Hamdani tertegun, amarah yang tadinya meluap seolah membentur tembok karang yang kokoh. Ia menatap dompet kulit tua yang dikeluarkan Wira, di mana selembar kertas yang sudah menguning dan terlipat rapi menyembul dari sana. Kertas itu bukan sekadar benda mati; itu adalah saksi bisu dari janji yang tidak pernah padam meski dihantam badai puluhan tahun. "Selama lima tahun ini, aku merawatnya bukan hanya sebagai dokter spesialisnya, Hamdani," suara Wira merendah, berat oleh beban rindu yang dipendamnya. "Aku masuk ke dalam dunianya yang gelap, ke dalam labirin jiwanya yang hancur, hanya untuk memanggilnya pulang. Aku tidak bisa membiarkan Ajeng mati dalam keadaan lupa bahwa dia pernah dicintai dengan begitu hebat. Dan kini, setelah dia mengingatku, aku baru tahu bahwa Prama... pria yang selama ini kupercaya menjaganya, justru yang telah merobek jantung kami." "Siapa Intan?" tanyanya ulang. “Intan anakku,” jawab Hamdani. “Anakmu? Bukannya Risa, namanya?” tanya Ajeng kembali memastika
Baca selengkapnya