Share

Bab 1

Author: El-Haz
last update Last Updated: 2021-09-01 20:53:32

"Assalamu'alaikum, Mir, Mira!"

Suara itu membuatku tersentak. Tanganku yang sedang merendam pakaian kotor langsung berhenti. Aku mengenal betul suara ini—suara yang selalu membuatku menelan ludah sebelum membuka pintu.

Ibu mertua.

Langkahku lebar memijak keramik putih menuju pintu depan. Kuusap tangan yang masih basah ke celemek sebelum membukakan pintu.

"Waalaikumsalam. Oh, Ibu. Masuk, Bu." Wajah wanita yang sudah melahirkan suamiku itu tampak memerah terpanggang matahari.

"Lama bener bukain pintunya." Ibu mertua langsung menyentak. "Baru bangun, kamu?"

"Nggak, Bu. Aku tadi—"

"Alah, alasan!" Tangannya memukul udara. "Jadi istri itu jangan malas. Belum juga punya anak, bagaimana kalau sudah punya anak? Bisa mati nggak terurus anakmu nanti." Ibu menerobos masuk tanpa menunggu jawabanku. "Mana Hasan?"

Wanita bersanggul tinggi itu langsung memperhatikan sekeliling rumah. Kedua tangannya sudah bertengger di pinggang—pose favoritnya kalau sedang menginspeksi.

"Kerja, Bu."

"Loh, bukannya ini Sabtu? Kenapa Hasan masuk kerja?"

"Aku nggak tahu, Bu. Bang Hasan bilang ada yang harus dikerjakan di pabrik."

Ibu tak menjawab. Tubuhnya berjalan melewatiku, lalu berhenti di depan kursi kayu yang bentuknya sudah tak karuan. Matanya memandang dengan tatapan yang sudah sangat kuhapal—tatapan menghakimi.

"Duh, ini kursi kok gini amat, ya? Sampai sobek begini sarungnya." Tangannya menyentak sarung kursi yang baru saja ia hempaskan.

Aku menghela napas dalam. Mencoba abai.

Kursi itu bagaimana tidak sobek? Usianya mungkin sudah sama dengan usia Lina, adik iparku. Kursi itu bukan milik kami sejak awal—itu kursi bekas dari rumah Ibu mertua yang "ditukar" dengan kursi baru milikku.

Ya, ditukar. Bukan diberikan.

Kursi asliku adalah kado pernikahan dari atasan saat aku bekerja di pabrik meubel. Kursi yang bagus, masih mulus, masih wangi kayu baru. Tapi saat kami masih tinggal bersama Ibu, semua barang milik kami memang diletakkan di rumahnya.

Masalah dimulai saat aku mendapat rumah warisan orangtuaku dan memujuk Bang Hasan untuk pindah. Ibu melarang kami membawa barang-barang kami sendiri.

"Kalian itu masih pengantin baru, belum punya tamu. Bedalah sama Ibu—teman arisan Ibu banyak. Lagi pula, kalau kalian pindah bawa ini semua, apa kata tetangga? Mereka akan mengira Ibu mengusir kalian."

Begitu alasannya waktu itu. Dan Bang Hasan—suamiku yang selalu menurut pada ibunya—memujukku untuk mau menukar kursi itu dengan janji akan menggantinya saat bonus akhir tahun keluar.

Bonus itu tidak pernah sampai padaku.

Hal yang sama juga terjadi dengan lemari, tempat tidur, dan meja rias—semua pemberian Bang Hasan untuk hantaran pernikahanku. Tapi barang-barang itu bukan untuk Ibu mertua. Semua untuk Lina.

"Lina itu kan anak gadis, sudah mau kuliah. Pasti temannya banyak nanti yang datang main ke sini, cerita-cerita di kamarnya. Dia pasti malu kalau barang di kamarnya jelek." Itu pembelaan Ibu. "Kalau kalian sudah menikah, nggak ada yang harus di-maluin. Lagi pula, biarkanlah itu jadi pemberian Hasan terakhir kali untuk adiknya. Nanti juga kalau sudah menikah, Lina nggak akan minta apa-apa lagi sama masnya."

Sampai hari ini, Lina masih minta.

Bahkan sprei, handuk, kain panjang—tidak luput dari mata Ibu. Begitu pula dengan peralatan dapur.

