ログインSekar melirik ke belakang punggung Radja dan Djiwa. Tak ada koper, tak ada tas besar—tak ada tanda-tanda mereka benar-benar datang untuk menetap.
“Di mana barang-barang kamu, Dja?” tanya Sekar pelan, namun tajam. Radja menghela napas panjang. Ia menarik Djiwa sedikit lebih dekat, seolah sedang meneguhkan keputusan di hadapan ibunya sendiri. “Kami sudah resmi menikah, Mi. Hari ini. Beberapa jam yang lalu.” Ia menoleh pada Djiwa, senyum tipis penuh rSultan terdiam beberapa saat. Seolah butuh waktu untuk benar-benar mencerna kalimat yang baru saja keluar dari bibir istrinya.Namun jeda itu tak berlangsung lama.“Mama hamil?!” Seruan Binar memecah suasana.Bocah kecil itu langsung turun dari pangkuan ayahnya, lalu berdiri menghadap Fairish dengan mata berbinar penuh antusias.“Jadi … di perut Mama sekarang ada adek?” tanyanya, nyaris melompat kecil.Fairish tertawa pelan, lalu mengangguk dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.“Iya, Nak. Mama hamil,” jawabnya lembut. “Sebentar lagi kamu benar-benar punya adek.”Sultan yang sejak tadi masih terpaku akhirnya bangkit dari duduknya. Tanpa ragu, ia langsung menarik Fairish ke dalam pelukan.“Ini bukan mimpi, kan, Rish?” bisiknya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. “Kamu benar-benar hamil?”Fairish mengangguk di dalam pelukan itu. “Iya, Mas … aku benar-benar hamil.”Ia perlahan melepaskan diri, lalu kembali mengulurkan testpack ke arah suaminya.“Lihat, dua garis,” katanya lirih, na
Djiwa duduk seorang diri di sofa kamarnya. Satu tangannya mengusap perlahan perutnya yang mulai sedikit membuncit, gerakan yang dilakukan tanpa sadar—seolah mencoba menenangkan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya sendiri.Pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar. Ia sempat mengira Radja yang masuk. Namun ternyata tiga kepala kecil muncul berurutan dari balik pintu.“Mommy …!” seru Ratu paling dulu, melangkah cepat ke dalam kamar. “Mommy udah bangun!”Djiwa tersenyum kecil melihat putri bungsunya. “Udah, sayang. Mommy juga udah mandi.”Ratu langsung naik ke sofa dan memeluk ibunya dari samping. Naren ikut menyusul, memeluk dari sisi lain. Hanya Regan yang memilih duduk di sofa seberang, menatap ibunya dengan tenang.“Gimana belajarnya tadi sama Kak Bagas?” tanya Djiwa lembut. “Lancar? Seru?”Ketiganya mengangguk bersamaan.“Mommy,” kata Ratu sambil melepas pelukannya, menengadah menatap wajah ibunya. “Kita punya cerita.”“Cerita apa, Nak?” Djiwa tersenyum hangat, menunggu.Ratu mel
Radja baru saja memasuki ruang kerjanya. Langkahnya tenang, namun ada ketegangan yang tak bisa disembunyikan dari cara rahangnya mengeras. Tangannya terulur mengambil iPad di atas meja. Ada yang mengganjal. Kecemasan yang Djiwa rasakan bisa jadi bukan tanpa alasan. Layar menyala. Rekaman CCTV siang hari mulai diputar. Beberapa detik pertama biasa saja. Namun saat sosok itu muncul di layar, mata Radja langsung membulat. Sekar. Ibunya datang. “Ternyata … karena ini,” gumamnya dingin. Ia mempercepat rekaman sampai sang ibu bicara bersama istrinya. Rahangnya mengeras saat suara percakapan itu terdengar jelas. Setiap kata yang keluar dari mulut ibunya seperti pisau yang perlahan menggores kesadarannya. Ia tak menyelesaikan rekaman itu. Tangannya langsung menekan layar, mematikannya. Tanpa ragu. Langkahnya cepat keluar dari ruangan. Tujuannya satu, pergi ke mansion Reinard. Dan saat ia turun ke lantai bawah, Djiwa sudah tidak ada di tempat sebelumnya. Mobil melaju dengan kecepatan
