로그인この世界に転生してきたとき、システムは朝月詩乃(あさづき しの)に一つの能力を授けた。 それは、自分以外の誰かの願いを叶える力だった。 そして、九年にわたる夫婦生活を共にした夫、一ノ瀬慎也(いちのせ しんや)の誕生日パーティーで、詩乃はこの能力で慎也の願いを叶えて、誕生日プレゼントとして贈ることにした。 詩乃は何度も心を込めて慎也に、三十歳の願いはきっと叶うから、よく考えてから願いを言うよう伝えた。 慎也は笑ってうなずき、両手を合わせて、敬虔に願いを込めた。 そのあと、システムが詩乃に慎也の願いを聞かせてきた。 「詩乃の命と、栞の命を交換できますように」 ……
더 보기“Kembali lagi di acara Lumpi bersama saya Feni Mawar.” ucap seorang pembawa acara yang diselingi oleh tepuk tangan penonton. “Saat ini di samping saya ada seorang model kenamaan Indonesia. Kebanggaan kita yang sudah berhasil masuk ke jajaran model internasional. Siapa lagi kalau bukan Zanna Ags.” serunya lagi. Lalu seorang model cantik di sebelahnya disorot oleh kameramen.
Tepuk tangan penonton menjadi riuh. Senyum bahagia terpancar untuk menyambut kehadiran sang bintang tamu yang luar biasa dinantikan.
“Halo, sayang!” sambut Feni Mawar.
“Jadi, kenapa ganti nama dari Zanna Agustian menjadi Zanna Ags?” tanya Feni Mawar memulai wawancaranya.
“Gak ada masalah apapun sih, mbak Fen, terlebih Agustian kan nama orang tua ya. Cuma ‘Ags’ itu kan biar terdengar lebih internasional. Kan saya baru saja memulai karir saya di internasional, mbak Fen.” Jawab Zanna dengan sopan. Membuat kagum seluruh penonton yang ada di studio.
“Terus saya kan punya kembaran, mbak. Jadi biar mereka gak terbebani dengan embel-embel Agustian. Kasihan mereka jadi gak nyaman jika harus disandingkan dengan saya.” tambahnya lagi dan langsung mendapat respon tak terduga dari penonton.
“Kamu punya kembaran?” selidik Feni Mawar mewakili rasa penasaran yang juga ditunjukkan oleh penonton. Tatapan host ternama itu ke Zanna bak segerombolan hyena yang mencium aroma bangkai.
“Iya, saya lahir kembar tiga dan saya yang tertua.” jawab Zanna sembari memamerkan gigi rapinya.
“Coba dong cerita sedikit tentang kembaran kamu! Yang ada di sini pasti juga penasaran kan?” pinta Feni Mawar yang langsung dibalas meriah dari penonton.
Zanna tertawa kecil membayangkan para kembarannya yang sulit untuk dideskripsikan. “Mereka itu punya sifat yang aneh. Yang satu unik, yang satu lagi cuek. Tapi kalau kita bertiga jalan berbarengan, yakin deh, kalian pasti akan goyah. Yang tadinya hanya melihat ke saya malah beralih ke kembaran saya.” Zanna tertawa renyah mendengar respon penonton yang tak setuju dengan pendapatnya. Menurut mereka, hanya Zanna Ags yang terbaik dan selalu di hati.
“Mereka gak tertarik untuk gabung jadi model? Biar Indonesia juga punya yang seperti Hadid bersaudara di dunia modelling.”
“Bukannya gak tertarik sih mbak, tapi gak ada bakatnya sama sekali.” Zanna kembali tertawa dan menyihir satu studio untuk fokus pada dirinya.
“Oh ya?”
“Mereka lebih berbakat ke akademik, mbak. Makanya gak passion mereka untuk terjun ke dunia hiburan.”
Dan edisi wawancara terus berlangsung hingga satu setengah jam kemudian.
*****
“Zan, pria itu datang lagi. Kali ini bawa bunga segede bunga kematian.” Gemuruh Tita, manajer Zanna setelah Zanna menyelesaikan kegiatan shooting talkshow nya bersama Feni Mawar.
“Ish.” Zanna berdesis sebal. Pria itu lagi, pria itu lagi, keluhnya.
Sudah hampir empat bulan ini ia selalu didatangi seorang pria aneh yang membawa berbagai macam hadiah ke tempatnya. Entah itu agency atau lokasi pemotretan.
