“Tak perlu khawatir,” bisik Max tiba-tiba. Aku terlonjak kecil. Suara itu muncul begitu dekat di telingaku, nyaris seperti hembusan napas yang tidak diundang. Aku yang sejak tadi masih berdiri di tempat yang sama, berusaha menyusun kembali pikiranku setelah menjelaskan konsep panjang lebar, bahkan tidak menyadari kapan dia sudah berada di sampingku. Lamunanku buyar seketika. Beberapa langkah dari kami, Tuan Henry dan Nyonya Miranda sedang berbincang dengan Sam. Obrolan mereka tentang tamu terdengar samar. “Selama aku di sini, tak ada yang bisa menekanmu,” lanjut Max pelan. Aku menoleh padanya. Wajahnya kembali terlihat santai seperti biasa. Aku menunduk sedikit. “Terima kasih,” ucapku pelan. “Apa?” Aku mengangkat kepala, sedikit mengernyit. “Terima kasih.” “Apa?” ulangnya lagi, kali ini dengan ekspresi pura-pura tidak mengerti. Aku menatapnya kesal. “Terima kasih,” kataku lagi, sedikit lebih keras. Max masih belum bereaksi. Dia malah memiringkan kepala, mendekat
Read more