Home / Romansa / Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa / Kau Tidak Penting Baginya

Share

Kau Tidak Penting Baginya

Author: Risca Amelia
last update Last Updated: 2026-03-05 19:23:21

Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi Rezon. Ia berdiri di dekat jendela besar, dadanya naik turun menahan amarah yang masih bergejolak.

Sesaat kemudian, suara sekretarisnya terdengar dari interkom.

"Dokter, menurut perawat asisten spesialis yang mendampingi Dokter Celine, Beliau baru saja menyelesaikan jam praktek. Dokter Celine sudah turun, sepertinya berencana untuk langsung pulang."

Mendengar itu, Rezon lekas menutup telepon tanpa menjawab. Dengan wajah sekeras batu, ia masuk ke dalam l
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Khaqt Istia
trmksh.. tapi mau lanjut dan di perbanyak tulisanx.. mantap
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kau Tidak Penting Baginya

    Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi Rezon. Ia berdiri di dekat jendela besar, dadanya naik turun menahan amarah yang masih bergejolak. Sesaat kemudian, suara sekretarisnya terdengar dari interkom."Dokter, menurut perawat asisten spesialis yang mendampingi Dokter Celine, Beliau baru saja menyelesaikan jam praktek. Dokter Celine sudah turun, sepertinya berencana untuk langsung pulang."Mendengar itu, Rezon lekas menutup telepon tanpa menjawab. Dengan wajah sekeras batu, ia masuk ke dalam lift, tak menghiraukan tatapan ngeri dari para staf.Ketika pintu lift terbuka di lantai basement, Rezon setengah berlari menuju area parkir khusus dokter. Ia tidak lagi memedulikan rasa sakit fisik yang masih mendera. Mata Rezon menyapu jajaran mobil mewah di sana, dan akhirnya ia menangkap sosok yang familiar.Di ujung barisan, Celine tampak anggun dengan tas branded yang tersampir di bahu. Ia sedang memegang gagang pintu mobilnya, bersiap untuk masuk."Celine, tunggu!" seru Rezon, suaranya me

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kemarahan Tak Terbendung

    Langkah kaki Rezon menggema nyaring di lantai lobi Rumah Sakit Limantara Medika. Aura kepemimpinan yang biasanya berwibawa, kini berubah menjadi badai yang siap menghantam siapa saja. Para petugas keamanan dan staf administrasi di barisan depan terlonjak kaget. Mereka saling berbisik, tertegun melihat sang Kepala Rumah Sakit muncul tiba-tiba.Wajah Rezon masih pucat, dengan balutan perban tebal yang masih membungkus telapak tangannya. Namun, sorot matanya tampak menyala."Dokter Rezon? Bukankah Anda sedang cuti?" sapa seorang perawat senior, sambil memberikan salam hormat.Rezon mengangguk sekilas tanpa menjawab. Fokusnya hanya satu: lantai paling atas. Dengan tangan kirinya, ia menekan tombol lift khusus petinggi rumah sakit. Tak berselang lama, pintu lift berdenting terbuka. Sekretaris pribadi Rezon, yang sedang merapikan jadwal, hampir menjatuhkan tablet di tangannya kala melihat sang atasan."Dokter, Anda... Anda sudah kembali ke rumah sakit?" tanyanya terbata-bata."Panggilkan

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tunggu Aku, Izora

    Apartemen Rezon kini terasa seperti gua yang dingin dan hampa.Rezon menyandarkan punggungnya pada sofa, menatap langit-langit ruangan yang biasanya ia anggap sebagai tempat istirahat paling tenang. Akan tetapi, sejak kepergian Izora pagi tadi, keheningan itu justru terasa mencekik. Hanya ada suara denting jam dan langkah pelan perawat serta pelayan yang diutus oleh Dastan.Ponsel di genggaman Rezon terasa berat. Berkali-kali jemarinya membuka aplikasi pesan, mengetikkan beberapa kalimat, lalu menghapusnya kembali. Sungguh, ia merindukan Izora, merindukan omelan gadis itu, sentuhan tangannya yang telaten saat mengganti perban. Bahkan, ia merindukan tatapan tajamnya yang selalu berusaha menjaga jarak. Rasanya, ia ingin menelepon Izora sekarang juga. Namun, Rezon takut jika Izora akan merasa terganggu atau marah karena ia melanggar kesepakatan."Dokter, Anda perlu sesuatu?" tanya sang perawat.Sambil menegakkan posisi duduknya, sebuah ide muncul di benak Rezon. "Bantu saya sambungkan