Ganteng sih, tinggi, yah tipe-tipe ideal kebanyakan cewek lah. Tapi tampangnya itu loh, ngeselin. Setiap ia datang dan Zanna menemuinya, ia hanya menyerahkan hadiahnya dengan tatapan tajam dan wajah yang datar. Tanpa berbicara. Sekalipun tak pernah berbicara. Jadi Zanna tak tahu apapun tentang pria aneh itu. Siapa namanya dan apa pekerjaannya, terlebih maksud dan tujuannya apa selalu memberikan hadiah padanya.
“Mana dia?” tanya Zanna hendak menghampiri pria itu.
Belum apa-apa, pria itu sudah masuk ke studio yang telah kosong ditinggalkan penonton. Sambil membawa rangkaian bynga duka cita bulat dan bertuliskan, ‘Selamat untuk debutmu dalam acara Versacee fall/winter fashion show’.
“Cih.” Lagi-lagi Zanna berdecak sebal. Namun sayang rasanya, jika ia tidak datang menghampiri dan tak menikmati wajah rupawan itu. “ Apa lagi kali ini?” sentak Zanna setelah berhasil menguasai kesadaran dirinya.
Berteriak panik karena kepalang malu dilihat banyak staff dari stasiun televisi swasta tempat acara Lumpi bernaung.
“Ini lagi!” Zanna merampas banner tulisan yang melintang sebesar bunga itu. “Malu-maluin!”
Pria itu menyerahkan bunga ke Tita yang sebelumnya ia lirik dan panggil untuk menerima hadiah itu. Cepat Tita mengambil rangkaian bunga yang beratnya setara bayi berusia setahun.
“Berhenti lakukan ini! Anda membuat saya malu!” sentak Zanna lagi.
Seperti biasa, pria itu diam saja walau Zanna melontarkan kalimat sentakan bahkan cacian padanya.
“Heh, anda mau kemana?” cengkeram Zanna ke bahu pria itu yang hendak berbalik pergi seolah mmisinya telah selesai.
Pria itu menyoroti Zanna secara tajam. Bengis, hingga Zanna ketakutan dan perlahan melepas tangannya dari bahu lebar pria itu yang nyaman rasanya bila dipakai untuk bersandar. Oops.
“Jelaskan dulu sebelum pergi!” perintah Zanna menarik perhatian orang-orang.
Pria itu tertegun. Menyadari dirinya saat ini menjadi pusat perhatian orang-orang yang tadi masih sibuk bekerja. Dari wajah mereka terlihat satu tanda tanya besar. Semakin pria itu risih dan mendadak tak dapat mengendalikan diri.
“Semua orang memang sialan!” umpatnya mengagetkan Zanna.
Suaranya dalam. Bagus, sih. Berwibawa dan adem didengar. Tapi kok sekalinya bersuara malah mengumpat. Dan tadi apa katanya? Semua orang sialan? Semua? Termasuk Zanna gitu?
“A.. Apa?” tanya Zanna tercengang.
“Maaf, ya, jika membuat anda malu. Tapi ini bukan keinginan saya. Saya hanya menjalankan tugas dari atasan saya!”
“Tunggu!” cegah Zanna lagi ketika pria itu mau pergi. “Siapa yang menyuruhmu?”
“Saya bekerja untuk Pak Bayu. Anda bisa bertanya dan silahkan memarahi beliau yang membuat anda malu. Saya permisi.” jawab pria itu. Nadanya jengkel. Lalu pergi sambil bersungut-sungut ria. Ih imut. Batin Zanna.
Bayu? Ah, Bayu. CEO Anu Tech. Yang berkepala pelontos dan selalu mengejar Zanna sejak awal karir modelling-nya. Hanya saja, Zanna tak suka padanya. Karena Bayu yang jauh dari tipe idealnya, lelaki gundul itu pun sudah beristri. Yang benar saja, masa Zanna harus mempertaruhkan karirnya demi panggilan baru yang sangat sensitif di negara ini, pelakor. Gak deh.
“Dasar gundul gatel. Dah punya bini masih terang-terangan ngasih hadiah ke perempuan lain.” ucap Tita yang gemas setiap kali Bayu menganggu artisnya.
Tampang kecewa menghiasi wajah Zanna. Walaupun merasa terganggu akan kehadiran pria itu, tapi setelah melihat wajahnya yang ganteng , rasa dongkol pun mendadak hilang. Eh, rupanya Bayu-lah yang ada di belakang semua ini. Jangankan melihat wajahnya, mendengar nama si gundul aja malas.
