Indira melangkah pergi begitu saja dengan dada yang terasa dihimpit batu besar. Langkahnya cepat, setengah berlari, seolah kalau ia berhenti satu detik saja, air matanya akan jatuh dan ia akan runtuh di hadapan Bara.Permintaan maaf itu yang selama enam tahun ia tunggu, ternyata tak datang sebagai obat, melainkan pisau. Ia mendengarnya, ya. Jelas. Tapi bersama kata maaf itu, ingatannya ikut terbuka, malam sunyinya dulu, kehilangan ketiga adiknya, tatapan dingin lelaki itu, kepercayaan yang patah, dan vonis yang menjadikannya seorang pembunuh di mata lelaki yang ia cintai.Indira menghapus pipinya dengan kasar. Ia membenci dirinya sendiri karena masih bereaksi. Karena masih sakit.Di dekat mobilnya, Bara berdiri kaku. Pandangannya mengikuti punggung Indira sampai perempuan itu menghilang di balik pintu rumah sakit. Tangannya mengepal lalu mengendur. Ia tak marah. Tak lagi. Yang tersisa hanya rasa bersalah yang menekan dadanya. Ia mengembuskan napas panjang, bicara pada dirinya sendiri
อ่านเพิ่มเติม