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Cukup Sampai Di Sini

    Langkah kaki Izora terasa berat, saat ia kembali memasuki area Instalasi Gawat Darurat. Bau antiseptik yang biasanya membangkitkan semangat, kini terasa menyesakkan di dada.Izora menghampiri Bayu, rekan dokter magangnya, yang sedang sibuk memeriksa pasien penderita demam berdarah bersama seorang perawat. "Bayu, aku ingin bicara sebentar," panggil Izora dengan suara parau.Bayu menoleh, alisnya bertaut melihat ekspresi Izora yang tidak biasa. "Eh, Izora. Syukurlah kau sudah kembali. Ada pasien rujukan kecelakaan di bilik tiga, bisa bantu aku?"Izora menggeleng pelan, sebuah senyum pahit terukir di bibirnya. "Maaf, Bayu. Mulai hari ini dan mungkin seterusnya, aku tidak bisa bertugas di IGD. Aku tidak bisa membantu kalian di sini."Ucapan Izora membuat Bayu terkesiap. Spontan, pria itu memegang lengan Izora. "Maksudmu apa? Kau akan cuti panjang?”"Bukan. Status magangku dinonaktifkan dari rumah sakit ini oleh Dokter Handoko," jawab Izora lugas. Kalimat tersebut meluncur seperti belati

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Fitnah yang Menghancurkan

    Hati Izora terasa lapang dan tenang, saat ia memarkirkan sepeda motornya di pelataran parkir rumah sakit. Izora melepas helm dengan gerakan perlahan, sengaja membiarkan angin menerpa wajahnya.Pagi ini, saat ia meninggalkan apartemen Rezon, suasana di sana jauh lebih terkendali. Ia sempat bertemu seorang perawat berseragam dan dua pelayan yang datang membawa bahan makanan. Izora yakin itu adalah utusan dari Dastan Limantara, kakak kandung Rezon. Kehadiran mereka bak jawaban doa bagi Izora. Dengan adanya tenaga profesional yang merawat dan melayani kebutuhan Rezon, maka tugas "daruratnya" telah usai.Izora menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa kegelisahan yang menggelayuti benaknya. Bayangan ketika bibir Rezon menyentuh miliknya masih terus berputar seperti kaset rusak. Tidak, cukup sampai di sini. Izora memutuskan bahwa sepulang kerja nanti, ia tak perlu lagi menginjakkan kaki di apartemen Rezon. Bagaimanapun, ia harus menjaga jarak. Ciuman itu adalah kesalahan, sebuah a

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Luka yang Diwariskan

    Di dalam kamar yang temaram, Moza membimbing Reva menuju tepi ranjang. Suasana sunyi apartemen, seolah menjadi pelindung bagi dua wanita ini dari bisingnya dunia luar. Moza mendudukkan Reva dengan hati-hati. Sementara Reva menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Dengan ujung piyamanya, ia menyeka sisa air mata yang mengering di pipi."Keju Mozarella... maaf ya, aku jadi cengeng begini," ucap Reva dengan suara serak. Ia mencoba menyelipkan sedikit candaan, lewat nama panggilan kesayangan mereka.Moza tidak tertawa. Ia justru meraih kedua pipi Reva, menangkupnya dengan telapak tangan yang hangat."Tidak apa-apa, Va. Kau memang seorang wartawan investigasi yang tangguh. Tapi, kau juga seorang wanita biasa. Siapapun pasti akan gemetar jika mengalami penculikan dan pelecehan."Reva menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan. "Sejak memilih profesi ini, aku sudah tahu risikonya, Moza. Aku tidak takut mati, tapi aku paling takut kehilangan martabatku. Kau tahu kan, alasan utam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status