로그인"Kami pulang dulu, Pak Leo, Elisa!" Pagi itu, Handi dan Daisy akhirnya berpamitan pindah dari apartemen. "Sekali lagi terima kasih atas bantuannya selama ini. Jangan khawatir karena aku akan tetap membantu mengawal kasus ini sampai selesai.""Terima kasih untuk semuanya juga, Pak Handi. Kalau ada hal apa pun yang kau butuhkan, jangan ragu menghubungi kami." "Tentu saja, Pak Leo.""Terima kasih banyak, Pak Handi," seru Elisa juga. "Aku masih tidak enak karena pernah sinis pada Anda. Maafkan aku sempat tidak percaya dan tidak menyukai Anda. Aku sangat bodoh waktu itu." "Tidak ada yang bodoh, Elisa. Semua orang di posisimu akan melakukan yang sama. Itu wajar. Justru aku yang sempat tidak enak hati karena harus membuat hatimu sakit karena kenyataan ini." "Anda sudah melakukan hal yang benar, Pak Handi. Dan aku senang mengenal Anda. Kuharap setelah ini, kita masih bisa tetap berteman. Aku juga suka sekali pada Daisy." "Tentu kita akan tetap sering bertemu, Sayang. Aku sudah menyiapka
"Selamat makan semuanya!" Leo dan Elisa berkumpul di meja makan besar siang itu bersama semua orang. Mereka merayakan kemenangan, merayakan hari pertama Elisa dan Leo keluar dari rumah sakit, serta hari terakhir Handi dan Daisy tinggal di apartemen. "Selamat makan!" seru Gary yang langsung makan dengan lahap. Elisa tersenyum menatap semua orang, keluarga barunya yang ia dapatkan secara dadakan, padahal Elisa baru mengenal mereka beberapa bulan terakhir. Ini aneh sekali bagaimana keluarga sendiri yang sudah bersama kita sejak kecil malah terasa asing, tapi orang asing yang baru masuk ke dalam hidup kita malah terasa seperti keluarga. Tuhan baik, sungguh Tuhan baik karena setelah mengalami berbagai hal sulit dalam keluarganya, Elisa diberi keluarga baru yang luar biasa. "Kau tidak makan, Sayang? Ayolah, bayi kita sudah lapar," seru Leo sambil mengusap lembut perut besar Elisa. Elisa tersenyum dan mengangguk. Perutnya memang sudah berbunyi sejak tadi karena ia hanya sarapan sediki
"Selamat datang di rumah!" Elisa dan Leo akhirnya tiba kembali ke apartemen mereka, apartemen yang sudah mereka tinggalkan sejak kejadian itu. Sebenarnya Elisa punya banyak agenda setelah keluar dari rumah sakit. Semua menyangkut keluarga Wijaya, termasuk mengurus jasad Darmawan yang akhirnya dikremasi tanpa kehadiran Elisa. Kondisi Elisa tidak memungkinkan waktu itu. Karena itu, Elisa menunjuk Handi dan Albert untuk mengatur semuanya. "Ya ampun, mendadak meriah sekali di rumah," seru Elisa. Terlihat Handi, Daisy, Rara, dan Albert sudah ada di dalam apartemen. Banyak balon, confeti, dan aneka makanan sudah tersaji di atas meja, makanan yang membuat perut Elisa berbunyi. "Sungguh, aku tidak sedang ulang tahun," imbuh Elisa lagi. "Anda memang tidak sedang berulang tahun, Bu Elisa. Tapi semua orang bahagia sekali melihat Anda dan Pak Leo akhirnya pulang dari rumah sakit," seru Daisy antusias. "Terima kasih, Daisy. Terima kasih, Pak Handi. Terima kasih, Pak Albert." "Syukur Anda
Elisa terus melirik Leo saat mereka melangkah bersama keluar dari kamar Rahmat. Elisa bangga, sangat bangga pada Leo yang berhati sangat besar. Leo yang merasakan tatapan itu langsung balas melirik. "Apa aku begitu tampan sampai kau terus menatapku?" Elisa tersenyum. "Hatimu membuatmu terlihat makin tampan." Leo menaikkan alisnya. "Memangnya kau pernah melihat hatiku?" "Itu terpancar dari wajahmu, Leo." Elisa melangkah sambil menatap Leo manja. Leo pun balas menatap dan mereka saling melempar senyum penuh cinta sampai Gary tidak tahan lagi. Gary dan Bik Imah melangkah di belakang mereka sambil membawa barang. "Uhuk! Uhuk! Ada suster tidur di depan, tolong perhatikan jalannya!" Elisa dan Leo tersentak kaget dan langsung menatap ke arah depan. Elisa pun mengulum senyumnya malu sendiri. Tapi Leo tidak tahu malu. "Ah, aku takut tersandung suster tidur, Sayang. Sepertinya punggungku masih sakit, aku harus dipapah," seru Leo dengan sengaja. Elisa makin tergelak dan langsung memeluk
"Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak Leo!" Dua hari kembali berlalu dan Leo akhirnya diijinkan pulang ke rumah. Leo bernapas lega karena ia sudah tidak sabar lagi tidur di rumahnya sendiri. Sebelum pulang, ia pun menjenguk Nila yang masih harus mendapat perawatan intensif karena penyakit komplikasi yang dideritanya. Rahmat dan Nila yang melihat Leo pun tidak berhenti berterima kasih karena Leo tidak hanya memberikan kamar terbaik, tapi juga perawatan terbaik yang tidak akan sanggup Rahmat bayar. "Bekerja seumur hidup saja tidak akan bisa membayar hutangku pada Anda, Pak Leo," seru Rahmat lagi. "Istriku sangat berharga. Katakan apa saja yang bisa kulakukan untuk melunasi semuanya, aku pasti akan melakukannya." Leo menepuk bahu Rahmat. "Tidak perlu memikirkannya, Pak Rahmat. Yang paling penting tugasmu adalah merawat dan menemani istrimu, memberinya rasa aman dan tenang yang selama ini tidak pernah dia rasakan. Buat dia bahagia. Melihat kalian bahagia, itu sudah cukup untukku.
Malam itu menjadi momen yang sangat manis untuk Elisa dan Leo. Elisa memang sudah diijinkan pulang, tapi Elisa menolak pulang dan ingin menemani Leo di rumah sakit. Leo sendiri mengambil kamar VIP sehingga ada ranjang khusus untuk orang yang menginap. Selain itu, Gary juga menginap sehingga Elisa tidak perlu kesulitan bangun hanya untuk melayani Leo. "Pulanglah, Elisa! Kau harus istirahat yang benar karena kau sedang hamil," seru Leo saat Elisa sudah sibuk merapikan ranjangnya. "Aku tidak mau, aku mau tidur di sini. Di rumah sendirian akan membuat aku kepikiran." "Kau tidak sendiri, Elisa. Bibik dan Rara menemanimu di apartemen," sahut Bik Imah. "Aku tahu, Bik. Tapi biarkan aku menemani Leo di sini." Awalnya Leo menolak, tapi Elisa memaksa hingga akhirnya Leo mengijinkan Elisa menginap. "Ah, baiklah, jadi karena ranjangnya hanya ada satu, Bu Elisa tidur di ranjang saja dan aku akan tidur di sofa," seru Gary yang memang selalu menginap sejak Leo opname. Leo mengangguk. "Sebenar
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya







