“Lupakan saja.”Itu yang dikatakan oleh Aurelia malam itu, dengan suara yang berusaha tegar. “Maaf kalau aku mungkin melewati batas. Pikiranku tadi mulai aneh. Sudahlah.”Aurelia lekas memejamkan mata, seolah ingin menyudahi percakapan sebelum hatinya benar-benar runtuh. Namun, ia sadar akan pergerakan pelan dari Gian. Suaminya itu membalikkan badan, hingga kini mereka saling berhadapan. Tak ada kata-kata, hanya kecupan ringan yang hangat di keningnya.Pagi berikutnya, udara sedikit lebih cerah. Sisa-sisa hujan semalam membekas di dedaunan, tapi langit tampak bersih. Di kampus, Aurelia mencoba membenahi pikirannya. Ia menyambut hari dengan semangat baru, bertekad menyibukkan diri.Di kantin, ia duduk bersama Wulan dan Doni, dua sahabatnya yang selalu punya cara membuat segalanya terasa lebih ringan—atau minimal, lebih absurd.“Aku harus gimana lagi ya buat cari waktu luang,” ucap Aurelia sambil menusuk-nusuk boba dengan sedotan. “Biar otak ini nggak sempat mikir yang aneh-aneh.”“Lah,
Last Updated : 2025-07-31 Read more