"Makanlah bubur ini sedikit selagi masih hangat, Sean, perut yang kosong di tengah malam hanya akan membuat rasa cemasmu menjadi jauh lebih buruk saat kamu mencoba tertidur nanti," tawar Zara lembut sembari meraih mangkuk porselen putih di atas nakas, menyendok sedikit bubur ayam yang lembut lalu meniupnya perlahan hingga suhunya pas untuk lidah anak kecil.Sean tidak lagi mengeluarkan makian atau penolakan kasar; bocah itu membuka mulutnya dengan gerakan yang teramat perlahan, menerima suapan demi suapan bubur hangat dari tangan Zara dengan kepatuhan baru yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di dalam rumah ini selain kepada Arham. Di dalam kesunyian kamar yang hanya diterangi oleh lampu tidur berbentuk bulan sabit yang temaram, ritme suapan yang teratur itu menciptakan sebuah ikatan emosional baru yang begitu sakral di antara mereka berdua, menghapus seluruh jejak kebencian masa lalu yang pernah ditinggalkan oleh Gina asli.Setelah mangkuk bubur itu kosong setengahnya,
Read more