Elzen menyandarkan siku kirinya di pagar balkon besi tempa yang dingin. Sambil menatap pendar lampu kota Lyon yang mulai menyala satu per satu, ia menempelkan ponsel di telinga.Di seberang sana, terdengar suara frustrasi dari kakaknya, Rezon."Jadi, dia mengira kau masih mengharapkan Celine? Dan sekarang, dia ingin menyerahkanmu padanya?"Elzen terkekeh, suara tawa rendahnya tertiup angin senja. "Kak, kau ini Kepala Rumah Sakit, tapi urusan wanita kau seperti anak koas tingkat pertama.""Diamlah, Elzen. Katakan saja apa yang harus kulakukan. Izora merawatku dengan sabar saat tanganku sakit, tapi sekarang dia berencana meninggalkan aku," keluh Rezon, layaknya remaja yang patah hati.Elzen tersenyum simpul, jemarinya mengetuk-ngetuk pagar. "Sederhana. Wanita seperti Izora tidak butuh kata-kata manis, rayuan, maupun bunga. Dia butuh kejujuran dan kegigihan,” pungkas Elzen.“Datangi rumah Izora. Tunjukkan luka di tanganmu itu dengan ekspresi dramatis, seolah perbannya akan lepas karena k
Read more