Khairen berdiri di sana.Rambutnya sedikit berantakan, lingkar hitam tipis di bawah matanya menandakan kurang tidur. Namun matanya, mata itu, tetap sama. Tajam, dalam, dan kini memuat sesuatu yang sulit Sunrise baca.“Kau sudah kembali,” ucap Sunrise pelan.“Iya,” jawab Khairen. “Baru sampai satu jam lalu.”Mereka saling diam beberapa detik. Udara di antara mereka terasa tegang, penuh hal-hal yang belum terucap.“Boleh aku masuk?” tanya Khairen akhirnya.Sunrise mengangguk dan menyingkir. Khairen melangkah masuk, pandangannya langsung tertuju pada Ellion. Wajahnya melunak seketika.“Dia tidur,” bisik Sunrise.Khairen mendekat, berdiri di sisi ranjang. Tangannya terulur, mengusap rambut Ellion dengan gerakan yang sama seperti sebelumnya, seolah ia sudah menghafalnya.“Aku bawa sesuatu,” katanya pelan. Ia mengeluarkan sebuah mobil mainan dari paperbag, sederhana, namun terlihat dipilih dengan hati-hati. Ia meletakkannya di meja kecil di samping ranjang.Sunrise menatap benda itu, dadany
Read more