Puspa berkata pelan, “Sudahlah, nggak usah dimaki lagi. Aku nggak peduli kok.”Sambil bicara, tangannya tetap sibuk ambilkan lauk untuk Eric.Di bawah “suapan” Puspa, rasa kesal di hati Eric perlahan menghilang.Eric berkata, “Indra kena tembakan di tulang belakangnya. Kemungkinan besar dia nggak akan bisa berdiri lagi.”Ekspresi Puspa nyaris nggak berubah. “Aku sudah dengar dari mereka.”“Kamu sendiri gimana?” Sambil tanya itu, Eric diam-diam amati raut wajahnya.Puspa jawab dengan tenang, “Yang seharusnya punya pendapat soal itu yah dokter, bukan aku.”Eric suapkan sebutir nasi ke mulutnya, mengunyah perlahan.“Jadi, kamu nggak ingin jenguk dia?”Begitu sadar, ia langsung suruh orang cari tahu kondisi Indra. Ia tahu pria itu juga dirawat di rumah sakit ini, juga tahu detail kondisinya.Eric sempat merasa menyesal, ternyata pria itu bernasib baik, nggak mati, masih hidup.Sungguh disayangkan. Terlalu disayangkan.Ia bahkan sudah bersiap kirim karangan bunga duka. Ternyata harapan itu
続きを読む