“Ta, cari tau siapa pria yang selama ini mgasih hadiah ini ke aku!” perintah Zanna.
“Kan Bayu, sis.” jawab Tita enteng.
“Maksudku dia loh.” Tunjuk Zanna ke pintu keluar yang tadi dilewati pria misterius itu.
“Ah, oke.”
*****
Makan malam perusahaan iklan ‘Terserah’ menyambut kelulusan pegawai magang.
“Selamat kepada para karyawan baru kita yang telah lulus dari ujian.” teriak seorang eksekutif penuh semangat. Disambut meriah oleh pegawai yang memenuhi seluruh restoran barbekyu.
“Ze, ambilin air!”
“Ze, pesen lagi daging untuk meja 5 dan 8!”
“Ze, kopi pak Seno kenapa belum datang?”
“Ze, es batunya mana?”
“Ze! Ze!! Ze!!! Ze!!!!”
Segala penjuru menyebut nama Ze dan memerintahkan ini itu seolah ia-lah pelayan restoran.
“Ze, tambahin bir saya!” teriak pria yang duduk menyendiri dan telah tertunduk mabuk. Di mejanya ada 8 gelas bir yang sudah kosong melompong. Dan masih mau ditambah lagi?
“Udah sana antar!” perintah Mira, seorang wakil ketua divisi perencanaan tempat Zeze bernaung.
Dengan langkah berat, Zeze mendekati pria mabuk yang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan tersebut.
“Pak Ivan, ini bir-nya.” ucap Zeze ragu.
Brakkk. Pria mabuk bernama Ivan itu memukul meja sekeras-kerasnya. Lalu bangkit dengan kesadaran yang sudah diambang batas awang-awang. Tangannya lalu membekam bahu Zeze. Kuat, sampai Zeze meringis kesakitan.
“Pak, anu...” pekik Zeze.
Ivan menilik wajah Zeze. Sangat dekat, bahkan nafas hangat dari Ivan menembus ke permukaan kulit Zeze yang sedang dilanda kegugupan. “Apanya yang mirip Zhafira? Sial.” Teriakan Ivan mengacaukan konsentrasi semua orang dari makanan mereka.
Kebetulan Zhafira yang sedang jadi perbincangan masuk ke restoran dan terkesiap karena namanya disebut. Suasana hening tadi berubah menjadi arena berbisik untuk para kaum penggibah.
“Lepaskan semua! Lepaskan! Jangan seperti Zhafira!” suruh Ivan dnegan kasarnya mencopot paksa kacamata yang bertengger di hidung mancung Zeze dan dibanting ke lantai.
“Pak, maaf , saya Zeline.” ucap Zeze hampir menangis.
Ivan diam. Ia paksa membelalakan matanya meski tak tahan. Mendalami wajah Zeze dan memperhatikan dengan seksama.
“Astaga. Wanita jelek ini rupanya.” sahut Ivan lalu kembali duduk dan menenggak cepat minuman yang dibawa Zeze tadi.
Sontak hal itu menjadi bahan pergunjingan. Mereka mendapat dua bahan yang bisa digibahkan esok saat kerja. Satu, hubungan rumit Ivan dan Zhafia menambah kemelut skandalnya di kantor.
Kedua, Ivan mengejek Zeze. Itu tandanya, Ivan secara sah menjadi bagian dari para pembully Zeze di kantor. Lagian, dandanannya aneh. Kaos gombrang selalu menjadi outfit kebanggaannya untuk dipakai di kantor. Bekum lagi kacamata yang besar nya hingga semuka-muka yang menganggu ketenangan jiwa orang lain saat memandangnya.
“Kalian jangan ikut-ikutan menjahili Zeze. Fokus saja pada pekerjaan kalian. Ini perintah!” himbau Fira ke pegawai yang bekerja langsung di bawahnya dan terisolir dari polusi tidak sehat di kantor.
“Ah, bu Fira memang malaikat.” sahut beberapa orang yang ia perintahkan.
*****
Profil Zanna
Nama : Zanna Chaerity Agustian / Zanna Ags
TTL : Jakarta, 4 April 1995
Hobby : Baca novel online yang bikin halu, shopping
Ciri fisik : Tinggi 175 cm, langsing, kurus, hanya memiliki 18 persen lemak tubuh, rambut sebahu (ikut-ikutan Kendall Jenner katanya), putih.
