Melihat Ewan menatap dirinya, Nazar langsung merasa ada yang tidak beres. Dia buru-buru berkata, "Bocah sialan, kamu mau ngapain? Aku peringatkan, jangan macam-macam ...."Ewan tersenyum. "Aku nggak macam-macam. Aku hanya ingin mencoba apakah Cambuk Pemukul Dewa benar-benar sehebat yang kamu katakan."Begitu selesai berbicara, Ewan menekan kultivasinya hingga tingkat fondasi, lalu dia mengayunkan cambuk.Plak!Nazar langsung terjungkal ke belakang."Aduh! Sakit sekali! Bocah sialan, kamu benar-benar mukul aku?" teriaknya."Tua bangka, bukannya kamu seorang ahli tingkat dewa? Kenapa nggak melawan?" tanya Ewan.Sambil berbicara, dia kembali mengangkat Cambuk Pemukul Dewa."Bocah sialan, jangan keterlaluan! Aku peringatkan, orang sebaik apa pun pasti akan melawan kalau sudah terdesak. Kalau kamu terus begini, jangan salahkan aku kalau aku benar-benar ...."Sebelum Nazar selesai berbicara, Ewan sudah mengayunkan cambuk lagi."Sialan, aku akan bertarung habis-habisan denganmu ...."Boom!Na
Baca selengkapnya