Akibatnya, sekarang aku memasak dengan kompor minyak. Menanak nasi dengan dandang. Menggiling cabai dengan tangan.

Gaji Bang Hasan tak pernah ada untuk menggantikan perabotan yang sudah dirampas dariku.

"Mira!"

Suara Ibu membuyarkan lamunanku.

"Kamu itu jangan jadikan anakku sapi perah cari uang untukmu. Maunya, kamu juga kerja. Biar anakku bisa istirahat saat waktunya memang libur."

Aku menelan ludah. "Aku nggak tahu kenapa Bang Hasan kerja hari ini, Bu. Beliau tiba-tiba bilang tadi malam. Tapi katanya pulangnya lebih cepat, sekitar jam empat sore."

"Kamu sudah masak? Hasan kamu bekali makan apa?" Matanya melirik tajam ke arah dapur.

"Sudah, Bu. Sambal ikan dan kangkung tumis."

"Cuma itu?" Bola matanya menyelidik. "Gaji anakku yang empat juta cuma kamu masakkan itu?"

"Bang Hasan mintanya itu, Bu."

"Itu kan alasan Hasan saja. Memang dasarnya kamu malas dan nggak bisa masak." Ibu mendecih. "Padahal gaji anak saya itu besar, loh. Kamu harusnya pandai mengelolanya."

Aku hanya diam.

Empat juta, katanya besar. Padahal sepertiganya sudah diberikan pada Ibu setiap bulan. Dan tak jarang, wanita ini datang meminta tambahan lagi.

Selalu ada saja keperluan mendadaknya. Uang arisan. Tiba-tiba ingin beli gamis. Bahkan uang iuran sampah yang hanya sepuluh ribu per bulan pun, Ibu rela datang ke rumahku untuk memintanya.

"Aku ke belakang dulu ya, Bu. Buatkan Ibu minum."

Aku berkata sambil beranjak ke dapur. Tapi belum sempat kakiku melangkah—

"Eh, mau ke mana?" Suaranya meninggi. "Ibu masih ngomong, loh. Nggak ada etika. Apa nggak diajari sama ibumu, ya?"

Deg.

Jantungku berhenti sedetik.

Ibu terdiam sejenak—seperti baru sadar apa yang keluar dari mulutnya. Tapi wanita itu tidak minta maaf. Tidak pernah.

"Duh, sumur kalian kering, ya? Mertua datang bukannya dikasih minum." Tangannya menyentuh tenggorokan dengan dramatis. "Ya sudah. Kalau nanti Hasan pulang, suruh dia ke rumah Ibu."

Ibu mulai berdiri. Langkahnya menuju pintu.

"Kalau Lina nanti menikah, akan kuajari dia menyayangi dan menghormati ibu mertuanya. Tidak seperti kamu."

Aku berjalan menghampiri, mengulurkan tangan untuk menyalami. Wajahku tertunduk.

"Hati-hati, Bu."

Ibu menatapku sekilas. "Jadi perempuan itu jangan cengeng. Harus kuat. Ibu begini karena sayang padamu, bukan karena benci."

Lalu dia berlalu. Langkahnya menghentak lantai.

Aku berdiri di ambang pintu, memandang punggungnya menjauh.

Air mataku jatuh tanpa izin.

Bagaimana mungkin aku tidak menangis? Ibu membawa-bawa ibuku dalam setiap kekuranganku. Apakah dia lupa? Atau memang sengaja?

Bagaimana mungkin aku bisa menerima didikan dari ibuku—sedangkan beliau pergi saat melahirkanku?

Ibuku adalah perempuan yang sempurna. Lembut tutur kata, lembut berperilaku. Begitu kata banyak orang.

Bukan seperti dirimu, Bu.

Kau adalah perempuan tinggi hati yang selalu merasa tidak membutuhkan orang lain. Mulutmu tajam bagaikan silet—selalu bisa melukai hati siapa saja.

Mungkin itu juga penyebab kenapa Bapak meninggalkanmu dan memilih wanita lain.

Kuhapus air mata yang mulai deras di pipi. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus bahagia. Harus berpikir positif.

Agar Allah segera mempercayakan anugerah itu di rahimku.

