Teilen

Bab 130 Terpaksa

last update Zuletzt aktualisiert: 14.01.2026 21:44:10

Pagi itu, suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah waktu melambat dan menahan napas. Meja makan sudah terisi tiga orang: Dinda, Endang, dan Danu. Uap tipis dari teh hangat mengepul ke udara, memberikan aroma yang menenangkan, sementara piring berisi nasi dan lauk tersaji tanpa banyak yang tersentuh. Dinda tampak ragu-ragu, sendoknya hanya ia putar pelan di atas piring, seolah sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar sarapan.

“Ada apa, Din?” tanya Endang akhirnya, suaranya lembut namun penuh perhatian. Sejak tadi, ia menyadari wajah putrinya terlihat gelisah. Dinda menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya.

“Semalam… Mas Rizal datang, Ma,” ucapnya dengan suara bergetar, seolah kata-kata itu adalah beban yang sulit untuk diangkat.

Sendok di tangan Danu langsung berhenti. Ia menatap Dinda tajam, matanya menyala dengan kekhawatiran dan kemarahan. “Mau apa dia datang?” suaranya menin
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 130 Terpaksa

    Pagi itu, suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah waktu melambat dan menahan napas. Meja makan sudah terisi tiga orang: Dinda, Endang, dan Danu. Uap tipis dari teh hangat mengepul ke udara, memberikan aroma yang menenangkan, sementara piring berisi nasi dan lauk tersaji tanpa banyak yang tersentuh. Dinda tampak ragu-ragu, sendoknya hanya ia putar pelan di atas piring, seolah sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar sarapan.“Ada apa, Din?” tanya Endang akhirnya, suaranya lembut namun penuh perhatian. Sejak tadi, ia menyadari wajah putrinya terlihat gelisah. Dinda menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya. “Semalam… Mas Rizal datang, Ma,” ucapnya dengan suara bergetar, seolah kata-kata itu adalah beban yang sulit untuk diangkat.Sendok di tangan Danu langsung berhenti. Ia menatap Dinda tajam, matanya menyala dengan kekhawatiran dan kemarahan. “Mau apa dia datang?” suaranya menin

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 129 Bertemu

    “Siapa yang datang malam-malam begini?” tanya Dinda, suaranya pelan namun sarat rasa ingin tahu. Ia melangkah keluar dari kamar dengan rambut masih digulung handuk putih, ujung-ujungnya meneteskan sisa air. Kulitnya terasa segar setelah mandi, aroma sabun lembut masih melekat, kontras dengan rasa lelah yang sejak tadi menekan bahunya. Seharian ini, Dinda bekerja menjadi kasir di tempat cuci mobil. Tangannya pegal, punggungnya sedikit nyeri, tapi ia sudah terbiasa. Pekerjaan itu bukanlah pekerjaan impiannya, namun cukup untuk membuatnya merasa berguna dan mandiri. Baru saja ia berniat merebahkan tubuh dan menikmati malam yang tenang, suara bel itu justru memecah kesunyian yang nyaman.Rumah terasa sepi. Mamanya sedang pergi menghadiri pesta keluarga, sementara Danu masih berada di tempat usahanya. Kesendirian itu membuat jantung Dinda berdetak sedikit lebih cepat, menandakan keraguan dan kecemasan yang tidak bisa ia hindari. Ia tidak langsung membuka pintu. Ada naluri waspada yang men

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 128 Tamu malam hari

    Ruang tengah rumah terasa sunyi, meski lampu menyala terang, menciptakan kontras yang mencolok antara kecerahan fisik dan kegelapan emosional yang menyelimuti hati setiap penghuninya. Danu duduk di ujung sofa, punggungnya sedikit membungkuk, seolah memikul beban dunia di atas bahunya. Kedua tangannya saling bertaut, menciptakan gerakan refleks yang menunjukkan ketidakpastian dan kegelisahan. Wajahnya terlihat letih, bukan hanya karena fisik yang tertekan, tetapi juga karena beban batin yang semakin berat, sebuah beban yang terus menggerogoti jiwanya.Endang, mamanya, keluar dari kamar dengan langkah pelan, seolah takut mengganggu keheningan yang menyakitkan. Ia berhenti sejenak untuk mengamati putranya, lalu duduk di kursi seberang Danu. Tatapannya penuh tanya, juga harap yang rapuh, seolah ingin mencari jawaban dari ketidakpastian yang menggantung di antara mereka.“Dan…” panggil Endang lembut, meski suaranya bergetar, menandakan kerentanan yang ia rasakan. “Dina… mau terima pemberia

