Tiba-tiba lampu ruangan berkedip.Lalu mati.Ruangan itu seketika gelap gulita, hanya disinari cahaya rembulan yang samar-samar menembus jendela tinggi. Di luar, suara rintikan hujan terdengar semakin deras, seolah menenggelamkan semua suara lain.Andrian dan Leon langsung bergerak, naluri mereka mengambil alih. Andrian maju ke depan Elena, sementara Leon, lebih cepat, bergerak menuju pintu.“Santai saja, ini pemadaman biasa,” ujar Andrian, suaranya sedikit tegang. “Tetap di sini.”Leon menarik kenop pintu, tapi pintunya terkunci dari luar. “Bukan pemadaman biasa. Semua terkunci. Pintu, jendela.”Suasana yang tadinya hanya tegang kini berubah mencekam.Elena berdiri. Amarah atas pengkhianatan sang teman-Lisa beradu dengan bahaya yang tiba-tiba mengintai. Dia tidak gentar, justru matanya semakin menyala.“Aku tidak bisa tinggal disini, aku harus pastikan sesuatu,” katanya, nadanya datar tapi mutlak.Andrian berbalik. “Tidak. Kamu tidak akan ke mana-mana.”“Kenapa? Mau menjebloskan aku
Terakhir Diperbarui : 2025-12-08 Baca selengkapnya