LOGINSuara ketukan pintu kamar terdengar begitu keras memecah keheningan lantai atas mansion keluarga Tawfeeq. Di dalam kamar yang diterangi pendar lampu tidur kekuningan, Zara duduk bersila di atas sajadah tebal dengan balutan mukena putih yang masih melekat sempurna di tubuhnya. Kedua telapak tangannya tertangkup erat di depan dada, sementara air mata tak henti-henti mengalir membasahi pipinya yang pucat pasi. Bibirnya terus merapalkan doa panjang memohon ampunan dan keselamatan bagi putra sambung yang sangat ia sayangi sepenuh hati."Mama Zara!" teriak suara kecil berbalut isak tangis dari luar pintu kamar yang langsung didorong terbuka secara kasar.Sean berdiri di ambang pintu dengan mata sembab dan tubuh masih bergetar hebat akibat sisa ketakutan di gudang pelabuhan. Bocah itu langsung berlari kencang menghambur ke arah sajadah, menjatuhkan diri ke pangkuan Zara sambil memeluk pinggang wanita itu erat-erat. Tangis Sean pecah seketika, menumpahkan segala ketakutan luar biasa yang s
Deru mesin mobil SUV hitam memasuki halaman utama mansion keluarga Tawfeeq dengan kecepatan sedang, memecah kesunyian malam yang mulai beranjak larut. Lampu kendaraan itu menyorot terang menerobos kegelapan, berhenti tepat di depan pintu utama yang terbuka lebar menyambut kedatangan sang pemilik rumah. Lusi dan Nindy yang sejak tadi mondar-mandir cemas di ruang tamu langsung berlari keluar menuju teras dengan jantung berdegup kencang.Pintu mobil terbuka lebar, menampilkan sosok Arham yang keluar dengan langkah tegap meski wajahnya tampak pucat menahan rasa sakit di lengan kirinya. Di dalam gendongan tangan kanannya, bocah kecil berambut berantakan tampak mendekap leher ayahnya erat-erat tanpa mau melepaskannya sedikit pun. Sean menangis tertahan di dada bidang Arham, mencengkeram kemeja hitam pria itu dengan jari-jari kecilnya yang masih gemetar ketakutan."Sean! Cucu kesayanganku!" teriak Lusi histeris, langsung menghambur memeluk tubuh cucunya dengan air mata yang tumpah seketik
Ruangan interogasi di markas kepolisian pusat tampak begitu dingin dengan dinding beton abu-abu dan satu meja logam yang memantulkan pendar lampu neon putih. Anji duduk di kursi besi dengan kedua tangan terborgol erat di depan dada, mengenakan pakaian tahanan oranye yang tampak kedodoran di tubuh gempalnya. Bahu kanan pria itu masih dibalut perban tebal dengan noda darah kering yang merembes keluar, sisa timah panas yang menembus dagingnya akibat pengkhianatan keji malam tadi. Napasnya memburu tidak beraturan, mencerminkan gejolak kemarahan luar biasa yang membakar dada dan menghancurkan sisa kewarasannya.Dua orang penyidik berbadan tegap berdiri di sisi meja, menatap tajam ke arah pria yang baru saja tertangkap basah di gudang pelabuhan tua tersebut. Di hadapan Anji terbentang selembar berita acara pemeriksaan dengan tinta hitam yang siap mencatat setiap kata dari mulut tersangka. Suasana terasa begitu pekat oleh aroma keputusasaan dan dendam kesumat yang siap meledak kapan saja t