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 127 Kehilangan

    Mobil yang dikemudikan oleh Amar berhenti tepat di depan rumah pagar. Perjalanan dari pemakaman masih menyisakan rasa lelah dan haru di hati mereka. Bau tanah basah yang menyengat, bersama doa-doa yang dipanjatkan di makam almarhum suami Aini, masih terasa menempel di dada mereka masing-masing, seolah-olah mengingatkan akan kehilangan yang mendalam.Aini turun paling akhir. Ia menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian sebelum melangkah ke halaman rumah. Namun langkahnya terhenti. Alisnya berkerut, matanya membulat melihat tumpukan kardus, paper bag, dan plastik besar yang memenuhi area depan teras. “Astaghfirullah…” gumam Aini lirih, hatinya bergetar.Dito ikut menoleh, lalu berhenti melangkah. “Barang apa ini semua? Kenapa di luar?" tanyanya heran, kebingungan menyelimuti wajahnya.Amar mendekat, wajahnya berubah serius. “Itu… perlengkapan bayi?” suaranya terdengar ragu, tetapi ada nada tegas yang tak bisa diabaikan.Sarti dan Ami saling pandang, ekspresi mereka mence

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 126 Luka yang belum sembuh

    Ruang tengah rumah itu telah berubah drastis, kini menyerupai gudang perlengkapan bayi. Paperbag bertumpuk di sudut-sudut ruangan, kardus-kardus terbuka berserakan di sana-sini, sementara boks plastik berisi perlengkapan mandi bayi mengisi hampir seluruh area. Kantong-kantong belanja bermerek dari mall ternama memenuhi lantai, menciptakan pemandangan yang sangat tidak biasa.Begitu Dinda melangkah keluar dari kamar tidurnya, ia tertegun. Matanya membelalak, mulutnya menganga, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Astaghfirullah…” gumamnya dengan nada kaget yang tak bisa ia sembunyikan. Dengan perlahan, ia berputar, memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah nyata dan bukan ilusi. Lalu, dengan suara yang meninggi penuh keterkejutan, ia berteriak, “MAAA!”Tak lama kemudian, Endang, ibunya, keluar dari kamar dengan ekspresi heran di wajahnya. “Kenapa teriak-teriak, Din?

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 125 Belum jera

    Kamar Dina terasa redup meski lampu menyala, seolah suasana hati yang gelap menutupi cahaya yang seharusnya menerangi. Tirai jendela setengah tertutup, membiarkan cahaya sore yang lembut masuk samar-samar, menciptakan bayangan panjang di dinding. Dina duduk bersandar di kepala ranjang, memeluk bantal erat di dadanya seperti mencari perlindungan dari dunia luar. Napasnya tidak beraturan, bergetar antara ketakutan dan harapan. Alma duduk di kursi dekat ranjang, tubuhnya sedikit condong, seolah siap menangkap Dina kapan pun ia runtuh dalam ketidakpastian.“Ma…” suara Dina pecah lebih dulu, penuh keraguan. “Aku takut.”Alma langsung menoleh, matanya penuh perhatian. “Takut apa, Din?”Dina menunduk, jarinya meremas ujung bantal, seolah itu satu-satunya hal yang bisa memberinya kekuatan. “Takut… dia datang lagi. Takut suatu hari dia bawa pengacara, bawa alasan ini-itu, terus… anak-anakku diambil.” Suara Dina semakin bergetar, menggambarkan betapa dalamnya rasa takut yang menggerogoti hatiny

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status