Kelebihan : Ciri fisik adalah kelebihannya, dan kesayangan mama
Kekurangan : Akademik dan bloon, suka marah-marah gak jelas yang berakhir menyesal, sedikit tempramen
Sifat baik yang bisa dicontoh : Hmm, apa ya? Ah, sopan santun dan berperilaku baik (walau hanya di depan kamera), sayang keluarga, apalagi sama Zeline. Terus, hmm, konsisten dan komitmen. Udah itu ajalah.
Sifat buruk yang tidak boleh dicontoh : Banyak. Terutama boros, agak sombong, dan tempramennya itu loh, gak banget.
Author : Oke Tita, terima kasih untuk Q n A nya. Jadi kita bisa mengenal Zanna lebih dalam.
Tita : Tolong, bayarannya di transfer ya, thor. Info artis saya gak murah. Hehehe.
警察は一ノ瀬家の屋敷に到着すると、周囲に集まっていたマスコミを一掃した。慎也の両親がドアを開け、予想通り慎也はすぐに家から逃げ出した。彼はこの周辺に詳しく、あっという間に小道に飛び込んで姿を消した。警察は慎也の姿を見失い、彼の両親を逮捕した後、慎也の指名手配を急いで発表した。その日のうちに、慎也は一ノ瀬家の御曹司から指名手配犯へと転落した。上江市では、すでに落ちぶれたこの犯人を追い求める人々の姿があちこちに見られた。慎也は今、家に帰ることもできず、各地の公園でひっそりと暮らしていた。公園には蚊が多く、時折ネズミも現れる。慎也はそれを黙って耐えながら、心の中で考え続けていた。なぜ、こんなことになってしまったのか?思い返せば、すべては三十歳のときに叶えた、あの馬鹿げた願いから始まったのだ。三十歳になる前、慎也は順風満帆な生活を送っていた。両親は元気で、家も裕福、優しく賢い妻がいて、会社も順調で、少し動けば経済誌に載るような存在だった。ネットでは、そんな自分が「手の内で最高のカードを持ちながら台無しにした」と嘲笑されていたが、今、慎也はその意味をようやく理解していた。すべては、満足しない自分が招いた結果だ。慎也はもう、夜しか外に出られなくなった。襟を立て、少しでも人影が見えたらすぐに逃げるようになった。慎也は街中で、両親の判決について話している人々の会話を耳にした。無期懲役、即時執行、仮釈放なし。つまり、両親は一生刑務所を出ることはなく、命を終えるまでそこにいるということになった。慎也は親の白髪を思い出し、胸が締め付けられる思いだった。湖のほとりに立ち、慎也は湖面に映る自分の影を見つめていた。この数週間の隠れ暮らしと、地べたで寝る日々で、彼の体はすっかり汚れていた。髭は久しく剃っておらず、顎に乱雑に生えている。髪もボサボサになっていた。他の人々ならともかく、慎也自身もこの姿を見て、かつての自分を全く認識できなかった。この間、慎也は夜ごとにこっそりと街の墓地を歩いていた。墓地には無数の墓碑が立ち並び、慎也は一つ一つを見ながら、詩乃の墓を探し続けていた。指先で一つ一つの名前をなぞりながら、慎也は地下に埋まった命を見つめていたが、どうしても詩乃の名前は見つからなかった。慎也が知らないのは
