Seperti biasa, ditengah kepedihanku, aku selalu ingin sendiri. Dipantai selatan ini, angin asin menampar wajahku. Seolah realita menamparku aku tak punya siapapun, selain tuhan. Aku meluapkan segala amarah yang aku telan sendiri."Kenapa hidupku selalu dalam ketidak nyamanan?""Aku sudah mempersilahkan semua orang pergi, termasuk suamiku sendiri. Tapi, jangan bawa pergi bapakku!" Teriakku ditepi laut lepas. Ancaman, tekanan, ketakutan berhari-hari pecah ditempat ini dalam tangisan.Tanpa terasa, langit mulai gelap. Ya, waktu sholat maghrib tiba. Namun, musim hujan kali ini masih menyelimuti, hujan perlahan turun. Aku mencari masjid terdekat dan sholat dengan sisa kepedihan.Seusai sholat, langit seolah bertambah menangis seperti jiwaku. Aku menerobos hujan, bahkan badai hidup biasa aku terpa. Aku tak pernah takut hujan, bahkan kali ini angin bertiup sangat kencang. Ditengah perbatasan Purworejo-Jogja, lampu padam. Oh, rupanya ada pohon tumbang.Aku semakin ketakutan dan berhenti dilap
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-17 อ่านเพิ่มเติม