Abraham menempelkan dahinya pada daun pintu yang tertutup rapat, menghirup sisa aroma tubuh Intan yang masih tertinggal di udara. Tidak ada rasa bersalah yang menghinggapinya. Sebaliknya, sebuah kepuasan purba membuncah di dadanya. Jika ia tidak nekat semalam, Intan mungkin sudah terbang menjauh, dikejar oleh pria-pria "penyelamat" seperti Rizky atau sepupunya sendiri, Dharma. “Istriku,” bisiknya pelan. Kata itu terasa mutlak. Baginya, tinta di atas kertas perceraian yang tak pernah ia tanda tangani adalah segel yang mengikat jiwa Intan selamanya. Ia bergegas membersihkan diri, ada rasa cemas yang menggelitik jika ia membiarkan Intan sendirian terlalu lama. Namun, saat ia keluar dengan rambut basah, ia menemukan Intan sedang duduk di sofa, menatap hampa ke arah televisi yang menyala tanpa suara. “Cepat hubungi anak buahmu. Risa harus segera ke sini!” tuntut Intan tanpa menoleh, suaranya tajam dan tidak sabar. Abraham tersenyum simpul, mengeringkan rambutnya dengan handuk ke
Baca selengkapnya