Semua Bab Audacity: Bab 1 - Bab 10
159 Bab
-Prolog-
Mobilku berenang di jalan penuh lautan cahaya kawasan pantai Manhattan, California. Aku tidak sendiri, dia bersamaku di kursi sebelah. Tiada musik selain suaranya. "Kau tahu, Kakakmu benar-benar menyebalkan. Bagaimana mungkin dia melakukan hal ini kepadaku di malam spesial kami. Dia lebih memilih jalang itu ketimbang diriku. Kau dengar Adrian?" "Dia bukan jalang, dia Estefany Reine dan yeah, Alfred memang idiot." Kau yang jalang, wanita sialan. Percuma, dia tak mendengar dan terus berkicau seperti burung beo baru bisa bicara. Sesekali aku mengamati wajahnya yang seperti barbie. Bibir sensual, mata kecil beralis lentik indah, hidung mancung, wajah tirus nan menawan. Alfred sialan, kau sungguh beruntung mengenal gadis ini dan begitu tolol untuk tidak membawanya keranjang, malah menyuruhku mengantarnya pulang ke apartemen.
Baca selengkapnya
1. Pemuda Berengsek
[POV Adrian] ----- Aku membuka mata, mendapati diriku berada di jok belakang mobil. Tubuhku mengecil.  Aku mengintip melalui kaca jendela yang tertutup rapat. Di luar salju tebal menyelimuti jalan beku es. Papan penunjuk jalan berdiri gagah di tepi trotoar, papan itu bertulis, 'Glendale'. Tidak, tidak! Aku mohon jangan kejadian ini lagi. Bajingan kau Tuhan, kenapa menyiksaku dengan cara seperti ini? Aku menggila berusaha membuka pintu mobil, menggedor pintu berulang kali. "Ayah, lari ayah! Aku mohon lari!"  Kaki kecilku menendang jendela tapi tiada perubahan seakan semua ini abadi. Di luar sana Ayah dan Tuan Downson sedang bercakap-cakap, suara mereka mendengung. Tidak, aku mohon Tuhan jangan!
Baca selengkapnya
2. Badboy
[POV Adrian] -----   Buru-buru kuputar gagang pintu untuk menyambutnya, sosok yang kujaga sebagai harta karun nomor dua. Jaket tebal, berhias bulu wol putih di kerah. Jaket warna olive itu membalut tubuh berlekuk biola nan menggugah nafsu liar dalam jiwaku. Dia berdiri di depan pintu apartemen seperti pragawati melipat kedua tangan ke depan dada, penampilan menantang nan indah, terlebih celana jeans panjangnya begitu ketat mengikuti lekuk kaki jenjang. Seperti biasa senyum manisku untuknya, tapi kenapa dia diam? "Ada yang salah dengan penampilanku?" Bibir tipis manis mencibir seperti moncong kuda ketika sepasang netra berbentuk almond tertuju pada pangkal atas kaki. "Serius?" Aduh lupa, dari tadi hanya memakai celana dalam. Sial. Tetap te
Baca selengkapnya
3. Penengah
[POV Fany] -----   Hening kuburan ruang apartemen, padahal ada empat manusia di sini. Semua karena kenakalan Adrian. Oh Tuhan, nyaris saja telur gorengku gosong.  Adrian dan Alfred, walau mereka bersaudara sikap mereka utara dan selatan. Adrian urakan impulsif sementara Alfred lebih dewasa.  Bagiku Alfred adalah satu dari beberapa sumber kebahagiaan. Sementara Adrian, kunci yang membuatku mampu mendekati Alfred. Itu dulu, sekarang … entahlah, aku bingung. Anyway, kejadian ini pasti berat bagi Alfred. Aku dengar Melisa anak gadis tunggal seorang pemegang saham terbesar di kantor tempatnya bekerja. Mungkin jika pertunangan ini gagal karir Al sebagai CEO bisa hancur. Sebenarnya tidak masalah. Dia bisa bekerja di kantor Ayahku. Perusahaan Reine lebih besar dari tempatnya bekerja
Baca selengkapnya
4. Pawang Setan
[POV Fany] ----- Aku lupa sejak kapan menjadi Ibu bagi bayi kawak, bayi raksasa yang nenderita penyakit 'playboy kronis'. Parahnya, dia bersenandung diiringi suara gemercik shower. Apa dia tidak merasa bersalah karena menodai tunangan Alfred? Ya Tuhan, beri aku kesabaran menghadapi sosok setan tampan penggoda hati itu. Kandang babi ini bau apek, terlebih kasur. Sprei basah, lengket, dan kumal. Entah apa yang dia lakukan dengan gadis murahan itu. Jika bukan aku yang merapikan, siapa lagi? Tuhan, entah sampai kapan aku bisa bertahan. Jaket kulit hitam yang menjadi trademarknya membalut tubuh kekar yang berlapis kaos putih, sementara celana jeans hitam dan sepatu ket hitam membuat penampilan Raja tato tambah macho.
