Bayangan itu semakin mendekat, siluetnya menyatu dengan gelapnya koridor. Aku sempat menahan napas, jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Dan saat cahaya temaram mengenai wajah itu, aku melihatnya dengan jelas Bela. Dengan langkah mantap, ia mendekat, bibirnya melengkung sinis seolah kedatangannya sudah direncanakan sejak tadi. “Kamu tahu kan, kalau Mas Bara lebih memilih aku,” katanya tanpa basa-basi. Aku terdiam. Bukan karena takut. Aku hanya… terlalu letih untuk kembali terjebak dalam permainan kata yang selalu ia mulai.Ketenangan adalah salah satu tamengku saat ini. Bela makin mendekat, wajahnya kini tinggal beberapa jengkal dari wajahku. “Kamu tahu, setiap malam dia mendamba ku. Dan kamu juga tahu, Bu Indah ibu mertuamu lebih menginginkanku, bukan kamu.” Aku tetap memilih diam. Bukan karena perkataannya benar, tapi karena aku tidak ingin memberinya apa yang ia cari,emosiku. Namun diam ku rupanya membuatnya semakin geram. Nada suaranya meninggi, matanya berkilat penuh kem
Last Updated : 2025-11-21 Read more