Aku kembali ke belakang rumah. Pakaian masih terendam, dan pesanan Bang Hasan belum selesai.

Pagi tadi, suamiku meminta dibuatkan keripik pisang manis—cemilan kesukaannya. Tanganku mulai mengupas pisang yang sudah matang sempurna, mengirisnya tipis-tipis dengan hati-hati. Kompor minyak kunyalakan, wajan besi kusimpan di atasnya, minyak goreng mulai kupanaskan.

Baru saja aku hendak memasukkan irisan pisang pertama—ponselku berdering dari kamar.

Aku menajamkan pendengaran. Benar, itu ponselku.

Segera kutinggalkan wajan di atas kompor dan berlari ke dalam.

"Assalamu'alaikum. Ya, halo, Lin?"

"Dih, lama bener sih, Mbak, angkatnya." Suara Lina langsung menyembur. "Baca chat."

Tut.

Adik iparku sudah mengakhiri panggilan sepihak.

Aku terdiam. Tanganku terulur membuka aplikasi berwarna hijau di layar. Sederet pesan tanpa basa-basi langsung menyambut.

"Mbak, aku butuh 500 ribu. Hari ini. Jangan bilang Mas Hasan dulu ya, nanti aku yang bilang sendiri."

Aku menghela napas panjang.

Uang lagi.

Dan kali ini, Lina bahkan tidak repot-repot memberi alasan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Racun Mertua   Bab 64B (Memilih pergi)

    Pov LinaAku terbangun ketika kurasakan ponselku berdering kuat, pelan kuraih ponsel itu. Panggilan dari Tio."Ya, Halo?""Kamu udah makan?""Hm, belum.""Baru bangun ya?" tebaknya dan tepat."Iya, kok tahu?""Kecium asemnya, tapi aku suka.""Alah gombal," jawabku tapi jujur aku suka."Yaudah, udah jam sembilan, kamu makan ya. Aku jemputnya agak telat nanti ya sekitar jam dua belasan.""Kok lama?" protesku."Aku ada urusan sayang. Sabar ya. Aku pasti bantu, nggak akan lari. Janji," ucapnya meyakinkan."Oke, aku makan dulu ya, mau mandi juga. Aku gerah.""Sip," jawab Tio lalu mengakhiri sambungan telepon.Kupandangi jam di dinding yang tak berhenti berdetak, aku tahu, pasti kini Ma

  • Racun Mertua   Bab 64A (Usaha menggugurkan)

    Pov LinaAku baru saja bangun dari tidur, ketika kusadari rasa nyeri terasa di rahim bagian bawah, pelan aku meraba perut, memastikan apa semuanya sudah berjalan sesuai keinginanku. Rabaan dari perut yang tak rata menyadarkan bahwa semuanya sia-sia. Bayi sial ini tak kunjung pergi dari hidupku. Apa maumu, sial! Ocehku dalam hati. Semua cara rasanya sudah aku lakukan, memakan semua ramuan yang ku fermentasikan, memakan semua pantangan buah yang katanya membahayakan, namun janin sial ini tetap saja betah didalam. Hanya ada dua jalan terakhir yang bisa aku lakukan, pertama meminum pil yang kata Keke nomor satu dan mumpuni itu, dan cara kedua menggunakan cara yang lebih ekstrim, ab*rsi. Cara yang kedua, pasti lebih jelas, walau itu pasti membahayakan nyawa ku juga. Tapi tak ada cara lain, semakin lama janin ini akan semakin membesar. Aku akan melakukan apapun untuk membuangnya. Tapi bagaimana dengan biayanya? Aku tak punya uang. Jika aku punya uang sudah dari dulu a

  • Racun Mertua   Bab 63 (Harus ikhlas)