Baca selengkapnya
5. Kesatria
[POV Adrian] ----- Dari UCLA ke Glendale butuh waktu sekitar lima jam, itu jika mobil ini tidak merengek. Alfred sialan, dia berumur dua puluh tujuh dan bibirnya masih ember. Masalah wanita saja mengadu ke ibu. Gara-gara dia, terpaksa aku mengemudi ke lubang neraka. Aku bisa datang sendiri menemui Ibu, tapi beliau pasti marah, lalu sedih, ditambah Alfred mengompori. Jika ada Fany, setidaknya tukang mengadu itu bisa mengontrol diri untuk tidak menyudutkanku. "Fany, apa menurutmu Ibu akan mencoret namaku dari daftar keluarga?" Dengan santainya dia mengangguk. "Masalah kali ini berbeda dengan yang biasa. Kamu bukan meniduri anak gadis tetangga, tapi tunangan Alfred. Kamu bisa m
Baca selengkapnya
6. Jantan
[POV Adrian] ----- Aku beri tinju yang mampu merobohkan pohon pinus di pada botak biadab, hingga dia jatuh. Aku injak tangan kotor yang berani memegang Fany. Suara teriakannya seperti meongan kucing. Teman-temannya tam tinggal diam, seperti semut mengeroyok gula. Mereka memukul, mendorong, gagal.  "Cukup Ad, hentikan! Adrian Bened, aku bilang hentikan!" pinta Fany. Sahabat Tuhan selaku begini, padahal aku berusaha memberi pelajaran pada binatang yang mengganggunya. "Apa kau dengar? Aku bilang cu-kup!" “Mereka harus meminta maaf kepadamu. Tidak ada yang boleh menghinamu,” jawabku, sepatuku menggiling tangan si botak. "Tidak perlu, yang terpenting kamu tidak kenapa-napa,"
Baca selengkapnya
7. Keluarga
[POV Fany] -----   Aroma kayu cedar. Decit lantai di ruang tamu. Dinding kayu kusam. Semua mengusir kabut putih yang menutupi memori hangat masa lalu.  Kenangan ketika pertama kali datang ke sini di musim gugur. Aku bersembunyi di belakang kaki ayah. Adrian yang pertama kutemui. Dia yang menggandengku masuk ketika ayah mengobrol dengan paman Mike. 'Biar orang tua sibuk dengan urusan mereka, kita main saja yuk'. Lalu memperkenalkan Alfred dan Bibi Nicole, juga Kim kecil. Ya, di sini menjadi awal segalanya. "Kak Fany, ayo, Ibu menunggu kalian di meja makan." Kim tumbuh menjadi gadis periang yang manis, fashionable, dan sedikit memaksa. Dia menyeretku masuk lebih dalam, menjelajahi lebih banyak memori. Seperti ciuman pertamaku yang lepas--ya Tuhan, aku
Baca selengkapnya
8. Majelis
[POV Fany] -----   Aku harap punya kekuatan melompati waktu, untuk  kembali ke beberapa menit yang lalu. Saat semua hening.  Tiada kalimat mengalah di kamus para Bened, mungkin malaikat pun sulit memisahkan mereka sekarang. Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Tolong beri keajaiban supaya mereka tenang. Tiba-tiba cahaya menyusup melalui jendela dapur. Suara mobil tetangga sebelah terdengar cukup jelas. "Hei lihat, tetangga sebelah baru pulang." Kim jawaban Tuhan akan doaku. Dia membuat semua tenang. Mungkin para Bened malu kalau tetangga mendengar ribut-ribut mereka. Keheningan terjaga, bahkan setelah tetangga sebelah r
Baca selengkapnya
9. Tujuan Hidup
[POV Adrian] -----   Ke mana kamu pergi ketika dunia mengecewakanmu? Kalau aku, suka menyendiri di tempat sepi seorang diri. Kakiku mendarat ke atas setir mobil, menetap sementara di sana. Bintang di langit gelap seperti gula tumpah di meja, tak beraturan. Sama seperti masalahku, terlalu berantakan. Aku tidak suka banyak bicara, tapi tadi terpaksa karena mereka berkomplot menyudutkanku … sudahlah. Ok, aku salah, aku meniduri Melisa, tapi apa Ibu pernah memikirkanku? Setelah kematian Ayah, sikap Ibu berubah total. Dia seperti menganaktirikanku. Yang ada di hatinya hanya Alfred.  Aku tidak membenci mereka, hanya tidak suka sikap mereka yang seperti tadi. 
Baca selengkapnya
Sebelumnya
123456
...
16
DMCA.com Protection Status