Leo mematung sejenak merasakan pelukan Elisa, dadanya terasa basah, wanita itu menangis. Namun, Leo balas memeluknya erat. Elisa sendiri tidak bicara, seolah ia hanya butuh ditenangkan bukan didengarkan. Entah mengapa bersandar di dada bidang Leo selalu menenangkan, mendengar debaran jantungnya, merasakan aroma maskulinnya. Elisa menyukai semuanya. "Bagaimana kau bisa menemukan aku, Leo? Aku ...." "Kau sudah berencana kabur?" sela Leo. "Bahkan kau mematikan ponselmu. Kau tidak tahu betapa cemasnya aku, Elisa." Elisa melepaskan pelukannya dan menatap Leo lekat-lekat. "Leo ...." "Sudah berkali-kali kau membuatku cemas, apa kau sadar itu? Sampai kapan kau akan melakukannya, Elisa? Jantungku bisa berhenti berdetak setiap kali mencemaskanmu." Air mata Elisa makin deras, bukan karena sedih, tapi karena terlalu bahagia ada pria yang mencemaskannya seperti ini. "Maafkan aku! Maafkan aku, Leo. Aku ... lalu bagaimana kau bisa menemukanku di sini?" Leo tersenyum tipis, bersikap seolah se
Read more