Aku baru saja meletakkan barang belanjaan, rasanya urat di leher sakit setelah mendengar pertanyaan tetangga soal momongan. Cepat aku meneguk air segelas, dan tandas seketika. "Belum isi ya, Mir?" tanya Bu Nani ketika aku sedang memilih sayuran tadi. "Belum, Bu." Aku tersenyum. "Kok lama, ya? Anakku dua tahun menikah sudah isi. Sudah periksa?" "Saya baru tujuh bulan, Bu." "Lah, ya itu sudah termasuk lama, ponakanku nikah langsung isi. Coba periksa mana tahukan?" Aku tersinggung. "Kalau tujuh bulan lama, terus anak Ibu yang dua tahun itu apa namanya? Alot?" sinisku. Terlihat wajah Bu Nani masam, sedang Ibu lainnya terdengar cekikikan. Padahal rezeki, maut, dan jodoh, Allah lah penentunya, begitu juga dengan rezeki mendapatkan keturunan. "Pantes mertuamu urut dada, menantunya melawan begini." Ah, apa lagi ini? Mendengar nama mertuaku disebut hatiku panas, aku merasa ada yang tidak beres. "Jangan terlalu mencampuri rumah tangga orang, Bu. Saya bukan anak Ibu!
Terakhir Diperbarui : 2021-09-01 Baca selengkapnya