LOGINPintu ruang rapat tertutup setelah Eddy dan Fabian diseret keluar.Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang bicara. Suasana yang tadi begitu panas mendadak berubah menjadi sunyi.Elisa duduk diam dengan tangan yang masih gemetar. Walaupun ia ingin lepas dari Eddy setelah diselingkuhi dan dimanfaatkan, Elisa tidak pernah menyangka Eddy bisa melakukan hal sebesar ini. Selama dua tahun memanipulasi semuanya dan menggelapkan dana perusahaan itu bukan kejahatan biasa. Bahkan Elisa ingin sekali menampar Eddy tadi, tapi tubuhnya kaku. Peserta rapat lain juga diam dan saling melirik, tidak ada yang berani bicara sama sekali. Sementara Darmawan masih berdiri dengan wajah yang merah padam karena amarahnya. Napasnya mulai tersengal. Satu tangannya memegang dadanya sambil mengentakkan tongkatnya keras ke lantai. "Memalukan! Benar-benar memalukan!"Tidak ada yang berani menyahut."Ayah ...," panggil Arman pelan. "Tidak usah bicara!" Darmawan memotongnya, sebelum dadanya makin berdenyu
"Bukan! Bukan!" Eddy langsung berteriak keras. "Semuanya bohong!" "Itu benar!" sahut salah seorang manager yang membuka laporannya. "Di laporan ini memang tertulis nama rekening perantara itu atas nama CV Chandra Perkasa. Nama pemilik CV itu adalah Yuliana Chandra, persis seperti yang Leo katakan!" Semua tatapan mengarah pada Leo dan Eddy sekarang. Sedangkan Arman tidak bisa menahan amarahnya dan menggebrak mejanya. Brak!Semua orang tersentak kaget mendengarnya. "Apa maksudnya ini, Eddy? Yuliana Chandra itu benar sepupumu, hah? Kau mencuri dari perusahaanmu sendiri?" "Itu bohong, Ayah! Itu bohong! Leo merekayasa semuanya! Aku bersumpah, Ayah! Aku ...." "Ada orang IT di sini," sela Wira sambil melirik Eddy tajam. "Kita bisa langsung meminta mereka memeriksa mana yang asli dan mana yang palsu." Eddy makin tegang, sedangkan orang IT langsung memeriksa laporan milik Leo dan Eddy. "Ayah, ini tidak seperti yang Leo katakan! Ini tidak ada hubungannya dengan aku maupun Fabian!" "Leb
Ruangan masih hening. Mata Eddy dan Fabian pun membelalak sempurna, sementara Wira masih menatap layar dengan wajah serius.Suara-suara peserta rapat kembali terdengar, bukan hanya berbisik, tapi makin lama makin keras. "Komputer finance? Bagaimana bisa? Leo bukan orang finance." Wira sendiri langsung melirik Fabian. Sebagai asisten kepercayaan Darmawan yang mengerjakan semuanya tanpa cela, Wira sangat teliti, cakap, dan tanggap. Ia langsung curiga pada seseorang yang jelas merupakan orang finance yang sangat dekat dengan Eddy. "Apa mungkin ada orang finance yang berkomplot dengan Leo atau siapa pun itu yang sudah menggelapkan dana perusahaan?" seru Wira tajam. Fabian menelan saliva merasakan lirikan Wira. Seharusnya ia tidak perlu menjawab, tapi saking tegangnya, Fabian malah menjawab dengan gugup. "Aku ... aku tidak tahu, Pak," jawab Fabian gelagapan. "Kau yakin tidak tahu?" tanya Wira lagi yang membuat Fabian makin tegang. "Apa maksudnya ini?" bentak Arman tajam. "Sebenarnya
Eddy berhenti bicara sejenak, tapi semua bisa melihat username Leo di sana. Sontak tatapan mengarah pada Leo. Suasana langsung ribut. "Leo yang melakukannya? Leo mengubah data proyek dan melakukan penggelapan dana?" bisik orang-orang di sana. "Jadi selama enam bulan terakhir ini, kau sudah mencuri dari perusahaan ini, Leo?" geram salah seorang manager lainnya. "Nilainya bahkan mencapai puluhan miliar!" Ruangan langsung gaduh. Beberapa manager saling berbisik. Bahkan Arman terlihat mengernyit.Darmawan yang duduk di ujung meja menatap Leo dengan tajam."Kau melakukan semua ini? Kau yang mencuri dari perusahaan ini?" Darmawan mengentakkan tongkatnya."Astaga, ternyata kau memang pencuri! Bagaimana Eddy bisa mempunyai asisten pencuri sepertimu?" celetuk Hilda keras. Susan juga tertawa kesal menatap Leo yang jauh dari bayangannya, tapi ia makin puas melihat pria yang diandalkan Elisa ternyata hanya sampah. Elisa sendiri langsung menggeleng panik. Ia sangat percaya pada Leo. "Itu tida
