LOGINSekar melirik ke belakang punggung Radja dan Djiwa. Tak ada koper, tak ada tas besar—tak ada tanda-tanda mereka benar-benar datang untuk menetap.
“Di mana barang-barang kamu, Dja?” tanya Sekar pelan, namun tajam. Radja menghela napas panjang. Ia menarik Djiwa sedikit lebih dekat, seolah sedang meneguhkan keputusan di hadapan ibunya sendiri. “Kami sudah resmi menikah, Mi. Hari ini. Beberapa jam yang lalu.” Ia menoleh pada Djiwa, senyum tipis penuh r“Daddy ...!” Begitu melihat Radja kembali ke ruang tunggu, Ratu langsung merentangkan kedua tangannya dari pangkuan Djiwa. Tanpa menunggu lama, Radja mengangkat putrinya ke dalam gendongan. Tubuh kecil itu segera memeluk leher sang ayah erat. “Maaf ya, Sayang,” ucap Radja pelan sambil mengusap punggung putrinya. “Makan malamnya harus ditunda lagi.” Ratu menggeleng cepat. “Nggak apa-apa, Daddy.” “Bener?” “Iya.” Bocah itu tersenyum manis. “Ratu gak marah. Nggak sedih juga. Soalnya sekarang lagi nunggu adek bayi lahir.” Sudut bibir Radja terangkat tipis. “Makasih, Sayang.” Pria itu menundukkan kepala dan mengecup kening putrinya lama. Tatapannya kemudian beralih kepada Djiwa yang sejak tadi memperhatikan mereka dengan mata berkaca-kaca. “Aku kira kamu ke mana tadi, Mas,” ucap Djiwa lirih. “Aku sempet khawatir.” Radja terdiam sesaat. Djiwa tersenyum kecil. “Ternyata kamu ke sana buat bantu Mas Kai bisa nemenin Karin melahirkan. Walaupun cuma malem ini aja kamu bebasi
“Mas Kai ...?” Suara Karin pecah bersama tangis yang tak lagi mampu ia tahan. Air mata mengalir deras membasahi kedua pipinya yang pucat karena kelelahan dan kesakitan kontraksi. Kaisar berdiri beberapa langkah darinya. Untuk sesaat, pria itu hanya mampu menatap sang istri. Dadanya terasa sesak. Perempuan yang selama ini berusaha ia lindungi justru harus menanggung semua akibat dari kesalahan mereka berdua. “Rin ....” bisiknya serak. Ia melangkah mendekat, ingin memeluk, ingin menghapus air mata itu, ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun borgol yang melingkar di kedua pergelangan tangannya membuat gerakannya terhenti. “Lepaskan borgolnya.” Suara berat dari ambang pintu membuat seluruh kepala menoleh. Di sana berdiri Radja. Tegak, dingin, dan berwibawa. Tatapannya lurus tertuju pada Kaisar. Salah satu petugas polisi yang mendengar instruksi Radja segera mengangguk dan membuka borgol di tangan pria itu. Borgol terlepas. Kaisar menatap kedua p
Hujan turun begitu deras malam itu. Suara air yang menghantam atap bangunan kantor polisi terdengar samar sampai ke dalam sel tahanan yang dingin dan lembap. Kaisar duduk sendirian di sudut ruangan sempit tersebut. Punggungnya bersandar pada dinding, sementara kedua tangannya bertaut di depan lutut. Tatapannya kosong menembus jeruji besi di hadapannya. Sudah beberapa hari dia berada di sana. Dan selama itu pula, tidur terasa begitu sulit. Pikirannya dipenuhi banyak hal. Tentang Ratu yang terbaring lemah di rumah sakit waktu itu. Tentang wajah marah Radja. Tentang ibunya. Dan tentang sang istri yang sedang hamil darah dagingnya, Karin. Kaisar memejamkan matanya perlahan saat suara petir menggelegar di luar sana. JEDARRR!!! Napasnya tertahan sesaat. Hujan seperti ini membuat pikirannya kembali mengingat malam ketika semuanya berubah kacau. Pria itu men