Letusan senjata api yang baru saja memekakkan telinga masih menyisakan dengung panjang di dalam gudang tua yang berdebu. Gina berdiri dengan dada naik turun, menatap remeh ke arah Anji yang mengerang kesakitan di lantai sambil memegangi bahunya yang bersimbah darah segar. Perhatian wanita psikopat itu sepenuhnya tersita oleh kepuasan sesaat atas kekuasaan mutlak yang baru saja ia tunjukkan.Arham membaca celah sepersekian detik itu dengan ketajaman mata seekor singa yang siap menerkam mangsanya. Pria itu tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ketika pandangan Gina teralihkan dari sandera di hadapannya. Tanpa suara, Arham melompat menerjang maju secepat kilat dari posisi berlututnya, mengabaikan segala risiko yang mengancam nyawanya sendiri."Arham, sialan!" teriak Gina terperanjat kaget saat menyadari tubuh besar pria itu sudah berada tepat di hadapannya.Gina secara refleks mengayunkan pisau tajam di tangan kanannya ke depan secara membabi buta. Arham menerjang tanpa ragu, merentan
Cahaya lampu bohlam kuning di atas kepala berayun pelan, memantulkan bayangan gelap di dinding gudang yang dipenuhi debu. Bau amis pelabuhan bercampur dengan keringat dingin menciptakan suasana yang semakin mencekam. Anji menatap koper hitam terbuka yang berisi tumpukan uang tunai lima miliar rupiah dengan mata melotot lebar. Nafas pria bertubuh gempal itu memburu hebat, sementara jemarinya terkepal kuat menahan hasrat tamak yang sudah menguasai seluruh akal sehatnya."Uang itu sudah ada di depan mata kita, Gina!" seru Anji dengan suara serak yang menggema di dalam ruangan kosong. "Cepat tutup koper itu dan serahkan padaku! Kita kabur sekarang sebelum polisi datang!"Gina menoleh tajam ke arah Anji dengan seringai sinis terpatri di bibirnya yang kering. "Kabur? Mau bawa uang sebanyak ini ke mana kamu, Anji?" tanya wanita itu dengan nada suara mengejek yang menusuk telinga."Bagi dua, tentu saja!" jawab Anji ngegas, melangkah maju mendekati tumpukan uang tersebut tanpa memedulikan
Cahaya lampu bohlam kuning di sudut gudang tua berkedip lemah, memantulkan bayangan hitam yang menari-nari di atas dinding semen berlumut. Gina berdiri tegak dengan dagu terangkat tinggi, menatap koper hitam berisi tumpukan uang tunai lima miliar rupiah yang terbuka lebar di hadapannya. Ujung pisau lipat di tangan kanannya masih menempel tipis di dekat kulit leher Sean yang bergetar ketakutan. Bau uang kertas baru bercampur debu apek gudang menciptakan atmosfer mencekam yang membuat dada siapa saja terasa sesak."Uang sebanyak ini memang sungguh luar biasa, Arham," ucap Gina dengan nada suara meremehkan sambil melirik sekilas ke arah tumpukan uang tersebut. "Tapi apakah kamu pikir aku sebodoh itu untuk melepaskan sandera berharga ini hanya karena beberapa gepok uang kertas?"Arham menyipitkan matanya, rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya berdenyut menahan amarah yang hampir meledak. "Jangan mencoba melanggar kesepakatan kita, Gina! Semua uang yang kamu minta sudah ada di
Zara mematung dengan mulut sedikit terbuka, matanya melebar sempurna menatap garis wajah wanita di depannya. Hal yang sama juga terjadi pada wanita glamour tersebut; ia menghentikan aktivitas mengibas gaunnya, tangannya membeku di udara dengan pandangan mata yang terkunci rapat pada wajah Zara. Mer
Suara tamparan yang teramat keras bergema di lorong sempit itu. Wajah pria gempal itu terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang sangat jelas di pipi tembamnya. Cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Zara terlepas seketika karena rasa syok yang luar biasa. Pria itu memegangi pip
"Satu lagu lagi, Zara. Tolonglah, malam ini pengunjung kafe sedang ramai-ramainya. Sisa tips dari meja depan bakal aku bagi dua buat kamu," ucap Hendra, pemilik kafe remang-remang di sudut jalanan kota itu, sembari menyodorkan segelas air putih hangat ke arah Zara.Zara menghela napas panjang, men
Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang







