Sedan mewah berwarna hitam legam itu membelah jalanan protokol Jakarta yang padat, membawa keheningan yang mencekam di dalam kabinnya yang kedap suara. Arham fokus menatap jalanan di depan, sementara tangan kirinya masih sesekali mengetuk setir dengan ritme yang kaku. Di sampingnya, Zara duduk membeku, melipat kedua tangannya di atas pangkuan untuk menutupi belahan gaun sutra hitam yang terlalu rendah. Setiap kali mobil berguncang pelan, aroma melati dari tubuh Zara menguar, mengisi rongga dada Arham dengan debaran yang terus ia sangkal sejak meninggalkan mansion.Mobil akhirnya melambat saat memasuki pelataran hotel bintang lima tempat perhelatan makan malam Wijaya Group digelar. Petugas hotel dengan seragam necis segera membukakan pintu penumpang dengan gerakan takzim. Arham turun terlebih dahulu, merapikan kancing tuksedo hitamnya, lalu berbalik untuk mengulurkan tangan kanan ke arah Zara."Turunlah, semua orang sudah memperhatikan kita sejak masuk gerbang," ucap Arham, suaranya
Read more