栞が目を覚ましたとき、まるで死んだかのように感じた。体全体、顔も含めて、まるで誰かに壊され、作り直されたみたいな痛みが広がっていた。彼女は座ろうとしたが、腰は全く力が入らなかった。栞が目を覚ましたのを見て、看護師が急いで部屋に駆け込んできた。「江川さん、今はまだ座ることができませんよ」「私はどうなったの?」と栞は焦りながら尋ねた。「私の子供は?子供は無事なの?」看護師は困った表情を浮かべ、栞にこの悲しい知らせを伝えたくなかったが、どうしても口にしなければならなかった。「江川さん、将来……まだチャンスがありますよ」その言葉を聞いた瞬間、栞の目から涙があふれ出た。彼女はベッドを叩いたが、うっかり自分の足を叩いてしまい、呆然とした。「私の足はどうなったの?」栞が二つ目の悪い知らせとなる質問をしてきたのを見て、看護師は唇を噛みながら言った。「江川さん、あなたがここまで運ばれた時、お腹に強い衝撃を受けました。その上、ショックで一時的に意識を失い、膝の半月板も損傷しました。ですので、今後はおそらく立つことができず、一生ベッドで寝たきりになる可能性があります」さらに悪い知らせを聞いた栞は、絶望感に包まれた。ちょうどその時、神原社長、神原大介(かんばら だいすけ)が部屋のドアの前に現れ、すべての話を聞いた彼は顔色を変えた。彼は静かにドアから離れようとしたが、栞に気づかれてしまった。大介を見た瞬間、栞の目に溜まっていた涙が再び溢れ出した。「大介、さっきの、聞こえたの?」大介はドアの前に立ってしばらく待ち、最後に軽く頷いて「さようなら」と言った後、名残惜しそうな表情もなく病室を去った。その瞬間、栞はこれが大介との永遠の別れだと感じ、苦しそうに笑った。自分は慎也に半身不随にされ、一ノ瀬家からは一切の配慮を受けていなかった。栞は躊躇うことなく、警察に通報した。警察が一ノ瀬家に到着したとき、慎也の両親は慎也を市外に送り出す準備をしていた。警察を見ると、二人は互いに視線を交わし、ただ警察が慎也に手錠をかけるのを見ているしかなかった。慎也は傷害罪で逮捕され、彼の両親はすぐにお金を使って彼を保釈した。しかし、予想外のことに、栞は彼らを簡単に許すつもりはなかった。ある悲惨な告発の映像がインターネットで急速
栞の言葉を聞き、慎也の母親は少し動揺しながら言った。「栞、つまりどういうことなの?」栞は少し笑って言った。「この子、確かに慎也の子じゃない。でも、今この情報が漏れたから、もし慎也が私と結婚しなければ、始まりから終わりまで無責任だってことになる。どうせ今、慎也の評判はすでに悪いから、結婚で少しでも挽回できるかもしれない。この子が、少なくともあなたたちの評判を少し取り戻す手助けになるんじゃないの。あなたたち、私に感謝しなきゃね」彼女はソファに座り、手に持ったネックレスを弄びながら言った。「どうして同じ分野で、私の親があなたたちの家より倍以上努力してきたのに、いつもあなたたちに押されてしまうのか不思議でたまらない。幼い頃からの約束だったのに、慎也は他の女と結婚した。あなたたちの息子は浮気しても許されて、私が他の人と関わるのは許されないって、どういうこと?あなたたちの息子は自分の息子だから勝手にしても構わない。私は、この江川家の娘で何かしたらダメって、どういうこと?そんなのありえないでしょ?」慎也が怒りで顔を真っ赤にしているのを見て、栞はさらにニヤリと笑った。彼女は言葉を続けた。「あ、そういえば、慎也、実は詩乃が癌だってこと、私は前から知ってたんだよ。でも、あなたには言わなかった。最初はあなたが自分で気づくと思っていたけど、まさか妻が病気だと気づかなかったなんて。あなたは自分の子供を傷つけたかもしれないけど、私のお腹の子には手を出させない」詩乃のことを話された途端、慎也は診察室で抑えていた怒りが爆発し、歩み寄りながら栞を睨みつけ、怒りと耐え忍ぶような言葉を絞り出した。「よくも詩乃のことを口にできるな?黙れ!」慎也の怒りを見た栞は、かえって興奮したように言った。「どうして詩乃のことを言うのに顔を出せないの?忘れたの?詩乃が死ぬ前に、あなたが私と一緒にホタルの庭園に行くって約束したのを。詩乃が死ぬ前、あなたのことをどう思っていたのかしら。あなたは無能な夫だったから」慎也は拳を振り上げ、栞に向けてそれをおろそうとした。慎也の両親は驚きの息を呑んだものの、誰も止めようとしなかった。慎也は栞に拳を次々と打ち込み、栞はその痛みに耐えきれず、言葉が威嚇から懇願に変わっていった。「あ
