Rasa itu kian membelenggu hasrat Aria dan Ethan. Keduanya beradu dalam keringat, desah yang membara dan sesekali hentakan yang membuat sendi ranjang berderit. Aria menikmati setiap sentuhan yang Ethan berikan, lembut, memabukkan, menenangkan dan anehnya sekaligus membakar habis kewarasannya. Aria mengerang saat Ethan menyentuk titik vital dalam tubuhnya, saat pria gagah itu menerjang inti kenikmatan tubuhnya. Dalam ingatannya, momen saat malam pertama mereka terlintas kembali. Rasa, aroma, suara hingga permukaan kulit mereka yang saling menemukan. Aria mengingatnya. Lalu, apakah dengan semua itu, dengan semua sentuhan dan perasaan yang nyata itu dia menyesalinya? Aria belum bisa memastikan. Namun, yang jelas dia menginginkan lelaki ini. Dengan kesadaran penuh, Aria membalik posisinya yang semula di bawah Ethan. Dia mengambil alih dan bermain dengan kemampuannya yang entah sejak kapan liar bak perempuan kesepian yang merindukan belaian.
Baca selengkapnya