‘Kapan dia siapkan itu?’Pikiran itu langsung terlintas di benak Puspa, dan tanpa ragu ia pun tanya, “Sejak kapan kamu siapkan itu?”Eric sama sekali nggak menyembunyikan niatnya, ia jawab dengan jujur, “Sejak lama, aku sudah siap.”Sejak ia menyadari perasaannya sendiri, sejak saat itu pula niat itu tumbuh. Pernikahan kontrak hanyalah sebuah pintu masuk, langkah awal menuju sesuatu yang benar-benar ia inginkan.Puspa balik tanya, “Kalau aku nggak mau, gimana?”Eric tersenyum ringan. “Nggak apa-apa. Aku lebih muda dari kamu, aku sanggup tungguin kamu.”Bahkan jika ia menolak, selama mereka masih terikat sebagai suami istri di atas kertas, baginya itu sudah cukup.Namun tentu saja, jauh di lubuk hatinya, ia berharap hubungan mereka jadi nyata, nggak cuma sekadar status saja. Tapi, yang paling penting dia akan hormati keputusan Puspa.Cincin itu berkilau lembut, begitu pula sorot matanya, jernih, tulus, tanpa kepura-puraan.Setiap emosi Eric selalu terpancar jelas di hadapan Puspa, nggak
続きを読む