Bab 39: Taring yang TersembunyiDi ruang inap yang sunyi, aroma antiseptik bercampur dengan kesegaran minyak kayu putih yang dibawa oleh Aminah. Intan masih terlelap, wajahnya yang pucat kini mulai ditenangkan oleh obat penurun panas dan kelelahan yang luar biasa. Di samping ranjang, dr. Hardi Prawira—pria yang baru saja ia sadari sebagai ayah kandungnya—duduk dengan tangan yang tertangkup erat. Tatapannya tidak lepas dari detak monitor jantung yang stabil, sebuah melodi yang menjadi satu-satunya sumber ketenangan baginya saat ini.Di luar kamar, tepatnya di area tunggu rumah sakit yang lengang, Hamdani baru saja menutup sambungan telepon. Wajah pria itu yang biasanya ramah dan penuh senyum, kini berubah menjadi garis-garis tegas yang mengintimidasi. Ia menoleh ke arah Ajeng yang duduk di bangkunya, masih tampak cemas."Bagaimana, Mas?" tanya Ajeng pelan."Semuanya sudah siap, Ajeng. Rumah kita di kampung sudah dijaga. Tidak akan ada lagi orang yang bisa masuk sembarangan untuk m
続きを読む