"Aku nggak apa-apa, Mom, Nis," jawab Jennie, "cuma kurang istirahat aja." Senyum tipis terukir di bibirnya, berusaha keras menutupi badai yang berkecamuk di dalam hatinya.Andin, ibu mertuanya, menatap Jennie dengan raut penuh kekhawatiran. Sementara Anisa terus mencecarnya dengan pertanyaan tentang keadaannya. Namun, Gara, suaminya, tetap bungkam, seolah Jennie tak pernah ada di sana. Sikap dinginnya menusuk hati Jennie jauh lebih dalam dari apa pun."Bang, Kakak ipar kenapa?" Bara memecah keheningan, "kalian nggak kenapa-kenapa 'kan?"Gara hanya berdeham pelan, pandangannya tetap lurus ke depan. "Dia lelah," jawabnya singkat, tanpa menoleh sedikit pun.Jawaban itu terasa menghina bagi Jennie. Seolah Gara meremehkan perasaannya, mereduksi luka batinnya menjadi sekadar kelelahan fisik. Perih semalam kembali menguasai hatinya. Ia meraih gelas air, menenggaknya hingga tandas, berusaha menenangkan diri."Gara, lihat istrimu!" tegur Andin, "kamu ini kenapa? Baru pulang bukannya peluk cium
Dernière mise à jour : 2025-09-08 Read More