なぜ栞がこんなにも家から遠くにあるモールにいるのだろう?そして、なぜ彼女は神原社長と腕を組んでいるのだろう?彼ら二人の先ほどの雰囲気を思い返すと、まるでカップルのようだった!慎也は突然、頭がクラクラするような感覚に襲われ、何かの答えがすぐに明らかになる予感がした。真実は、彼が数ヶ月前の病院の監視カメラを確認したことによって証明された。監視カメラの映像によると、詩乃が病院に入院する前、慎也が病室にいない日には、神原社長が毎回病院に来て、次の日の朝まで滞在していた。その後、栞は病棟の看護師たちに口止め料を渡し、慎也にこのことを話させないようにしていた。こんなに長い間、自分は騙されていたのか。自分が詩乃を病室に入れるよう手配した時のことを思い出すと、栞が明らかに不満そうな顔をしていたが、それには別の理由があったことがわかった。慎也は以前、栞が嫉妬していて、詩乃と一緒に同じ病室で過ごすのが嫌だったのだと思っていた。だが、そこには神原社長との密会ができないという理由もあったとは思いもしなかった。ここ最近の栞の奇妙な行動も、すべて説明がついた。以前、栞は慎也の会社のことに全く興味を示さなかったが、最近は意図的に会社のことを聞きたがるようになった。だから、最近慎也が気に入っているプロジェクトは、神原社長にほんのわずかな差で奪われることが多かったのだ。すべての謎が解けた。慎也の頭の中で突然、栞の腹の中の子供のことが思い浮かんだ。自分が栞とする際、毎回きちんと避妊をしていたはずなのに、あの報告書を見たときにはほんの千分の一の確率で起こった偶然だと思っていた。しかし今、こうして思い返すと、他の誰かの策略にはまっていたのかもしれない。証拠を保存した後、慎也は以前の医師の診察室に向かった。詩乃の遺骨が埋められている場所を知った後、家族に本当のことを話そうと思っていたが、意外なことに、診察室のドアに貼られている医師の名前が変わっていた。慎也は急いで中に入ると、見慣れない顔が彼と視線を交わした。「この前の先生はどこに行ったんですか?」中の医師は慎也に驚き、震える声で答えた。「彼女は辞めました。何か用ですか?」慎也はまるで銃で撃たれたかのようにショックを受けた。もう詩乃の遺骨を見つけることはできない。
巡回中の医師が状況を見てすぐに駆け寄ってきた。詩乃の容体を安定させたあと、彼女はカルテをめくり、ため息をついた。「朝月さん、もしご自身を守りたいのであれば、私たちの提案は……お子さんを諦めることです。今や癌細胞はほとんど全身に転移しています。お子さんを諦めれば、わずかに望みがあるかもしれません」「ありえません」詩乃は考える間もなく反論した。「子どもを失ったら、生きているほうがもっと苦しいだけです」彼女は医師を見つめ、目には涙が溜まっていた。「お願いがあります。聞いてくださいますか?」本来なら余計な荷を背負うべきではなかった。だが、紙のように白い唇と、皮膚の下で浮き上
慎也は鼻で冷たく笑った。「強がらないほうがいい」彼は全身を探り、最後に一つの箱を詩乃へ差し出した。「君の誕生日だから、ほら」詩乃は眉をひそめた。「いらない」ここまで来ると、慎也が渡してくる物はすべて吐き気がするほど嫌悪感しかなかった。「これ以上俺を不機嫌にさせるなよ。一般病室に戻りたくないだろ?」仕方なく、詩乃は箱を受け取った。慎也が部屋を出ていく瞬間、彼女は迷うことなくその箱をゴミ箱へ放り投げた。病院には詩乃が信用できる人がいなかったため、彼女は澪に連絡してスーツケースを買って来てもらい、廊下に置いた。詩乃は毎日少しずつ荷物をまとめ、スーツケースに入れ、時
重症病棟では、毎日誰かが死と戦っている。しばしば詩乃がやっと眠りについたころ、隣のベッドのナースコールが鳴り出した。ドアが素早く開き、医師と看護師が駆け込んできて、ベッドをICUへと移動させた。そんなことがあると、他の患者たちも一気に緊張し、誰も眠れなくなる。ナースコールが鳴っていないのに、詩乃の夢の中ではあの鋭く耳障りな音が絶え間なく鳴り続けていた。何度も悪夢で飛び起き、背中は冷たい汗でびっしょりだった。周りのベッドから運び出され、二度と戻ってこなかった患者たちを見ているうちに、詩乃の食欲も日々落ちていった。ある夜、ついに詩乃のベッドのナースコールがけたたましく鳴
詩乃の目がベッドの上に置かれたアレルギー薬をちらりと見たが、手の消毒の動きは止まらなかった。コンコンという軽いノックの音が響いた。神原社長が入口に現れ、病室いっぱいの花を見て口笛を吹いた。「まさか一ノ瀬社長が今でもこんなご趣味があるとはね。誕生日パーティーの後、ほとんど会社に戻ってないって聞いたけど。病院で花を育てていたんですね」「何の用ですか?」慎也の口調は硬く、わずかに怒気が混じっていた。「用がないなら出て行ってもらえますか。病人の休みを邪魔しないでください」神原社長は肩をすくめた。「あなたに関心を持ってるから来たんですよ、一ノ瀬社長。あなたの会社の状況
리뷰