MasukMatahari pagi menyingsing tipis di atas atap mansion keluarga Tawfeeq, memancarkan sinar lembut yang memantul di kaca-kaca jendela tinggi. Di dalam kamar tidurnya yang luas, Nindy duduk melamun di tepi tempat tidur berseprai putih bersih. Fikirannya terombang-ambing oleh bayangan kejadian semalam, saat ia tidak sengaja melihat Gina berjalan terburu-buru dengan raut wajah sangat mencurigakan.Nindy menarik napas panjang, melangkah keluar kamar berniat menuju area dapur untuk mengambil secangkir teh hangat. Saat melewati ruang santai lantai dua, langkah kakinya terhenti di dekat meja sudut yang jarang terpakai. Di atas meja kayu itu, tergeletak sebuah kotak kardus kecil berisi barang-barang bekas yang dulu ditinggalkan Anji saat pria itu mendadak diusir dari rumah oleh Arham.Nindy mendekati kotak tersebut dengan dahi berkerut pelan. Tangannya meraih sebuah ponsel lama berkaca retak yang tergeletak di dasar kardus, barang milik Anji yang tertinggal karena pria itu terburu-buru berkem
Sementara itu, di lantai dua mansion megah keluarga Tawfeeq, hening malam terasa begitu mencengkeram. Arham berdiri di samping jendela kamar kerjanya, menatap keluar ke arah pelataran parkir yang luas. Pria tegap berusia empat puluh tahun itu memegang segelas air putih hangat, sementara kepalanya terus berputar memikirkan Zara yang tertidur kelelahan di rumah sakit.Pintu kamar kerja mendadak diketuk pelan dari luar. Arham memutar tubuhnya seraya meletakkan gelas ke atas meja mahoni. "Masuk."Sesosok anak laki-laki berusia tujuh tahun melangkah masuk dengan ragu-ragu. Sean menundukkan kepala seraya berjalan mendekati sang ayah.Raut wajah Arham seketika melunak saat melihat putra tunggalnya belum tidur di jam selarut ini. Pria itu berlutut di atas lantai kayu, menyamakan tingginya dengan Sean lalu memegang kedua bahu kecil anak itu."Sean ... Kenapa belum tidur, Nak? Ini sudah lewat jam sembilan malam," tanya Arham dengan suara bariton yang lembut dan hangat.Sean mendongak, men
Lampu neon kafe remang-remang itu berkedip-kedip pelan, memantulkan cahaya redup ke atas meja plastik tempat deretan foto tua terpajang. Gina menatap gambar-gambar kusam di hadapannya dengan napas tercekat. Di dalam foto itu, sosok dirinya dan Anji terlihat begitu dekat dalam dekapan mesra, diambil di sebuah kamar hotel beberapa tahun lalu saat Anji masih berstatus sebagai kekasih sah Nindy."Kamu ... kamu menyimpan semua foto haram ini?!" bentak Gina dengan suara tertahan, matanya melotot tajam mengawasi wajah culas Anji.Anji terkekeh pelan, menyapu foto-foto itu dengan telapak tangannya lalu mengumpulkannya kembali ke dalam genggaman. "Tentu saja aku simpan, Gina. Ini adalah asuransi jiwaku. Kamu pikir aku tidak tahu jalan pikiranmu yang suka lempar batu sembunyi tangan?"Gina mengetakkan giginya rapat-rapt, merasakan hawa dingin merayap dari tengkuk hingga ke dadanya. "Kamu mau memeras aku lagi, Anji?! Uang tiga puluh juta rupiah tadi kurang untuk mulut serumus ini?!""Tiga p
"Ini ... ini pasti harganya ratusan juta!" desis Gina dengan napas tersengal-sengal, matanya berbinar penuh keserakahan kotor.Tanpa rasa ragu sedikit pun, Gina memasukkan jam tangan emas itu ke dalam saku mantel hitamnya. Ia merapikan kembali letak kotak beludru dan menutup laci meja rapat-rapat agar tidak menimbulkan kecurigaan saat Arham memeriksa ruangan kerjanya nanti.Gina melangkah cepat menuju pintu kamar kerja, membuka kuncinya perlahan, lalu menyelinap keluar kembali menuju koridor yang sepi. Senyum kemenangan menyeringai di wajahnya yang polesan makeup-nya tebal. Uang tiga puluh juta untuk Anji kini sudah berada di dalam genggamannya.Wanita itu melangkah mantap menuju kamarnya sendiri untuk bersiap-siap menemui Anji di kafe remang-remang sesuai janji mereka. Tanpa disadari oleh Gina, seluruh aksinya saat keluar dari kamar kerja Arham sempat tertangkap oleh sepasang mata kecil yang menatapnya dari balik celah pintu kamar seberang.Sean, putra kecil Arham yang berusia t