Suasana ruang rapat masih begitu hening saat akhirnya Eddy masuk ke sana. Emosi Darmawan sendiri langsung terlecut melihat cucu menantu yang brengsek itu. Buk!Darmawan mengentakkan tongkatnya di depan lebih dari 20 orang yang hadir di ruangan itu. "Ini hari pertama aku memimpin kembali di perusahaan ini. Kalian semua tahu apa yang terjadi di perusahaan beberapa hari ini kan? Ada gosip perselingkuhan Pak Eddy, tapi sudah berhasil dikendalikan." "Meskipun begitu, saham kita tetap anjlok. Kepercayaan publik tidak bisa begitu cepat dipulihkan. Dan saat kita ingin memperbaiki semuanya, muncul gosip baru yang kembali menyangkut Pak Eddy! Jadi siapa yang mau menjelaskan ini duluan, hah?" buka Darmawan dengan penuh emosi. Seorang manager pun membuka investigasi di sana. "Proyek Wijaya Selatan adalah proyek yang sudah bekerja sama dengan kita selama 8 bulan, tapi baru resmi berjalan 6 bulan. Awalnya semuanya berjalan lancar sampai 4 bulan terakhir ini, pihak klien terus mengeluh tentang
Pagi itu, lagi-lagi Wijaya Group diterpa gosip. Setelah melakukan klarifikasi, semua orang berharap kondisi kembali normal, tapi malah makin menggila. Di lantai operasional, orang-orang saling menunjuk layar laporan."Proyek Wijaya Selatan itu katanya bermasalah." "Benar, perusahaan dituntut karena menggunakan bahan yang tidak sesuai dengan kontrak. Mirip seperti proyek Amerta." "Malahan katanya baru-baru ini, salah satu sisi bangunan ambruk." "Ya ampun, siapa pimpinan proyeknya?" "Pak Eddy langsung yang memimpin proyeknya." Suara ribut mulai jadi berbisik setelah mendengar nama itu. Beberapa karyawan sudah merasakan bagaimana Eddy yang agak semena-mena, seolah menjadi pimpinan paling tinggi, padahal bukan. Mereka kebanyakan tidak berani mencari masalah dengan Eddy, tapi sebagian lagi tahu kalau kebijakan Eddy seringkali terasa janggal. "Kemarin selingkuh, sekarang kena masalah lagi. Aku masih yakin dia benar-benar selingkuh." "Kasihan Bu Elisa, aku sering melihatnya sedih ak
"Sial! Susan benar-benar sial! Berapa harga kalung sialan itu? Pasti mahal sekali! Sial!" Eddy tidak berhenti mengumpat saat menyetir mobilnya pulang malam itu. Bahkan ia memukul setirnya dengan penuh rasa kesal. Niat hati melepaskan penatnya bersama Susan, tapi lega dari satu masalah, malah datan
Arman menggelengkan kepalanya untuk mengusir ingatan dalam otaknya. Itu sudah berlalu sangat lama dan ia yakin, semuanya sudah terkubur begitu dalam. Tidak ada yang perlu diingat lagi. Dan kalau ada nama yang mirip, semua hanya kebetulan belaka. Arman masih mengembuskan napas panjangnya saat pintu
Seketika ruangan itu hening. Tatapan Arman membeku.Untuk sesaat, pria paruh baya itu seperti kehilangan kemampuan bicara. Nama itu seperti palu yang menghantam kepalanya begitu keras.Leo sendiri berdiri tenang di sana sambil memperhatikan perubahan ekspresi Arman dengan sangat jelas. Dan entah men
"Jadi kau menginap sekamar dengannya di sana, Bos?" Leo akhirnya menelepon Gary untuk mengalihkan hasratnya."Ya, Gary, tapi apa kau sudah mengirim informasi tentang Hijau Semesta padaku?" "Sudah, Bos. Ada di email. Pak Ronald itu pengusaha yang sangat keras, banyak yang mengeluh tentangnya, tapi







