Namun, tepat pada saat itu, pintu ruang ICU kembali terbuka sedikit, menampilkan bayangan brankar besi Nenek Ajeng yang mulai didorong oleh beberapa perawat menuju arah lift khusus ruang operasi. Melalui celah kain penutup yang sedikit terbuka, Zara bisa melihat wajah tua neneknya yang dipasang selang ventilator, tampak begitu rapuh, lemah, dan berada di ambang batas tipis antara hidup dan mati. Pemandangan memilukan itu seketika meruntuhkan seluruh ego dan emosi amarah di dalam diri Zara. Nyawa Nenek Ajeng adalah segalanya bagi dirinya. Rumah mereka sudah hilang, dan jika neneknya juga harus pergi meninggalkannya, maka hidup Zara di dunia ini tidak akan memiliki arti apa-apa lagi. Demi wanita tua yang telah merawatnya sejak bayi dengan penuh kasih sayang itu, Zara rela mengorbankan apa saja—termasuk jika ia harus menyerahkan jiwanya untuk berjalan di dalam kegelapan dosa bersama iblis berwujud manusia ini.Dengan tangan yang gemetar hebat, Zara menerima pena berlapis emas dari geng
Read more