Mag-log inAlina tahu, suaminya akan memeluknya. Ia yang melihat, keraguan dari kedua bola mata suaminya, langsung paham. "Sayang, aku mandi dulu ya. Aku sedang menstruasi, nggak tahu kenapa, bau badanku akhir-akhir ini berbeda." Ujar Alina dengan nada lembut. Ia terpaksa berbohong. Alina tahu, bau apa gang yang sekarang tercium di hidung suaminya. Hati Nolan menghangat, melihat senyuman istrinya, kecurigaannya pun memudar. "Baiklah, kamu mandi dulu!!" Ujar Nolan seraya mengusap kepala Alina, cuman ia merasa aneh dengan rambut istrinya yang terasa sedikit kaku dan ... Ia merasa rambut istrinya seperti terkena cairan pria. Nolan sebenarnya ingin menanyakan tentang jendela kamar yang dibiarkan terbuka semalaman, tapi ia mengurungkan niatnya. Di dunia ini, tidak ada seorang pun manusia yang terima kalau tuduh melakukan sesuatu hal yang tidak di lakukan. Takutnya, kalau sampai Alina tersinggung karena tuduhannya. Bagaimana pun juga, hubungannya dengan Alina baru saja membaik. Ia
Alina mendengar suara suaminya yang memanggil namanya. "Kenapa kamu nggak pergi dari sini?!" Kata Alina dengan nada panik, karena sekarang ini posisinya Kaiden malah memeluknya. Ia bangkit dari ranjang untuk mengganti piyamanya. Semua kancing piyama yang sebelumnya dia gunakan terlepas, gara-gara tarikan kasar Kaiden. "Aku masih mau satu ronde lagi, sepertinya kita harus bermain didepan Nolan." Kata Kaiden dengan senyuman licik. Alina menatap tajam ke arah Kaiden, kalau buka karena Kaiden yang sekarang ini memegang kartu ASnya. Ia mungkin memilih untuk memukul Kaiden. Tapi ... Hmmm. Alina menghembuskan napas kasar, matanya menyipit menatap wajah Kaiden yang begitu dekat dengannya. Setiap kali kemarahannya memuncak, Kaiden justru semakin bermain-main, seolah menikmati pertarungan kecil yang membuatnya semakin penasaran. Tubuh Alina bergetar menahan emosi yang naik turun, namun ia tahu melawan terus hanya akan memperpanjang permainan ini.Dengan langkah pelan, ia mendekat, lalu
Risma terdiam, wajahnya sangat panik. Awalnya Vino berniat untuk menunggu, sampai Risma merasa siap, tidak berniat untuk memaksanya. Tapi setelah mendapatkan pesan dari Rita tentang seorang pria di kampus yang terus mengejar Risma, rasa cemburu pun membakar Vino. Apalagi, Rita menjelaskan kalau pria itu teman masa kecil Risma. Bagaimana pun juga Risma sekarang itu istrinya, tidak ada salahnya dirinya meminta kewajiban Risma sebagai seorang istri sekarang. "Kenapa panik? Jangan-jangan kamu udah nggak segel!!" Kata Vino, ia sengaja memancing kata-kata agar istrinya terpancing. Mengingat watak Risma yang keras, dan sangat sulit di kendalikan, ditambah gadis itu sangat menyukai adrenalin. Jadi Vino tahu bagaimana cara memancing gadis itu. Wajah Risma memerah, ucapan Vino barusan terdengar biasa, tapi sebenarnya memiliki makna yang kasar, seakan Vino meragukan harga dirinya. Jadi wajah Risma memerah bukan hanya karena malu, tapi juga marah. Bahkan kedua tangan Risma juga terkepal.
"Kamu!!" Teriak Risma dengan kedua bola mata yang membulat tajam. "Sungguh, ini respon alami pria. Kalau nggak begini, kamu malah harus meragukan kejantananku." Ujar Vino panik mencari pembenaran. Ntah kenapa, Risma malah merasa kesal dan malu sendiri dengan milik Vino yang terlihat menonjol. "Keluar!!! Dasar nggak tahu malu!!" Teriak Risma, tapi wajahnya bukanya terlihat marah, malah terlihat malu. "Kamu yakin nyuruh aku keluar!! Oke aku bakal keluar ... " Ujar Vino seraya melangkah ke arah pintu kamarnya.Tiba-tiba ia berjalan kembali. "Aku lupa ini kamarku, kamu yang harusnya keluar ... ""Biarlah kamu keluar dengan baju terbuka seperti ini!!"Vino tersenyum miring, ia tahu Risma berwatak keras dan selalu mempertahankan harga dirinya. Ia mendorong kursi roda Risma ke arah pintu. Sementara Risma sendiri kedua bola matanya melotot tajam, ia tahu ucapan Vino barusan bukan main-main. Vino beneran akan mengeluarkannya dari dalam kamar. Sekuat tenaga Risma menggerakkan tangannya,
Air mata keluar dari pelupuk mata Risma. Sementara Vino hanya bisa menelan ludahnya yang kelu. "Aku nggak akan menyentuhmu jika kamu nggak mau. Aku nggak akan paksa kamu ... " Ujar Vino, walaupun sekarang ia ingin memaksa Risma. Tapi ia tidak ingin memberikan kesan buruk pada wanita itu. Mengingat pernikahan ini untuk selamanya, cepat atau lambat ia yakin cinta bakalan tumbuh diantara mereka. Jika sering bersama. "Sekarang Risma juga sudah jadi istriku. Aku juga nggak bakal ceraiin dia, jadi apa yang aku takutkan sekarang!" Gumam Vino dalam hati, guna menekan rasa ragu dan sakit hati yang memulai menggerogotinya. Vino memang benar-benar merasa takut kalau sampai Risma menghilang dari hidupnya lagi. Air mata yang sebelumnya berjatuhan dari kedua pelupuk mata Risma pun berhenti mengalir, ntah kenapa setelah statusnya sah menjadi istri Vino? Risma merasa, kalau cara pandangannya pada Vino sekarang ini berbeda. Vino tidak seburuk dan sebajingan yang ia kira. Ri
Kembali pada malam sebelumnya di depan kantor KUA. Vino menatap punggung Kaiden yang perlahan menghilang di antara kerumunan malam. Matanya lalu berpaling ke arah Risma, yang duduk lemah di kursi roda, wajahnya pucat tertutup bayang-bayang luka dan kelelahan. Udara dingin malam itu seolah menambah berat beban di dada Vino. "Walaupun pernikahan kita dadakan dan diadakan di pukul dua pagi, tapi pernikahan kita itu nyata," ucap Vino lirih dengan suara penuh harap, mencoba menanamkan keyakinan di tengah keraguan yang menggelayuti hatinya. Risma terdiam, bibirnya bergetar ingin membalas, namun suntikan yang ibunya berikan baru saja mengunci saraf di tubuhnya. Matanya yang berkaca-kaca memancarkan kebencian dan ketakutan yang bertarung dalam diam, tak mampu menolak pelukan Vino yang mengangkatnya ke dalam mobil. Setelah duduk di kursi belakang, Vino menundukkan kepala dan menciumi wajah Risma dengan lembut, seolah ingin menghapus segala luka yang tersembunyi di balik tatapan dinginny







