“Farah, ini Zira. Zira, ini Kak Farah, sepupu jauhku dari pihak Ibu,” Revan memperkenalkan.Farah menatap Zira. “Aku ingat. Tentu saja. Aku sering mendengar namamu dari … beberapa orang. Kamu putrinya Rayhan, kan? Dokter ortopedi itu?”Zira mengangguk, sedikit terintimidasi oleh tatapan intens Farah. “Iya, Kak.”Mereka mengobrol sebentar tentang rencana masa depan Revan, topik yang membuat Zira lega karena tidak melibatkan dirinya. Tapi tatapan Farah terus kembali ke Zira, seolah ia sedang membaca rahasia yang terukir di dahi gadis itu.Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Farah meraih lengan Zira, menariknya sedikit menjauh dari Revan, ke samping pilar toko jam. Revan, yang terlalu sibuk membalas pesan, tidak menyadari ketegangan yang tiba-tiba muncul.Zira merasa jantungnya berdebar kencang. Aura Farah, yang semula dingin dan glamor, kini terasa mengancam.“Zira, aku tidak bermaksud ikut campur,” bisik Farah, suaranya pelan tetapi mengandung bobot sebuah batu. Matanya adalah dua keping
Last Updated : 2025-11-16 Read more