เข้าสู่ระบบ"Sini, Sayang," ujar Aqila, menarik Kekey ke dalam pelukannya. Bukan karena sayang, tapi karena ia tahu, anak inilah satu-satunya tamengnya agar Fahmi tidak benar-benar meninggalkannya. "Besok kita ke rumah sakit lagi ya? Kita temani Papa sampai Papa mau pulang ke rumah sama kita."Kekey hanya mengangguk pelan dalam pelukan ibunya. Ia tidak tahu bahwa ia hanyalah sebuah alat bagi wanita yang melahirkannya.Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar VIP 12. Fahmi sudah terbangun sejak fajar. Meskipun rasa nyeri di punggungnya masih terasa seperti disayat sembilu, ia memaksa dirinya untuk duduk di tepi ranjang dengan bantuan perawat.Wajahnya tampak kaku dan dingin. Ketajaman matanya kembali, meski tubuhnya masih terbalut perban tebal.Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Namun yang muncul bukan Aqila, melainkan Bram dan Rina.Rina tampak sudah lebih segar dengan pakaian yang bersih, meski matanya yang sedikit bengkak tak bisa menutupi kesedihan semalam. Bram berjalan di belakangny
Sore berganti malam yang mulai larut. Namun udara di dalam rumah Rina terasa jauh lebih menyesakkan dari pada sebelumnya. Lampu ruang tamu yang berpendar kekuningan seolah menjadi saksi bisu atas terbongkarnya satu per satu lapisan dosa keluarga Haryono.Rina masih memegang jurnal hitam itu dengan tangan gemetar. Setelah mengetahui fakta mengerikan tentang keterlibatan Aqila dalam jaringan perdagangan manusia, ia mengira tidak ada lagi yang bisa membuatnya lebih terkejut. Namun, matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat rapi di bagian paling belakang sampul buku tersebut.Kertas itu berbeda dengan halaman jurnal lainnya. Warnanya putih bersih, seolah baru saja diselipkan atau memang sengaja dijaga agar tidak kusam."Bram ... ini apa?" bisik Rina, nyaris tak terdengar.Bram mendekat, ikut memperhatikan kertas itu. Ia mengerutkan kening. "Aku belum sempat membaca bagian itu secara detail tadi. Coba buka, Rin."Dengan gerakan perlahan, seolah takut kertas itu akan hancur atau
Bram meletakkan kunci mobil di atas meja, lalu menatap Rina dengan tatapan meminta maaf. "Rin, sebelumnya aku mau minta maaf. Aku sudah lancang masuk ke dalam rumahmu pasca kebakaran kemarin. Sebenarnya tujuanku baik, aku mau membantumu membereskan sisa-sisa barang sebelum penjarah datang."Rina menggeleng pelan, ia duduk di sofa yang sudah ditutupi kain pelindung. "Tidak apa-apa, Bram. Aku justru berterima kasih. Rumah ini memang sedang rentan sekarang."Bram menarik napas panjang, ia mulai bercerita. "Waktu itu, aku berniat mengambil palu dan paku di gudang belakang. Aku pikir aku bisa membuat pembatas sementara dari papan kayu untuk menutupi bagian dinding yang jebol supaya tidak ada orang luar yang masuk. Pas aku lagi ambil palu, aku merasa ada yang aneh dengan lantai kayu di gudang itu."Rina mengerutkan kening. Gudang belakang rumahnya memang jarang disentuh, biasanya hanya digunakan Ervan untuk menyimpan barang-barang lama."Lantai kayu di sana bunyinya kosong saat diinjak," la
Sore itu, langit di atas rumah sakit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Koridor rumah sakit yang biasanya sibuk, kini terasa sedikit lebih lengang seiring berakhirnya jam besuk sore. Aqila berdiri di depan pintu kamar VIP Fahmi, tangannya masih menggandeng erat jemari kecil Kekey yang tampak sangat kelelahan.Wajah Aqila tampak tegang, namun ada kilatan aneh di matanya. Kilatan yang bukan berasal dari rasa sedih, melainkan ambisi yang belum tuntas. Ia melirik Pak Gunawan, pengacaranya, yang sejak tadi berdiri kaku di sampingnya."Kekey sayang, tunggu sebentar di sini ya sama Pak Gunawan. Mama ada barang yang ketinggalan di dalam," ujar Aqila dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, meski matanya terus melirik ke arah dalam melalui celah kaca pintu yang tertutup.Kekey hanya mengangguk lemah. Bocah itu terlalu kecil untuk memahami badai yang sedang melanda kedua orang tuanya. Ia hanya ingin pulang dan tidur di kamarnya yang nyaman.Pak Gunawan melirik jam tangan mew
Sebelum benar-benar melangkah keluar, Rina mendekati Kekey. Ia mengusap rambut bocah itu dengan penuh kasih sayang. Bagaimanapun juga, Kekey tidak bersalah. Kekey adalah korban dari ego dunia yang rumit."Tante pulang ya, Kekey sayang," ucap Rina sambil mencium kening Kekey dengan tulus.Kekey, yang dasarnya adalah anak yang manis dan baik hati, tiba-tiba memeluk leher Rina sebentar. "Makasih ya Tante sudah jaga Papa semalam. Tante Rina pulang hati-hati ya di jalan. Jangan lupa makan, nanti Tante sakit kayak Papa,” ujarnya dengan nada bicara ciri khas anak-anak.Mendengar perhatian kecil dari mulut mungil itu, pertahanan Rina nyaris runtuh lagi. Air matanya hampir tumpah, namun ia sekuat tenaga menahannya. Ia memberikan satu anggukan kecil pada Kekey sebelum akhirnya berbalik.Saat ia melintasi Aqila yang berdiri tegak di dekat pintu, langkah Rina melambat. Kedua wanita itu bertemu tatap. Tidak ada kata-kata yang terucap, namun ada perang dingin yang berkecamuk di antara mereka. Tat
Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar VIP itu. Di satu sisi, Aqila berdiri dengan senyum kemenangan yang tersamar, didampingi pengacaranya yang tampak kaku. Di sisi lain, Rina terpaku menatap Kekey, bocah kecil yang kini membasahi seprai rumah sakit dengan air matanya.Rina bisa melawan caci maki Aqila. Ia bisa bertahan menghadapi ancaman hukum Pak Gunawan. Bahkan, ia sanggup mengabaikan pandangan sinis dunia demi cintanya pada Fahmi. Namun, saat berhadapan dengan sepasang mata polos milik Kekey, seluruh keberanian Rina luruh. Ia merasa seperti seorang penjahat yang tertangkap basah sedang mencuri kebahagiaan dari sebuah rumah yang rapuh."Papa ... pulang ya? Kekey takut kalau Papa di sini terus," isak Kekey lagi, jemari kecilnya mengelus lengan kekar Fahmi yang tak terpasang infus.Fahmi memejamkan mata sejenak, menahan rasa sesak yang jauh lebih menyakitkan dari pada luka bakar di punggungnya. Ia melirik Rina, mencoba mencari jawaban di mata wanita itu. Namun, ia hanya menemuk







