしの国を訪れたときの神社だった。木花開耶姫命(コノハナサクヤヒメノミコト)を祀るその神社は、大日本帝国と同じく「浅間神社」と呼ばれているようだ。 白無垢に着替えた桜と用意してきていた黒紋付袴に白鼻緒の雪駄という礼装に着替えた司は、桜の親族や神官たちとともに浅間神社に向けてゆっくりと歩いた。 やがて神社のふもとまでたどり着くと、桜と司は着物の裾を踏まないよう慎重に階段を上っていく。 二人が本当の夫婦になるまで、あと少し。
あやかしの国の下町を桜と歩く司。街並みは長屋や賑やかな商店街が中心で、江戸時代にタイムスリップしたような感覚だ。あやかしたちの中には先ほどの狐とタヌキのような人間ばなれした獣人だけでなく、人間と変わらない見た目の住人もいた。だから桜と司も目立たずにいられた。 わけではなかった。司の着て来た背広はあやかしの国では珍しすぎたらしい。変わった着物だとじろじろ見られてしまった。人の視線がすきではない司には少々居心地の悪い時間が続いた。そんな司を、桜は気づかわしげに見る。「大丈夫ですか? 司様」「ああ……」「もうすぐ着きますからね」 神社から長屋と商店街を通り抜け、着いたのは司の家の三倍はあるお屋敷だった。屋敷の門の前でその武家屋敷のような建物を見上げていると、白銀の狐らしき獣人が声をかけてきた。「あらあら桜お嬢様。おかえりなさいませ。……おや、そちらの方は?」「梅さん、こちらは司様。わたくしの旦那様です」 黒いハットを脱ぎ、司が頭を下げる。「まあまあ、奥様! 奥様ー!」 梅がばたばたと屋敷に入ると、すぐに奥から落ち着いた薄紅色の着物を着た女性が出て来た。桜とは違い幼い感じのしない気品にあふれた立ち居振る舞いは、司に緊張感を与えた。「母様……」「……まさかあなたが人間を夫にするとは……嘆かわしい」 その言葉に司はむっとした。人間だからなんだというのだ。「人間など取るに足らない存在です。これから神になろうというあなたにはふさわしくありません」 司が何かを言うまえに桜は強い意志を感じさせる声でいった。「いいえ、人間は取るに足りない存在なんかではありません。儚い命だからこその輝きがあるんです」 桜と母親がにらみ合う。やがて苦笑した。「まったく、こんな頑固な女のどこがいいの? 人間さん?」「すべてです」 司ははっきり言い切った。それに機嫌を良くしたのか母親はカラカラと笑った。「お前さん、良い男だね」 司にはよくわからなかったが、どうやら桜の母親は彼を気に入ったようだ。司と桜は、屋敷の敷居をまたぐことを許された。◆◆◆ 居間に通された、司と桜の二人は並んで座り、その対面ににこにこしている桜の母親が座った。梅がお茶を用意すると、司は桜の母親に深々と頭を下げてからいった。「改めまして、宮森司と申します。遅くなってしまい申し訳ございません
桜も少し散り始めた頃。普段なら桜との別れを悲しむ時期だが、今回は違った。「あやかしの国」という未知の場所に行き、愛する人を産んでくれた人に挨拶するのだ。昨夜は緊張でよく眠れなかったが、桜は熱心にあやしてくれた。「では参りましょう」 桜柄の薄紅色の着物に少し化粧をした桜はいつもよりさらに美しかった。着なれない背広姿の司は隣にならんで違和感はないかと心配だった。そんな司の心配をよそに、桜は彼を庭に植樹された桜の木の方へといざなう。「目を閉じてください。ゆっくり呼吸をして。次に瞼を開いたときには、そこはあやかしの国です」 司は言われるがまま、目を閉じる。深呼吸をしながらゆっくりと瞼を開くと、そこは桜と出逢ったあの桜の木の下だった。いや、少し違う。広い空き地になっていた場所に、小さく古いが神社がの社殿があった。住民に愛されているのだろう。綺麗に掃除がされていて、子どもたちが遊んで……。「!?」 野良着で遊ぶ子どもたちは、狐やタヌキの顔をしていた。「妖怪……」。司はそう思った。「あー、おねえちゃんだー」 狐やタヌキの顔をした子どもたちが桜に気づいて寄ってくる。そして隣にいる背広姿の司にも視線を向ける。「この人だあれ?」狐の女の子(女児の着物を着ていたからおそらく)は桜に聞いた。桜は幸せそうに微笑む。「わたくしの……旦那様ですよ」「へえ……」 狐の女の子は興味津々といった様子だが、タヌキの男の子のほうはまだよくわからないようだ。「さて、ようこそ司様。あやかしの国へ。歓迎いたしますよ」 桜が手を握ってくる。これから本を読むのとは違った冒険が待ち構えていると思いながら、司も手を握り返した。
ある月の綺麗な夜。 司は月に照らされた桜の花を眺めながら、酒を飲んでいた。お酌をしてくれる美しい女性の名も「桜」、桜の咲いているときだけ姿を見せる司の妻だった。司はふと気になったことを聞いてみた。「なあ桜」「はい?」「桜が咲いていないとき、お前はどうしているんだ?」「そうですね……」 桜は少し考えたあと、いたずらっぽく笑った。「あやかしたちの住む世界に行っている、と言ったら信じてくださいますか?」 司は一口また酒を飲むと、月に目を移す。「月がきれいですね」という勇気はなかったので、別のことを言った。「あやかしの世界、行ってみたいものだ」 哲学が専門だが妖怪の話が司は好きだった。だからこの言葉は本当だ。桜は少し考えたあと、やはり微笑んだ。「では行ってみますか? 母に会ってほしいですし」 その言葉に司はびくりとする。彼女の母親に会う。それは結婚してしまってからの挨拶ということで順番がおかしい。何事も礼儀作法を守りたい司としては気になるところだった。しかしこのまま挨拶しないわけにもいかない。司は、桜のついでくれた酒を一気に飲み干すと、覚悟を決めた。「わかった。会わせてくれ。お前の母に」「はい」 桜はうれしそうに微笑んだ。二人だけの静かな宴は、司に緊張感を与えたまま続いた。