"Alina!!" Panggil Kaiden dari telepon dengan suara marah. Nolan menyahut, "apakah Alina melakukan kesalahan di kantor?" Tanya Nolan, walaupun sedikit menaruh curiga, tapi ia berusaha tetap menunjukkan sikap tenang. Tanpa di duga, telepon malah di matikan sepihak oleh Kaiden. Nolan menggenggam ponsel Alina dengan jari yang bergetar halus, matanya terpaku pada layar yang gelap dan terkunci. Hatinya bergejolak, sulit dijelaskan antara rasa curiga, takut, dan kecewa yang bercampur menjadi satu. Ia sudah mencoba membuka kunci ponsel itu berulang kali, namun setiap percobaan berakhir dengan kegagalan yang menambah beban di dadanya. Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka dan Alina melangkah keluar, wajahnya yang basah sedikit memerah, alisnya mengerut tajam ketika matanya menangkap suaminya memegang ponselnya. Dalam sekejap, Nolan membaca di balik tatapan itu—ada ketegangan yang tak bisa disembunyikan. "Kaiden barusan telepon, dia marah," suara Nolan membuat bulu kuduk Alina lang
Last Updated : 2025-12-28 Read more