“Oke, anak-anak,” seru Bu Delima, guru Bahasa Indonesia yang siang itu mengajar di kelas Regan, Naren, Ratu, dan juga Binar. Seluruh murid di kelas langsung menatap ke arah guru mereka dengan rasa penasaran. “Boleh Ibu minta waktu kalian sebentar?” lanjut Bu Delima. “Boleh, Bu,” jawab beberapa murid hampir bersamaan. Bu Delima tersenyum hangat. “Begini,” katanya kemudian. “Ibu dari teman kita saat ini sedang menjalani kehamilan.” Ia menatap ke arah Regan, Naren, dan Ratu yang duduk di bangku mereka. “Ibu dari kembar, Regan, Naren, dan juga Ratu.” Beberapa murid langsung menoleh ke arah tiga bersaudara itu. “Jadi sebelum pulang, boleh Ibu minta bantuan kalian semua?” lanjut Bu Delima lembut. “Minta bantuan apa, Bu?” tanya salah satu murid dari bangku belakang. Bu Delima menyatukan kedua tangannya di depan dada. “Ibu ingin kalian membantu mendoakan beliau,” ucapnya lembut. “Supaya ibu mereka yang sedang hamil diberi kesehatan.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Semoga
“Terminasi bisa dilakukan pada usia kehamilan sekitar enam belas hingga dua puluh minggu, Tuan,” ujar dokter itu dengan suara tenang, berusaha memilih setiap kata dengan hati-hati. “Biasanya pasien akan diberikan obat untuk memicu kontraksi, sehingga janin dapat dikeluarkan melalui jalan lahir.” Radja duduk diam di kursi seberang meja dokter. Tatapannya lurus, kosong, seolah seluruh penjelasan itu hanya lewat di telinganya tanpa benar-benar ia tangkap. “Setelah prosedur selesai,” lanjut sang dokter pelan, “Penanganan selanjutnya bisa dilakukan oleh pihak rumah sakit atau oleh keluarga.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Pemakaman janin bisa kami bantu urus melalui prosedur rumah sakit, atau jika keluarga ingin menanganinya sendiri, kami juga dapat menyerahkannya kepada pihak keluarga.” Dokter itu merapatkan kedua tangannya di atas meja. “Selain metode terminasi dengan induksi kontraksi,” lanjutnya, “Ada juga prosedur lain yang disebut dilatasi dan evakuasi. Itu merupakan
“Kita jangan sedih dulu,” ucap Regan sambil berjalan memasuki gedung sekolah bersama kedua adiknya. Langkahnya tenang, meskipun wajahnya terlihat sedikit lebih serius dari biasanya. “Kalau adek di perut Mommy lagi gak sehat, kita doain aja supaya dia cepat sembuh,” lanjutnya. “Sekalian kita doain Mommy juga.” Ratu dan Naren berjalan di sisi kanan kirinya. Keduanya mengangguk pelan. “Biar Tuhan kabulkan, dan adek tetap bisa lahir ke dunia,” tambah Regan. Naren mengernyitkan dahinya. “Tapi Daddy kan gak bilang kalau adek lagi kenapa-kenapa,” katanya bingung. “Terus kenapa harus didoain?” Regan menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada adiknya itu. “Mendoakan orang itu gak harus kalau dia lagi sakit atau kena musibah,” jelasnya sabar. “Kalau orangnya sehat juga boleh didoakan supaya tetap sehat.” “Oh ….” Naren mengangguk pelan, akhirnya mengerti. Matanya tiba-tiba berbinar. “Kalau begitu kita doainnya di kelas aja, Mas,” usulnya. “Bareng temen-temen.” Ratu ikut menimpali
“Kamu serius?” desis Kaisar. Ia langsung bangkit dari duduknya, dan berdiri di hadapan sang istri. Tatapannya dingin dan menusuk. “Iya, Djiwa serius. Djiwa emang lihat Mas sama perempuan itu kemarin malam,” balas Djiwa tenang. Dan sebelum Kaisar sempat membalas—Djiwa menambahkan dengan suara yan
“M-mas ... jangan bercanda,” Djiwa mengerucutkan bibirnya sebal, takut diberi harapan palsu. Radja tersenyum miring. “Untuk apa saya bercanda? Memangnya ada saya katakan kalau kita ke sini untuk kerja?” satu alisnya terangkat tipis. Napas Djiwa tercekat di tenggorokan. “Ta-tapi, schedule yang Pa
“Sultan, kamu di mana?” tanya Radja pada sang adik melalui telepon. Saat ini dia masih berada di depan ruangan rawat inap kakek Djiwa yang tiba-tiba menghilang dari ruangan. Sementara Djiwa di hadapannya tampak cemas dan gelisah. “Saya baru saja keluar dari ruangan radiologi, kenapa?” suara Sulta
Ruang tunggu klinik fertilitas itu sunyi, hanya bunyi jam dinding yang terdengar pelan. Fairish duduk merapat pada Sultan, kedua tangannya dingin dan saling menggenggam erat di pangkuannya. Pintu ruangan dokter Hans terbuka. “Nyonya Fairish, Dokter Sultan. Maaf membuat kalian menunggu lama.” “Ti