“Syukurlah, lukanya sudah mulai kering.” Sultan melepas perban di kepala keponakannya dengan gerakan hati-hati. Tatapannya serius memperhatikan luka kecil di dekat pelipis Ratu. “Kalau bagian ini nanti mengelupas,” lanjutnya pelan sambil menunjuk bekas luka tersebut, “kemungkinan akan meninggalkan bekas sedikit.” Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Radja dan Djiwa secara bergantian. “Nanti rutin oleskan salep penghilang bekas luka, supaya tidak permanen.” Djiwa mengangguk cepat dengan wajah lega. “Iya, Mas. Makasih banyak.” Ratu yang duduk manis di atas ranjang langsung memegang pelipisnya sendiri. “Bekasnya jelek gak, Om?” tanyanya polos. Sultan tersenyum tipis. “Tidak terlalu kelihatan nanti.” “Syukurlah,” gumam bocah itu lega. “Sekarang waktunya suntik!” Suara Binar langsung memecah suasana. Bocah
“Daddy, kapan perbannya dibuka?” tanya Ratu sambil duduk manis di depan meja rias kecilnya. Radja berdiri di belakang putrinya, menyisir rambut pirang panjang bocah itu dengan gerakan pelan dan hati-hati. “Sebentar lagi,” jawabnya tenang. “Nanti Daddy tanyakan lagi ke Om Sultan kapan boleh dilepas.” Ratu mengangguk pelan, lalu memperhatikan wajahnya sendiri di cermin. “Oh iya,” lanjut Radja, jemarinya masih merapikan rambut sang putri. “Kalau Ratu sudah benar-benar sembuh, kita jadi makan malam perayaan kenaikan kelas, kan?” Ratu langsung mendongak menatap ayahnya dari pantulan cermin. “Iya,” balasnya cepat. “Tapi gak mau di sini.” Kening Radja terangkat tipis. “Hm?” “Mau jalan-jalan ke luar negeri.” Ada jeda beberapa detik sebelum sudut bibir Radja terangkat samar. “Luar negeri?” ulangnya pelan. “Ke mana memangnya? Kamu mau ninggalin alpaca kamu, hm?”
“Wah, Princess Ranatuhita akhirnya sudah boleh pulang,” ucap dokter pagi itu setelah selesai memeriksa kondisi Ratu. Bocah kecil itu langsung membulatkan matanya antusias. “Beneran, Dok?” tanyanya heboh. “Ratu udah gak sabar mau lihat alpaca yang dibeliin Daddy.” Dokter itu terkekeh pelan lalu mengangguk. “Tentu saja benar. Kondisi kamu sudah jauh lebih baik.” Ratu langsung menoleh pada sang ayah dengan senyum lebar, membuat Radja tanpa sadar ikut tersenyum tipis menatap putri kecilnya. “Karena Princess Ratu bahagia,” lanjut dokter itu lembut. “Daddy, Mommy, dan kakak-kakaknya terus nemenin. Jadi proses penyembuhannya lebih cepat. Tidak ada tekanan batin yang berat selama masa pemulihan.” Tatapannya kemudian beralih pada Radja dan Djiwa. “Terima kasih karena sudah mendampingi anak Anda sampai hari ini,” ucapnya tulus. “Kasus seperti ini sebenarnya cukup rawan untuk anak seusia Ra
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d
“Kamu yang masak?” tanya Radja sembari menyuapkan makanan ke mulutnya. Tatapannya tertuju pada Djiwa, penuh selidik sekaligus perhatian. “Iya, Mas,” jawab Djiwa lembut. “Selama gak capek, aku pengen masakin sarapan sama makan malam buat kamu dan anak-anak.”
“Mas ….” Radja tersentak. Refleks ia meletakkan ponselnya ke atas nakas, bahkan sebelum sempat memutar rekaman yang baru saja dikirim Sultan. “Ada apa, sayang?” tanyanya lembut, telapak tangannya mengusap pipi Djiwa. “Mau ke kamar mandi, hm?” “Haus,” bisik Djiwa lirih. “Oke,” Radja segera me







