"Tenang saja, Kak Neva. Ibuku nggak akan mungkin benci kamu," kata Ewan sambil tersenyum. Dalam hati, dia malah berpikir, 'Kalau Ibu tahu aku dan Neva sudah sejauh ini, dia pasti senang setengah mati.'Bagaimanapun, Aruna selalu percaya kalau wanita dengan tubuh seperti Neva pasti gampang memberikan cucu laki-laki.Namun, Neva tetap terlihat gugup. "Ewan, hadiah yang aku belikan buat Bibi nggak terlalu sedikit, 'kan? Atau ... gimana kalau kita balik lagi ke mal, nambah beberapa barang lagi?"Ewan hampir tertawa. Di tangannya sekarang sudah ada lebih dari 10 tas belanja, semuanya berisi hadiah yang dibeli Neva untuk Aruna."Kak Neva, kamu mau pindahin isi mal ke rumah, ya? Kita ini keluarga sendiri, nggak perlu berlebihan begitu.""Siapa yang keluarga sama kamu ...," gumam Neva refleks. Namun sebelum kalimatnya selesai diucapkan, Ewan sudah membuka pintu rumah sambil berseru, "Bu, aku pulang!"Namun, yang muncul di depan pintu bukan Aruna, melainkan Lisa.Gawat. Ewan membeku sejenak. Da
Read more