    Pov HasanDengan berat kulangkahkan kaki menuju rumah besar ini. Aku berdiri di depan pagar tinggi rumah dengan model lama namun tetap terawat. Disebelah nya ada sebuah bangunan Masjid yang indah, tempat yang pernah menjadi keinginan Mira untuk melaksanakan akad nikah kami. Tapi sayang, waktu itu Ibu menolak keinginan Mira, karena kata Ibu repot harus membawa seserahannya kesana, pun rombongan yang mengantarkan kami. Belum lagi amplop yang harus diberikan untuk masjid, karena tidak mungkin kami tidak memberikan apapun sedang kami menggunakan fasilitas dan tempatnya. Kupikir-pikir ada benarnya juga ucapan Ibu, akhirnya dengan sangat hati-hati aku menjelaskan pada Mira, tentu saja tidak aku katakan alasan dari Ibu, mengingat waktu itu Mira belum sah menjadi istriku, aku takut Mira membatalkan semuanya, jika ia benar-benar mengetahui bahwa Ibu sebenarnya menentang pernikahan kami, hanya kukatakan tidak adanya biaya untuk ucapan terimakasih ke masjid, jika dirumahku

  • Racun Mertua   Bab 62 (Menyongsong hari bahagia)

    Pov Author"Kamu cantik, Mir ... Nggak kelihatan sama sekali jendesnya," ujar Ratih kagum melihat Mira dengan kebaya pernikahannya."Ish udah diangkat abis itu dijatuhin," jawab Mira dengan wajah yang ditekuk."Emang kenyataannya begitu. Mau gimana lagi. Tapi bersyukurlah Mir, karena status jendesmu, sekarang akan jadi istri lagi. Coba aja kalau kamu nggak jendes, apa bisa sama Pak Rezi," jelasnya lalu tertawa.Ada benarnya juga, pikir Mira."Aku cantik ya, Tih?""Sangat. Dan, akan segera menjadi perempuan bahagia. Kamu akan jadi pusat dunia Pak Rezi. Juga jadi menantu kesayangan dan satu-satunya keluarga Pratama. Aku lega Mir, akhirnya kamu memilih Pak Rezi."Mira sungguh terharu dengan apa yang diucapkan Ratih dan lantas memeluknya sahabatnya itu."Jangan nangis, aku nggak mau makeupmu rusak," pinta Ratih.

  • Racun Mertua   Bab 61 (Flashback)

    Suara ketukan pintu dan panggilan dengan tak sabar terdengar dari luar, aku yang sedang menyusui Kainan seketika kaget dan cemas karena ketukan dan panggilan dari Bang Raihan itu bisa membangunkan Kainan."Sssttt, sebentaaarr," ujarku berdesis pelan."Miraa, Mir. Tidur atau gimana ya," teriak Bang Raihan semakin menjadi. Kainan mulai menggeliat gelisah disampingku."Ssstt, sebentar Bang, masih nyusui Kainan," desisku lagi. Rasanya tidak ada hal yang lebih menjengkelkan selain saat dihadapkan pada situasi seperti ini. Kuraba sisi tempat tidur mencari ponselku. Kucari nomor Bang Raihan."Eh kenapa nelpon, lagi main game tahu, buka pintunya," jawab Bang Raihan begitu panggilan tersambung."Bisa diam nggak sih Bang? Mira masih nyusuin Kainan. Nggak tuli kok yang disini. Sebentar," jawabku lalu panggilan kuakhiri begitu saja.Pelan aku melepaskan diri dari Kainan,

  • Racun Mertua   Bab 60 (Sebuah Harapan)

    Pov HasanSudah sebulan sejak aku meminta Mira untuk kembali padaku, dan sejak malam tadi aku terus saja menghubunginya tanpa henti. Dan, pagi ini pun demikian. Entah mengapa ia tidak mengangkat teleponku, tidak biasanya. Aku rasa aku terlalu lama sudah menunggu."Assalamu'alaikum. Halo Bang.""Waalaikumsalam. Kamu baik-baik saja kan Mir? Kenapa sejak semalam tidak angkat-angkat telepon Abang?" tanyaku bertubi begitu telepon tersambung. Aku sungguh mengkhawatirkannya."Ya, maaf Bang. Mira sedang sibuk saja, banyak urusan. Maaf.""Oh iya, tidak apa-apa, asal kamu baik-baik saja. Hm, Abang mau tanya, soal keputusan kamu Mir. Bagaimana? Apa sudah ada?" tanyaku hati-hati. Jantungku berdetak tak karuan menunggu jawaban Mira. Terderngar helaan napasnya diseberang sana. Ah, apa ini, mendengar helaan napasnya saja membuat dadaku bergetar tak karuan."Mira menerima saran Abang. Kita akan membesarkan Kainan bersama."Cepat kupegang tembok rumah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status