Masuk“Seseorang?” Irsa mengernyitkan dahi, tatapannya penuh tanya.Dennis menatap mamanya lurus.“Calon istriku.”Deg! Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi dampaknya langsung terasa.“Mama nggak setuju!” potong Irsa cepat, tanpa memberi ruang sedikit pun.Suasana langsung menegang. Dennis menghela napas panjang, berusaha tetap tenang meski jelas ia sudah menduga reaksi itu.“Ma,” suaranya lebih dalam sekarang, penuh keseriusan, “aku sudah dewasa. Sangat dewasa. Biarkan aku memilih sendiri.”Ia menatap mamanya tanpa menghindar. Namun Irsa tetap bergeming. Wajahnya mengeras, jelas tidak ingin kalah. Dan sebelum perdebatan itu semakin memanas,“Ada apa ini?” Suara berat itu datang dari arah belakang.Pak Handika,ia berjalan masuk bersama Alvin, matanya bergantian menatap Dennis dan Irsa, mencoba membaca situasi yang terasa tidak biasa.Ruangan itu kembali hening sejenak.Namun Dennis tidak ingin berlama-lama di situasi itu. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke Alvin.“Alvin,” katanya, nada
“Aku takut bertemu dengan orang tuamu, Mas.”Suara Saras pelan, hampir seperti bisikan yang terbawa angin. Tangannya saling menggenggam, mencoba menenangkan kegelisahan yang sejak tadi tak kunjung reda.Hari ini ia akan melangkah lebih jauh ke dalam kehidupan Dennis. Namun alih-alih tenang, dadanya justru dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang terus berputar di kepalanya.“Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?” lanjutnya lirih.Bayangan masa lalu kembali muncul, penolakan, luka, dan rasa tidak diterima yang pernah ia rasakan.Ia menoleh, lalu tersenyum lembut. Senyum yang selalu berhasil meruntuhkan kegelisahan Saras, sedikit demi sedikit.“Nggak apa-apa, kan ada aku,” katanya tenang.Ia meraih tangan Saras, menggenggamnya hangat.Saras menatapnya, hatinya perlahan menghangat. Degup jantungnya masih cepat, tapi kini tidak lagi sepenuhnya karena takut.Ada rasa aman yang perlahan tumbuh.“Lagipula kamu kan sudah kenal Papa,” ucap Dennis santai, berusaha menenangkan.Saras langsung
Hari itu terasa berbeda. Saras tidak tahu pasti kenapa sejak pagi hatinya terasa lebih ringan. Seolah ada beban yang perlahan terangkat, meski ia belum benar-benar tahu jawabannya. Sampai akhirnya,Gavin datang membawa kabar itu.“Mami sudah membatalkan gugatannya.”Kalimat sederhana itu, seketika mengubah segalanya.Saras terdiam, beberapa detik. Seolah otaknya butuh waktu untuk mencerna apa yang baru saja ia dengar.“Benarkah?” suaranya hampir berbisik, takut kalau itu hanya harapan yang terlalu indah.Gavin mengangguk pelan.“Iya. Gugatan itu sudah ditarik.”Dan di detik itu dunia Saras yang sempat terasa sempit, kembali terbuka. Napasnya terlepas panjang, bahunya yang sejak lama tegang kini perlahan mengendur. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena takut. Melainkan, lega.Ia menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menahan tangis yang akhirnya tetap jatuh juga. Althaf, anaknya, dunianya. Akhirnya tetap bersamanya.Tanpa sadar, Saras menoleh ke arah Althaf yang sedang
Robin menarik napas panjang, lalu menatap Saras dengan penuh keyakinan.“Ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu.”Saras mengernyit pelan, jantungnya kembali berdebar, bukan karena takut, tapi karena menunggu.“Gugatan itu,” Robin berhenti sejenak, memastikan setiap kata yang ia ucapkan terdengar jelas, “cacat hukum.”Saras membeku sesaat. Ia tidak langsung mengerti, tapi dari cara Robin mengatakannya, ia tahu itu sesuatu yang penting.“Maksud Papi?” tanyanya pelan.Robin melanjutkan dengan tenang, namun penuh kepastian.“Secara hukum, gugatan itu lemah. Tidak punya dasar yang cukup kuat untuk mengambil hak asuh dari seorang ibu yang masih mampu dan layak merawat anaknya.”Saras menatapnya tak percaya.Seolah beban yang selama ini ia pikul, perlahan retak.“Pengacara yang Papi tunjuk sudah memeriksa semuanya,” lanjut Robin. “Dan kemungkinan besar, gugatan itu tidak akan diterima oleh pengadilan.”Deg! Kali ini bukan rasa takut yang memenuhi dada Saras. Tapi harapan. Air matanya kembali
“Saras, ada yang ingin Papi bicarakan sama kamu.”Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dunia Saras seakan berhenti sejenak. Jantungnya berdegup lebih keras. Tidak nyaman dan tidak tenang.Ada sesuatu dalam nada suara Robin yang membuatnya bersiap, untuk kemungkinan terburuk.Ia menatap pria itu, berusaha tetap terlihat tenang, meski di dalam dirinya rasa takut mulai merayap perlahan.“Papi sudah tahu kalau Mami mengajukan hak asuh Althaf,” lanjut Robin pelan.Deg! Seperti ada sesuatu yang jatuh tepat di dadanya.“Papi minta maaf. Papi tahu itu pasti sangat menyakitimu.”Robin terdiam sejenak. Wajahnya menyiratkan penyesalan yang dalam, bukan hanya atas situasi ini, tapi mungkin juga atas banyak hal yang tidak pernah ia cegah sebelumnya.Saras tidak langsung menjawab.Detak jantungnya semakin cepat. Tangannya terasa dingin. Ia bahkan hampir tidak berani menebak apa kalimat berikutnya.“Kamu jangan khawatir,” suara Robin kembali terdengar, kali ini lebih tegas. “Gugatan itu t
“Bun, ada orang,” suara kecil Althaf memecah keheningan siang itu, matanya menatap ke arah pintu yang diketuk pelan namun berulang.Saras yang sedang di dapur langsung menoleh. “Biar Bunda yang buka,” katanya lembut, meski ada sedikit rasa heran di hatinya, siapa yang datang tanpa kabar?Langkahnya cepat, tapi entah kenapa dadanya terasa sedikit berdebar. Tangannya meraih gagang pintu, lalu membukanya perlahan.Dan seketika tubuhnya membeku.“Assalamualaikum, Saras,” sapa seorang laki-laki setengah baya dengan suara tenang, namun penuh makna.Saras terpaku. Matanya membesar, napasnya tertahan. Wajah itu tidak asing. Sangat tidak asing.“P-Papi?” gumamnya nyaris tak terdengar.Robin, papinya Gavin, sosok yang sudah lama tidak ia temui, bahkan mungkin tidak pernah ia bayangkan akan berdiri di depan pintunya seperti ini.“Bun…” Althaf yang sudah berdiri di sampingnya menarik pelan tangan Saras, seolah menyadarkannya dari keterkejutan yang membekukan.“Wa… waalaikumsalam,” jawab Saras te