Sementara itu, di dalam kamar rawat nomor 304 rumah sakit kota, suasana sore terasa begitu tenang dan syahdu. Zara sedang duduk berlutut di samping tempat tidur besi, mengusapkan kain lap basah beraroma lembut pada lengan kiri Nenek Ajeng yang tidak terbalut perban luka bakar.Nenek Ajeng menatap wajah cucunya yang tekun bekerja dengan pandangan penuh rasa kasih. "Zara ... Kamu tidak capek merawat Nenek terus dari kemarin?"Zara mendongak, menyunggingkan senyum paling manis yang sanggup ia tampilkan di hadapan sang nenek. "Sama sekali tidak, Nek. Rasa capek Zara langsung hilang setiap kali melihat Nenek bisa tersenyum lagi seperti ini.""Nenek tahu kamu sedang memikul beban yang sangat berat, Nak," bisik Nenek Ajeng pelan, telapak tangannya yang kurus mengelus lembut helai rambut Zara. "Soal biaya rumah sakit dan pria bernama Arham itu ... Kamu tidak usah menyembunyikan apa-apa lagi dari Nenek."Gerakan tangan Zara yang sedang memegang kain lap seketika terhenti. Matanya berkaca-
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Gina akhirnya dengan nada suara yang melunak, terpaksa menelan harga dirinya di hadapan pria selingkuhannya di masa lalu itu.Anji menyunggingkan senyum kemenangan, menyadari bahwa umpan beracunnya telah ditelan bulat-bulat oleh wanita berotak dangkal di hadapannya. Pria itu merogoh saku celananya yang lusuh, mengeluarkan sebuah kantung plastik kecil berisi beberapa lembar dokumen lusuh dan foto-foto lama."Kita punya musuh yang sama, Gina," ucap Anji seraya menepuk-nepuk kantung plastik itu di atas meja. "Arham sudah menghancurkan hidup aku dengan memisahkan aku dari Nindy dan memutus semua akses rezeki aku. Dan dia juga sedang bersiap menghancurkan masa depan kamu."Gina menatap kantung plastik itu dengan dahi berkerut curiga. "Apa isi dokumen-dokumen itu?""Ini adalah bukti-bukti kecil yang bisa membuat posisi Arham tergoyang jika kita menggunakannya dengan benar," jawab Anji tenang tanpa mengalihkan pandangannya dari Gina. "Tapi tentu saja,
"Nenek ... apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Zara lirih ke tengah kesunyian malam, suaranya tenggelam bersama deru angin malam dan hantaman hujan yang tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan mereda.Ia perlahan bangkit berdiri, memunguti tas kainnya yang basah dan memasukkan kartu nama itu ke
Zara mematung dengan mulut sedikit terbuka, matanya melebar sempurna menatap garis wajah wanita di depannya. Hal yang sama juga terjadi pada wanita glamour tersebut; ia menghentikan aktivitas mengibas gaunnya, tangannya membeku di udara dengan pandangan mata yang terkunci rapat pada wajah Zara. Mer
Suara tamparan yang teramat keras bergema di lorong sempit itu. Wajah pria gempal itu terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang sangat jelas di pipi tembamnya. Cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Zara terlepas seketika karena rasa syok yang luar biasa. Pria itu memegangi pip
"Satu lagu lagi, Zara. Tolonglah, malam ini pengunjung kafe sedang ramai-ramainya. Sisa tips dari meja depan bakal aku bagi dua buat kamu," ucap Hendra, pemilik kafe remang-remang di sudut jalanan kota itu, sembari menyodorkan segelas air putih hangat ke arah Zara.Zara menghela napas panjang, men







